
Hari ini adalah hari yang paling dia tunggu setelah setahun lamanya, pasalnya hari ini adalah hari kepulangan suami yang paling dia cintai.
Sejak pagi dia sangat sibuk menyiapkan segala sesuatu mulai dari membersihkan rumah agar terlihat lebih rapi sampai menyiapkan makanan faforid suaminya. Tentu itu adalah hasil masakannya sendiri.
Hujan deras dan petir yang menggelegar membuat Rossa cemas lantaran kedatangang suami yang paling dia rindukan masih belum juga tiba. Sesekali dia menginguk kecandela hanya sekedar melihat apakah ada tanda-tanda kehadiran suaminya namun hanya derasnya hujan yang dia lihat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam namun dia masih merasa cemas, dia mulai beranjak naik ke lantai dua dimana kamar anak-anaknya berada. Rossa bernafas lega melihat anaknya yang masih tertidur lelap.
Kembali dia turun kebawah dan langsung menuju kedapur, dia memanaskan kembali masakan yang telah ia siapkan agar suaminya masih menikmati makanan itu dalam keadaan hangat.
...----------------...
Dok. . . dok. . .dok. . .
‘Ah… itu pasti dia datang.’
Dengan sangat yakin kalau itu adalah suaminya dia berlari dari dapur menuju ke ruangan utama untuk segera menyambut kedatangan suaminya.
‘Jeglek.’
“ Ah, akhirnya kamu datang juga, mas. Aku sangat khawatir denganmu.” Rossa langsung memeluk suaminya dengan erat. Lelaki berbadan tegap dan tampan itu Dengan hangat juga membalas pelukan Rossa.
“Bagaimana kabarmu dan anak-anak?” Tanyanya masih sambal memeluk istrinya. Walaupun dia tau betul istrinya baik-baik saja karna hampir setiap hari mereka melakukan panggilan vidio call.
“ Aku tentu saja baik,mas. Dan anak-anak juga sehat,mereka sudah tidur sekarang.”
“ Baiklah ayo masuk, aku sudah kangen dengan masakanmu."
Johan bingung harus memulai obrolan dari mana, memunggu esokpun Johan tak mau, lantaran lebih cepat akan lebih baik.
“Rossa sayang, aku ada hal penting yang aku ingin bicarakan denganmu.” Setelah makan malam Johan memulai obrolan yang telah dia pikirkan selama dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
“Mas mandi dulu sana, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Jawab Rossa dengan memijit bahu kekar suaminya.
“ Baiklah.” Johan menurut dengan kata-kata Rosa, sambil tersenyum dia menatap Rossa dan mengecup keningnya sebelum dia masuk kedalam kamar mandi.
Rossa menyiapkan baju ganti untuk suaminya, selang lima belas menit Johan telah keluar dari kamar mandi. Setelahnya dia langsung memakai baju yang telah disiapkan oleh istrinya.
Johan mengajak Rossa duduk di sofa yang ada di depan tempat tidur mereka. Dengan serius Johan menggenggam tangan Rossa, dengan sorot mata kegelisahaan Johan seakan bingung harus memulai percakapan dari mana. Rossa hanya menatap mata Johan dengan penasaran menunggu apa yang akan di ucapkan Johan.
Hati Rossa dak dik duk tak karuan, dia berharap jika Johan memberikan suprise kepadanya karena sudah lama sekali Johan tidak pulang.
“ Apa yang ingin kamu bicarakan mas?” Tanya Rosaa yang kini malah menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang Johan. Tangan Rossa melingkari di perut Johan dengan erat.
“ Rossa."
"Hmm"
"Aku. . ."
" Rossa, Istriku. Ijinkan aku menikah lagi.”
Bagaikan di sambar petir yang menggelegar Rossa langsung melepas pelukannya dari suaminya. Ditatapnya mata suaminya yang seakan menunggu jawaban darinya.
Mata Rossa berkaca-kaca mencoba membendung air matanya agar tidak langsung tumpah, namun usahanya sia-sia air matanya jatuh tanpa aba-aba dan deras mengalir membasahi pipinya.Bukan ini kejutan yang dia harapkan.
Rossa sama sekali tidak menyangka hari yang telah ditunggu-tunggunya setelah setahun ini malah membuatnya hancur.
‘Apa ini? Apa salahku kenapa tiba-tiba Mas Johan ingin menikah lagi. Apa kurangku? Apa Mas Johan menyukai wanita lain? Atau jangan-jangan Mas Johan sudah bosan denganku?’
“Apa maksudmu,Mas?” Rossa bertanya dengan bercucuran air mata.
“Dengarkan aku dulu Rossa, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu.” Johan mencoba menenangkan Rossa istrinya.
__ADS_1
“Apa kurangku,Mas? Apa aku mengecewakannmu?” Rossa masih terus menangis menghadapi kenyataan untuk permintaan suaminya yang tidak masuk akal baginya.
“Kamu tidak kurang apapun,kamu juga tidak pernah mengecewakan aku, kamu wanita dan istri yang sempurna untukku, namun…”
“Namun apa ? Mas mencintai wanita lain sekarang?” Dengan emosi Rossa menyela ucapan Johan,padahal selama ini dia tidak pernah sekalipun membantah atau berbicara kasar kepada suaminya.
Rossa berlari keluar dari kamarnya. Dia menuruni anak tangga dengan cepat, sementara Johan menyusulnya dan memanggil nama Rossa berkali-kali dengan sedikit berteriak.
“Rossa tunggu.”
“Rossa berhenti,Rossa!”
"Rossa tunggu!"
Tak sekalipun panggilan Johan didengar oleh Rossa, dia semakin berlari keluar rumah di tengah derasnya hujan. Petir yang menyambarpun tak ia hiraukan padahal selama ini Rossa sangat takut dengan suara Petir.
Johan terus mengejar Rossa, rasa bersalah menyelimuti pikirannya kali ini. Dengan langkah yang mulai goyah akhirnya Johan berhasil menyusul istrinya itu. Dipeluknya Rossa dengan erat.
“Lepaskan aku Mas, lepaskan.” Rossa masih berusaha berontak.
“ Rossa coba kamu tenangkan dirimu sedikit,dengarkan penjekasanku dahulu, setelah itu kamu boleh memutuskan apa saja.” Johan sedikit berteriak untuk berbicara dalam keadaan hujan deras.
Rossa sudah lemas, tubuhnya kini sudah tak bisa bertahan. Dalam pelukan Johan, Rossa tiba-tiba tak sadarkan diri. Johan semakin khawatir melihat keadaan istrinya, di gendongnya tubuh istrinya masuk ke dalam rumah.
‘Rossa maafkan aku, maafkan aku.'
Johan mengganti pakaian Rossa yang basah kuyup akibat guyuran hujan. Wajah Johan Kini diselimuti rasa khawatir. Dengan menggenggam tangan Rossa,dia berharap Rossa segera sadar dan tidak akan terjadi apa-apa dengan istrinya.
Johan sangat mencintai Rossa,dan dia tidak mau kehilangan Rossa.
...----------------...
__ADS_1