Masa Lalu

Masa Lalu
kedewasaan Chadi


__ADS_3

***POV LARAS***


Aku melihat Chadi dari kejauhan sedang berjalan dengan susah payah menggendong Sasi, Kenapa dengan Sasi kenapa dia sampai harus digendong oleh Chadi? Aku berjalan menghampiri mereka dan mencoba menolong Chadi menggantikannya menggendong Sasi, namun apa daya tenagaku ternyata tidak sekuat Chadi meskipun dia masih kecil.


Aku sedikit oleng untung saat hampir jatuh ada mas Huda yang menolongku. Mas Huda menahan badanku yang hampir saja menyentuh tanah bersama dengan Sasi.


Chadi yang menarik posisi Sasi membuatku bisa bergerak dan akhirnya aku berdiri tepat dihadapan mas Huda, tak pernah aku sedekat ini dengan pria, rasanga aku malu sekali. Aku mematung karena bingung harus bicara apa.


" Bunda!" Chadi memanggilku. Aku menoleh kermarah Chadi seakan bertanya ada apa?


" Bunda jadi bantuin Chadi tidak? Sasi habis jatuh bun!" Jelasnya padaku


" Biar Paman saja yang menggendongnya" Mas Huda menawarkan bantuan untuk menggendong Sasi, tanapa persetujuan kami mas Huda langsung menggendong Sasi masuk kedalam rumah.


"Lho kenapa anak Bunda ini?" Mbak Saras yang baru saja keluar kamar langsung panik melihat Sasi.


" Kebanyakan Lari makanya jatuh Bun" jelas Chadi dan Sasi diam saja.


Mbak Saras langsung mengecek kondisi Sasi apakah ada yang terluka parah, namun tidak ditemukanya yang ada hanya sedikit baret didaerah lutut.


" Alhamdulillah, tidak apa-apa" mbak Saras merasa Lega. " Terimakasih banyak ya mas Huda," Mas Huda hanya nyengir.


" Duduk dulu Mas, saya buatkan es teh oasti seger siang-siang gini" Tawar mbak Saras, mungkin sebagai rasa terimakasih.


Aku tak mau berlama-lama dan aku memutuskan mengajak Chadi masuk kedalam kamar untuknya berganti pakaian.


" Laras mau kemana?" tanya Mbak Saras kepadaku. Aku menghentikan langkahku seketika.


" Aku mau membantu Chadi berganti pakaian mbak."


" Sini dulu, temani mas Huda dulu mbak mau bilinkan minum." Mbak Saras langsung pergi tanpa mendengar jawabanku. Sekarang harus bagaiamana aku, rasanya canggung sekali.


" Silahkan duduk mas." Aku mempersilahkan mas Huda duduk. Tatapan mas Huda membuatku tidak nyaman, bagaimana aku harus menghindarinya.


" Bunda Laras, tadi Chadi bilang kalau dia. . . " Chadi langsung membekam murut Sasi yang ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


" Diam!" Chadi menyuruh Sasi diam, rasanya mereka mulai main rahasia-rahasiaan.


Mas Huda tersenyum melihat tingkah dua boca ini."Kalian masih kecil saja main rahasia-rahasiaan"


" Paman tidak perlu ikut campur."


Aku kaget anakku bisa bicara seprti itu, " Chadi!! Jaga sopan santunmu." Aku memarahi Chadi, dia langsung mengajak Sasi masuk kedalam kamar.


Bagaimana bisa bicara seperti kepada mas Huda, akunjadi teringat ucapan Chadi malam.itu. " Maafkan Chadi mas," Aku menundukkan kepalaku tanpa berani menatap mas Huda.


" Boleh aku tanya sesuatu Laras?" Aku menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan mas Huda.


" Apa hatimu masih tertutup untukku?"


Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan yang sulit seperti ini,


" Aku sudah mendengar semuanya dari Sigit, tentang kebenaran ayah Chadi. Apa kamu akan menikah dengannya?"


" Kenapa kamu bertanya seprti itu Mas."


" Mas, maaf Laras masuk dulu."


Aku tak mau melanjutkan pembicaraan yang di mulai mas Huda,aku meninggalkannya masuk kedalam kamar. Mas Huda pasti kecewa dengan diriku.


***POV AUTHOR***


Saras membawa nampan berisi es teh segar yang dia janjikan.


" Lho! Laras mana?" Saras bingung yang tak melihat keberadaan adiknya.


" Laras ada didalam, aku pamit dulu ya."


" Pasti Laras kabur lagi kan?" Tebak Saras.


Dia sudah menduka jika Laras akan menghindari Huda seperti biasanya.

__ADS_1


" engga Saras, aku yang lancang membuatnya tidak nyaman."


Huda berdiri hendak beranjak pergi sampai akhirnya dia berpapasan dengan Rudi. Dengan Sopan Huda mencium tangan Rudi seperti biasa.


" Sudah lama?" Tanya Rudi


" Hanya membantu Sasi tadi habis jatuh." Jawab Huda Sopan.


" Bagaimana keadaan Sasi sekarang?" Tanya Rudi panik.


" Nggak papa pak, hanya jaut dari berlari"


" Kenapa kamu keburu pulang."


" Saya masih ada perlu pak."


Huda berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Laras. Dalam perjalanan dia tidak menyangka jika dia melihat Chadi duduk berjongkok sambil menggambar sesuatu yang tidak jelas ditanah.


" Chadi" Panggilnya.


Yang dipanggilpun menoleh dan langsung berdiri. " Sedang apa kamu disini?" Tanya Huda.


" Aku menunggu paman."


Huda langsung mengajak Chadi pergi, mereka berdua pergi ketempat yang nyaman untuk bicara, Huda memutuskan untuk mengajaknya kerumahnya.


" Ada apa Chadi? Kenapa kamu tetlihat serius ingin bicara kepadaku?"


" Apa paman benar-benar mencintai Bunda?"


Huda terdiam, dia seperti disidang oleh bapak Laras, lantaran menanyakan keseriusannya.


" Tanyakan pada Ayah Sigit, betapa serius aku kepada bundamu. Aku menerima semua masa lalu kelamnya, aku juga akan menganggapmu sebagai anakku sendiri. Namun bundamu selalu menghindar."


" Aku akan membantumu, asal paman berjanji akan membahagiakan Bunda."

__ADS_1


Huda memasang wajah bahagia, tak disangka jika Chadi memihaknya.


__ADS_2