
Beberapa bulan pun berlalu ,Saras pun memutuskan untuk tinggal bersama dengan Bapak dan adiknya ,dan kini dua bersaudara itu Tengah hamil besar ,melupakan peristiwa tragis tidaklah begitu mudah .Saras juga kehilangan ibu namun berbeda dengan Laras kisah pahit hidupnya tidak akan mudah ia lupakan Johan terukir membekas di hatinya ,
Sementara Rudi semenjak ditinggal istrinya pergi dia sering sakit-sakitan namun dia tetap melakukan aktivitas pekerjaannya ,dia ingin melupakan semua kesalahan yang telah Ia perbuat dan menebus dosa kepada Laras.Rudi bekerja keras mencari uang untuk biaya persalinan Laras.
" Suudahlah Pak, Bapak istirahat di rumah saja tidak usah bekerja lagi ,yang kerja Pak bisa mencari uang walau hanya sekedar menjadi buruh cuci-cuci "
Laras kini Memang sedang menjadi buruh cuci,Dia sedang berusaha kuat dan menjalani takdirnya hanya pekerjaan itulah yang mampu lah rasa lakukan mau jadi apa lagi? Di pedesaan seperti tempat tinggal Laras harga dirinya sudah hancur karena hamil di luar nikah,tidak ada yang memberi dia pekerjaan yang layak.
Namun Laras masih tetap bisa bersyukur karena dia dianugerahi keluarga yang sangat luar biasa.
"tidak Nduk Kamu adalah kewajiban bapak dan bapak akan bertanggung jawab atas hidupmu dan anakmu "
Laras memeluk bapaknya erat namun tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari kamar Saras.
"sakit tolong ,Laras ,bapak . . ." Saras berteriak ,Rudi dan Laras pun langsung berlari ke kamar Saras
"Kenapa Mbak ?"tanya Laras panik
"sepertinya Mbak akan melahirkan "
"apa ?tenang Mbak, Laras akan panggilkan becak ya Mbak kita pergi ke rumah sakit bersama-sama "kata Laras dengan panik "Bapak jaga mbak Saras sebentar "
Laras langsung pergi berlari mencari becak di sekitar rumahnya ,setelah ketemu becaknya dia langsung kembali ke rumah,dan segera membantu Saras untuk menuju ke becak Namun siapa sangka ,jika perut Laras tiba-tiba juga kontraksi .
"Aduh pak " Rinti Laras
"Kamu kenapa Nduk ?"
"sepertinya Laras juga akan melahirkan "jawabnya dengan suara yang Parau.
__ADS_1
" HAAA!!" mata Rudi terbelabak, Rudy shok dan langsung memegangi kepalanya.
" Ya sudah kamu naik becak sekalian bersama kakakmu," Rudi langsung melihat tukang becak " Pak Mon, Bantuin jangan diem aja " kata Rudi pada tukang becak yang akrab dipanggil pak Mon tersebut.
" ii. . .iya pak Rudi, saya juga bingung ini" Pak Mon si tukang becak pun panik.
Mereka membantu kedua kakak beradik itu naik ke atas becak, setelahnya pak Mon langsung mengayuh becaknya menuju puskesmas terdekat.
Sementara Rudi, dia mengayuh sepedanya menuju tempat kerja Sigit untuk memberitahukan kabar yang mengejutkan ini.
***
Sesampainya di puskesmas kedua lelaki itu langsung mencari keberadaan kakak beradik tersebut.
"Mbak, barusan ada yang datang mau melahirkan kami walinya." Tutur Sigit panik.
" Tarimakasih"
Mereka berlari, dan akhirnya sampai di tempat tujuan mereka.
"Saya suaminya Saras sus" ucap Sigit dengan nafas yang tidak karuan.
"Silahkan sebelah sini" Suster tersebut mengarahkan.
Sigit masuk mengikuti suster sementara Rudi masih diluar, Dan tiba-ada yang menghampiri Rudi. " Bapak kerabatnya Laras? Tanya suster.
"Saya Bapaknya.*
" Mari ikut saya."
__ADS_1
Rudi mengikuti suster tersebut, "Begini pak, saya butuh tanda tangan suami ibu Laras untuk melanjutkan proses persalinan."
Rudi terdiam sejenak, " Biar saya yang bertanda tangan mbak, saya bapaknya. Suami Laras sudah meninggal." Jawab Rudi.
"Baiklah kalo begitu pak"
Akhirnya Proses persalinan pun dilakukan. Rudi dan Sigit sama - sama berdoa agar persalinan berjalan dengan lancar.
setelah beberapa waktu dua suster membawa dua bayi dengan senyum yang merekah.
" Jangn bicara dulu sus, biar bapak bayi ini menebak mana anaknya?" Ucap Rudi sambil menatap Sigit memantang.
" Bapak, meragukan aku."
"mana anakmu?"
"Yang laki- laki anaknya Saras pak, dan yang perempuan anakku" Senyum Sigit bangga.
" Bener Sus?" Tanya Rudi memastikan.
" Yang laki-laki anak ibu Laras, dan yang perempuan anak ibu Saras."
Sigit tersenyum, hebat kamu bisa tau hanya dengan melihat mereka.
" Soalnya kan mereka USG bareng bapak, dan sudah tau jenis kelamin anak-anak" Jelas Sigit
" Oooalah"
Datanganya 2 bayi yang bersamaan itu membawa senyum dan kebahagiaan dalam keluarga Rudi, kebahagiaan yang sempat hilang kini bisa mereka rasakan kembali walau tak seutuhnya.
__ADS_1