
Dengan senyum bahagia Rudi menggendong kedua cucunya sekaligus memasuki rumah, Sigit yang melihat tingkah mertuanya itu ikut bahagia, setidaknya kehadiran kedua anak itu bisa sedikit mengobati luka bapaknya.
" Bapak senang sekali dek." Ucap Sigit.
" Iya Mas."
" Kalo dipikir-pikir mereka ini seperti anak kembar lho, lahirnya hampir barengan."
Laras tersenyum tipis
" Mau kalian kasih nama apa mereka?
" Kalo anak Saras mau aku kasih nama Sasi (Saras-Sigit)." Saras tersenyum bahagia di ikuti dengan senyuman keluarga yang lain.
" Kalo kamu nduk? siapa nama anak kamu ini?" Tanya Rudi kepada Laras dan semua mata tertuju kepada Laras dengan penasaran.
Laras terdiam, dia memang belum menyiapkan nama untuk anaknya.
" Laras belum memikirkan nama untuknya." tuturnya pelan.
Rudi memberikan Sasi kepada Saras dan hanya fokus menggendong anak Laras, Rudi mendekat dan tersenyum "Lihatlah anakmu." Ucapnya.
"Dia sangat tampan, kulitnya juga sangat putih, rambutnya hitam tebal, kelak dia akan bisa melindungimu."
Laras tersenyum, Sigit dan Saras mendekat ke bayi mungil yang digendong oleh Rudi.
__ADS_1
" Dia juga anakku, aku akan menjadi Ayah untuknya sama seperti Sasi. Kalo boleh beri nama dia Chadi yang artinya keberuntungan." Tutur Sigit.
" Nama yang bagus" Ucap Rudi dan semua tersenyum
" Aku setuju mas." Ucap Laras
' Beruntung sekali mbak Saras memiliki suami seperti mas Sigit, semoga mereka berdua bisa bahagia selalu.'
Setelah puas menggendong kedua bayi mereka Laras dan Saras pun ikut berbaring disamping anak-anak mereka, sementara Rudi dan Sigit sedang berbincang di depan teras rumah mereka.
" Pak."
" Hmm"
" Bapak jaga kesehatan ya,jagan sampai bapak sakit." Ucap Sigit yang hanya didengarkan oleh Rudi. " Bapak pernah bilang ingin mengembalikan kebagiaan Laras, untuk sekarang kebahagiaan Laras hanya dua, Chadi dan Bapak."
" Fokuslah kepada anakmu Git, biar Chadi jadi tanggung jawab bapak."
" Hal ini sudah aku bicarakan dengan Saras pak, kami sepakat untuk hal ini, bapak tenang saya. Insya allah rejeki kami akan bertambah. Chadi juga anakku.Pak."
Rudi menangis mendengar ucapan Sigit, dia bersyukur mempunyai menantu seperti Sigit. " Bapak akan buat Laras bahagia menebus kesalahan Bapak."
" Tahun ini begitu berat, memang banyak kejutan takdir dari ALLAH, Tahun yang berat untuk bapak terutama Laras, mari kita sama-sama bangkit untuk Sasi dan Chadi."
Tanpa mereka Sadari dari dalam Laras mendengarkan semua obrolan mereka.
__ADS_1
' Ya Allah, terimakasih banyak karena telah berikan sesorang seperti mas Sigit dalam keluarga hamba, '
'Aku akan melakukan apapun demi keluargaku ini, kebahagiaan mereka adalah yang utama bagi ku'
***
Beberapa bulan berlalu, kehidupan Laras yang baru telah dimualai , Rudi dan Sigit kembali ke aktifitas mereka bekerja ditempat pekerjaan mereka seperti biasanya.
Saras juga menjadi ibu rumah tangga yang bahagia dengan mengurus anaknya. Begitu juga Laras hanya saja kini Larasenjadi guru ngaji di masjid dikala sore, memang sebagai Guru mengaji tidak meghasilkan uang banyak namun itu sesuatu yang Laras impikan.
"Assallammualaikum. . ." seru Laras saat beru pulang mengajar.
" Wa'alaikumsallam." Jawab Rudi yang sedang menggendong Sasi.
Laras langsung masuk dan menyalami Bapanya, Laras kemudian mengambil ahli untuk menggendong Sasi.
" Bapak duduk saja biar aku yang gendong."
" Anakmu baru saja tidur Laras," Kata Saras dari dalam dapur.
" Iya mbak, biarkan saja maaf ya mbak merepotkanmu."
" Ngomong apa kamu itu, dia juga anakku."
Laras terus tersenyum dan mengajak Sasi bermain.
__ADS_1
" Ayo semua makan dulu," Ajak Saras yang baru saja menyelesaikan masak untuk makan malam. Tak butuh waktu lama untuk semua orang berkumpul. Sambil makan, mereka bercanda dan saling bercerita aktifitas mereka tentu Saras dan Larasnya yang paling banyak punya cerita tentang anak² mereka...