
" Kenapa adekmu?" Tanya Sigit yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap seragam kerja.
" Masuk angin kali." Jawab Saras enteng.
Hoek. . . hoek. ..
Tiba - tiba Saras juga ingin muntah.
"Kenapa dek?" Sigit panik
" Bau kamu kok gak enak mas, kamu belum mandi."
" Ih, kamu. aku sudah mandi dan juga sudah pakai minyak wangi." Kilah Sigit
" Sana, sana mas aku mau muntah"
Saras berlari gantian ke toilet sementara Laras sudah merasa lebih baik. Kini Laras sudah duduk di meja makan menunggu kakanya kembali.
"Masuk angin dek?" Tanya sigit
" Sepertinya Mas."
" Ya allah, enggak enank banget rasanya?" Ucap Saras yang baru saja kembali sambil memegangi perutnya.
"Sabar dek semua orang hamil kayak gitu." Ucap Sigit.
" Iya, iya"
Hoek. . hoek. .
Laras kemudian kembali mual dan berlari kebelakang. Saras dan Sigit saling pandang dengan pandangan yang mencurigakan.
" Gak mungkin kan mas?" Kata Saras kepada Sigit seolah Sigit juga berfikiran sama dengannya.
"Bisa jadi dek."
"Astagfirullah" Saras membungkam mulutnya tak percaya.
Setelah Laras kembali dia mendapati Saras dan Sigit menatapnya seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu."
" Dek maaf ya, kamu. .."
". . ."
" Kamu, ndak hamil kan?" tanya Saras.
" Maksud mbak?"
__ADS_1
" Kenapa kamu jadi ikutan mbak, muntah- muntah?"
" mungkin aku hanya masuk angin mbak"
" Dek maaf, apa kamu datang bulan?"
"Datang bulan?"
" Iya dek."
"Sekarang tanggal berapa mbak?"
"Sekarang tanggal 5"
Laras berfikir sejenak, "Astagfirullah mbak, aku belum haid."
"telat berapa hari?"
" Sekitar 2 minggu mbak." Jawab Laras lemas.
Mata Laras mulai berkaca-kaca, Saras pun tidak bisa bicara apa-apa. Tidak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Sudah tenang dulu." Sigit memcoba memecah keheningan.
"Laras kamu disini dulu aja, nanti sepulang Mas kerja. Mas dan mbak mu akan mengantarmu ke dokter." Kata Sigit kemudian.
" Tidak mas,aku tidak mau." Tolak Laras.
" Mas, coba kamu belikan tes kehamilan di apotik saja. Kita tes dirumah dulu " Saras mencoba menengai.
Dan akhirnya semua setuju, Sigitpun berangkat kerja dengan hati yang berat bagaimana tidak sedikit banyak istrinya juga akan kepikiran.
...****************...
...DI RUMAH JOHAN...
'Assallammualikum.
Hay Laras apa kabar? pasti kamu sedang merindukan aku, disini aku juga sangat sangat sangat merindukanmu. Kamu tau aku ingin meminta maaf dahulu kepadamu karena aku lama sekali tidak memberimu kabar. Dan sekarang aku sudah menyakinkan orang tua ku untuk hubungan kita.
Tunggu aku sebentar lagi ya Laras, aku mengirim surat ini hanya untuk membuatmu tenang, karena aku akan menepati janjiku. Aku akan menikahimu dan membawamu bersamaku.
Aku tidak sabar bertemu kembali denganmu aku merindumu, rindu yang sangat dalam sedalam rasa cinta ku padamu.
Aku terkesan menghombal bukan, ya aku memang menggombal tapi hanya untuk mu calon istriku.
aku sayang kamu
Johan melipat surat yang baru saja dia tulis untuk Laras, wajahnya berbinar dia sudah membayangkan betapa bahagianya Laras mendengar kabar ini, Senyuman Laras kini sudah menghiasi pikiran Johan.
__ADS_1
Johan pun langsung bersiap pergi kekantor pos terdekat untuk mengirim surat itu.
"Mau kemana kamu sayang?" Tanya Bundanya saat melihat Johan hendak pergi.
" Kekantor pos Bun."
" Ngapain?"
" Ini." menunjukan Surat yang ada ditangannya.
" Apa itu?"
"Surat untuk calon mantu"
Bunda tersenyum, " Iya sudah sana pergi."
" Ayah mana bun?"
" Ayah kamu pergi menemui pak kiyai Selamet."
" Ngapain lagi bun."
" Kamu ini bagaimana? ya mau ngomong baik-baik kalo kamu ndak setuju dijodohkan."
"ooooo, yaudah. aku pergi dulu ya bun, Assallammualaikum"
Johan pergi setelah mencium punggung tangan Bundanya. Sementara bundanya hanya melihat kepergian Johan dengan tersenyum
" Kamu sudah besar Johan, semoga kamu bahagia"
...****************...
......RUMAH ROSSA......
"Rossa" panggil Umi saat memasuki kamar Rosaa
" Kamu yang sabar ya sayang, banyak juga kok orang yang menolak perjodohan."
" Iya umi, Rossa baik-baik saja kok."
" Kamu tidak bisa membohongi umi sayang, umi tau kamu kecewa."
" iyah umi. sebenarnya Rossa kemaren berharap jika Mas Johan akan setuju."
" Ya, mungkin memang bukan jodohmu nduk, kamu sholat malam siapa tau diberi petunjuk oleh ALLAH." Sahut Aba Rossan yang baru masuk kekamar.
Mereka semua memang sedang sedikit kecewa lantaran kedatangan Ayah Johan yang menberitahukan jika Johan menolak perjodohan tersebut.
Dengan segala kerendahan hati Ayah Johan meminta maaf dan berharap agar mereka tetap menjaga silahturahmi.
__ADS_1
Untungnya Aba Rossa menerima keputusan itu karena dia tau jika jodoh dan perasaan tidak bisa dipaksa.
...***BERSAMBUNG***...