
Huda selalu terbayang kejadian tadi pagi, ketika Laras mengambilkan nasi untuknya. Dengan sangat tidak sabar Huda mendatangi Sigit di bagian kerjanya.
" Git. . .Sigit"Panggilnya.
" Apa lagi?" Dengan malas Sigit akhirnya menoleh.
" Kamu lihatkan tadi pagi Laras. . ."
" iya. . . Iya. . . Semoga aja kita jadi saudara." ucap Sigit asal.
" Amiin ya allah."
Huda sungguh senang sekali selama bertahun-tahun dia tidak pernah direspon oleh Laras namun tadi pagi, Laras mengambilkan dia nasi. Yah. . . Walaupun itu disuruh oleh Bapaknya.
Huda kembali lagi ketempat kerjanya, sungguh hari ini dia tida fokus sama sekali.
'Nanti malam aku akan sholat dimesjid dekat rumahnya saja, barang kali ketemu dia pas pulang mengajar ngaji, semoga saja langkahku dipermuda olehmu ya ALLAH.'
Malam yang ditunggu Hudapun datang, dan apa yang dia prediksi pun benar adanya. Laras memang telah selesai mengajar ngaji namun dia langsung menunaikan Sholat magrib dan Isya' di masjid.
"Assallammualaikum" Sapa Huda.
"Wa'alaikumsallam" Balas Chadi dan Sasi dengan lantang sedangkan Laras hanya membalasnya pelan.
Chadi dan Sasi langsung mencium punggung tangan Huda dan setelahnya Chadi langsung menarik tangan Sasi untuk berlari.
__ADS_1
" Kami pulang duluan Bun" Triak Chadi sambil berlari mengandeng tangan Sasi.
'Cerdas kamu Chadi' Pikir Huda.
" Aku akan menemanimu jalan sampai rumah Laras."
Laras tak menjawab namun tak ada penolakan darinya. Mereka melangakah pelan dan keheningan menjadi dinding yang menghalangi mereka.
canggung ingin memulai obrolan, mereka tidak berbicara satu sama lain.
"Laras, maaf." Ucap Huda memulai " Apa aku membuatmu tidak nyaman?" Huda hanya tak mau Laras merasa tidak nyaman disebelahnya.
"Tidak mas, hanya aku canggung jika banyak orang yang melihat kita." Jawab Laras.
" Kenapa harus canggung, sebentar lagi kita juga akan Syah." Huda memang tidak bisa untuk basa basi atau bergombal dan itu membuat Laras menghentikan langkahnya.
" Dari dulu aku serius Laras."
" Aku bukan seorang gadis yang baik untukmu mas, masa laluku sangat kelam mas."
" Laras, mari kita mengubur masa lalumu dan mulailah masa depanmu dengaku. Aku menerimamu apa adanya." Huda seperti melihat cela di hati Laras, buktinya selama ini Huda tidak pernah bisa berdebat dengan Laras akan perasaannya.
Laras mendengarkan semua ucapan Huda namun dia tidak menjawab, Laras kembali melangkahkan kakinya diikuti dengan Huda yang menyeimbangkan langkah kakinya.
Hening mulai menyelimuti kebersamaan Laras dan Huda. Huda kini mulai mengalah menginstruksikan kepada diri sendiri agar tidak gegabah, bisa berjalan berdua seperti ini saja dia harus menunggu lima tahun lamanya.
__ADS_1
" Apa orangtuamu setuju denganmu jika kamu ingin menikahiku mas?"
Kini Huda yang terkejut mendengat Laras menanyakan hal itu, akankah Laras menerima dia? Atau Laras hanya sekedar bertanya.
" Apa maksud dari pertanyaanmu ini Laras? Apa kamu berniat menerimaku?"
" Aku hanya ingin memantaskan diri."
Senyum Huda tak bisa ditutupi. Dia terlihay bahagia mendengar ucapan Laras walau itu masih ambigu namun memurutnya ini adalah kesempatan besar.
" Kedua orang tuaku sudah meninggal Laras, sebelum aku kesini aku hidup dengan tanteku, tapi tenang saja. Tanteku tidak pernah menentang keputusanku."
Laras kembali berjalan tak berucap kata apapun lagi, Senyum Huda terpampang sepanjang jalan, jantungnya tidak bisa dikondisikan. Hari ini dia banyak mendapat kejutan dari Laras.
Tak terasa mereka sudah mulai masuk dipekarangan rumah Laras. Dan tiba-tiba. . .
" LAARAAS!!!" Suara barito dengan keras mengejutkan Laras dan Huda. Johan memanggilnya dengan emosi.
Johan berada disana bersama dengan Rudi. Mereka memunggu kedatangan Laras namun siapa sangka jika Laras pulang bersama Huda.
Rudipun ikut terkejut namun dia tidak emosi seperti Johan. Mata Johan seakan ingin keluar dari tempatnya.
Sedangkan Laras juga merasa takut, entah mengapa.dia merasa seperti dipergoki sedang selingkuh.
" MASUK!!" Bentak Johan.
__ADS_1
Spontan Laras melangkah ingin masuk kedalam rumah, namun tiba-tiba tangan Laras dipegangi oleh Huda.
" Kamu tidak ada kewajiban menuriti ucapannya." Bisik Huda.