
Pagi ini Aji ikut berkumpul di meja makan. Terlihat mama Johan sibuk menyiapkan makanan dan juga papa Johan membaca koran, Aji hanya diam dia menunggu Johan datang lantaran semalam dia mendengar keluh kesah Johan.
Johan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya melihat Aji duduk bersama orang tua mereka jadi malas untuk bergabung.
Saat Johan hendak keluar melewati keluarganya namum langkahnya di cegah oleh papanya.
"Johan." panggil papanya, Johan mengentikan langkahnya dan menoleh kepapanya malas.
"Mau kemana kamu?"
" Pergi pa, Malas Johan duduk dengan orang licik seperti paman." Johan langsung keluar tanpa peduli akan papanya.
Aji menangis menyesalpun tiada guna. " Mas Aji memang keterlaluan, bukan salah Johan jika dia seperti itu." Tutur mama Johan.
" Bagaimana aku bisa menebus kesalahanku? "
" Sepertinya itu akan sulit. Aku masih ingat bagaimana bahagianya Johan waktu kami diajak kerumah Laras, namun kami juga ingat bagaimana hancurnya Johan ketika dia melihat Laras menikah lagi."
" Dan aku juga tidak bisa membayangkan kejadian - kejadian berat yang dialami Laras" Tutur papa Johan pada Aji.
" Maka dari aku ingin menebusnya."
" Dengan cara apa?"
" Aku ingin menebus dosaku kepada Desi."
" Dengan cara apa Mas?" kini mama Johan mulai ikut pembicaraan kaka beradik itu.
" Membuat Laras bahagia, mungkin itu bisa membuat Desi bahagia dialam sana." jawab Aji.
" Lantas haruskah Johan menikahi Laras?" sahut papa Johan.
" Bukankah itu yang di inginkan Johan?"
__ADS_1
" Rossa akan tersakiti jika seperti itu."
Perdebatan yang tak membuahkan hasil sama sekali, sementara Johan dia masih frustasi dan tak berani pulang. Johan tak memiliki teman lain selain Rossa jika dia libur bertugas lantaran semua temannya pasti sibuk dengan keluarga mereka sendiri.
Johan menghentikan mobil yang dikendarainya masuk kedalam sebuah masjid, Johan menenangkan pikirannya yang sedang kacau di dalam masjid itu.
***
" Jadi seperti itu. . ." Pak Selamet selaku abinya Rossa mulai memberi tanggapan tentang apa yang diceritakan oleh orang tua Johan.
Yah. . . Merasa bingung dengan masalah anaknya papa dan mama Johan mengambil jalan tengah yaitu berkonsultasi dengan kyai Selamet sekalu orangtua Rossa, berharap bisa memberi solusi yang tepat untuk masalah yang memyangkut anak kyai tersebut juga.
" Ini memang salah pamannya Johan pak kyai."
" Saya juga turut prihatin tentang wanita itu, jika aku jadi orangtuanya pasti aku juga sagat hancur."
" Lantas bagaimana? Johan ingin bertanggunh jawab atas semuanya namun Johan juga tidak ingin menyakiti Rossa."
" Anak yang dilahirkan wanita itu laki-laki atau perempuan?" tanya pak Selamet.
" Untung dia anak laki-laki, jadi nanti besar dia menikah tidak perlu wali atas pernikahannya, karena akan yang lahir dilur nikah tidak bisa memakai bin atas nama bapaknya."
" Yang ke dua, secara agama anak tersebut tidak berhak mendapat warisan atau peninggalan dari orang tuanya,dan dia tidak dapat menuntut hal itu."
" Begitukah pak Kyai?"
Pak selamet manganggukkan kepala membenarkan ucappannya. Sementara para istri mereka hanya memdengarkan dan menyimak pembicaraan tersebut.
" Jika Johan hendak menikahinya itu hal yang baik, namun itupun butuh persetujuan Rossa sebagai istri syah secara hukum dan agama."
" Apa pak kyai mengijinkan." Tanya papa Johan.
" Semua tergantung kepada Rossa, apa dia bersedia, atau malah minta cerai dari Johan. Namun jika Rossa meminta cerai aku tidak akan membenarkan keinginan tersebut."
__ADS_1
" Lantas aku harus bagaimana pak kyai, aku juga merasa bersalah atas tindakan kakaku yang menjijikan ini."
" Saya akan bicara kepada Rossa, namun jangan paksa anak saya untuk memerima hal yang akan membuatnya menangis."
***
Johan masih berusah menelpon Rossa namun panggilannya tidak pernah di jawab. Rossa masih dalam vase penyendirian. Johan tak lagi menelpon Rossa, dia beralih mencari nama Sigit, dia ingin mendengar suara Laras, akhirnya Johan menekan nomor Sigit,
" Hallo" Sapa orang disebrang sana.
"Sigit."
"Siapa ini?"
" Aku Johan."
" Dari mana kamu dapat nomerku? Dan ada perlu apa?"
" Laras yang memberikannya,. . . Bisakah aku bicara dengan Laras atau Chadi?"
" Aku bekerja sekarang, aku bukan pengangguran seperti mu." Ledek Sigit.
" Aku bukan pengangguran, hanya saja sekarang aku libur."
" Terserahlah. . . Mereka ada dirumah, kalo mau bicara dengan mereka lebih baik nanti malam kau telpon lagi."
" Begitu ya, baiklah."
" Assallammualaikum"
" Wa'alaikumsallam"
Sambungan telepon pun terputus kini Johan merasa kesepian lagi, pulang kerumah tapi tidak mungkin, Rossa masih butuh waktu menyendiri.
__ADS_1
Pulang kerumah papa, ada paman Aji yang bikin dia malas pulang .
Johan memilih tetap didalam masjid menenangkan pikiran.