
Sebelum adzan subuh Rossa membuka matanya, seperti biasa dia hendak mandi kemudian bersiap sholat subuh, dilihatnya Johan masih terlelap di sampingnya.
'Nantilah aku bangunin setelah aku selesai mandi' pikirnya
Namun saat dia ingij beranjak dari tempat tidurnya dia merasakan nyeri yang begitu hebat dari pengkal kakinya, " AAAUH" Rintihnya
Terlihat ada bercak-bercak darah sisa kenikmatan semalam. "Sakiit." Kembali Rossa merintih. Perlahan dia mulai turun dari tempat tidur tapi rasa sakit itu sungguh peri. " Aachh"
Mendengar rintigan Rossa, Johan jadi sedikit terbangun. Dia mengerjapkan matanya dan melihat Rossa sedang merintih.
" Kau kenapa?" Tanya Johan yang sudah ganti posisi dengan duduk sambil melihat Rossa.
" Sakit maz".
Johan paham apa yang dirasakan Rossa, dia langsung bangkit dan membantu Rossa . " Hmm. . ." Dengus Johan
" Kenapa mas?"
" Semalem saja kamu sok-sok an jual diri padaku, sekarang? Kamu bingung kan kesakitan."
" Mas nggak suka apa yang kita lakukan semalam?" Johan tidak menjawab lantaran semalampun dia merasa senang dan puas.
" Jangan di bahas."
Tanpa bicara lagi Johan memapah Rossa menuju kamar mandi namun tanpa sengaja tangan Johan memegang salah satu gundukan yang kenyal di dada Rossa. Sejenak mereka saling pandang canggung.
" Maaf" Ucap Johan spontan
" Untuk apa kau minta maaf mas, ini milikmu. Kamu lupa bagaimana semalam kamu sangat menyukainya."
Johan jadi malu mendengar ucapan Rossa, dia sedikit mengingat kejadian semalam dimana dia sangat rakus akan tubuh Rossa.
" Kamu memang tidak pernah malu kepadaku, ucapanmu seperti rem yang ngeblong." Protes Johan.
" Aku seperti ini agar kau tertarik kepadaku Mas, ini usahaku untuk mendapatkan mu. Sekarang aku sangat bahagia sekali, bahagiaku melebihi disaat kita akad nikah."
__ADS_1
Johan mendudukkan Rossa di samping bathup, Johan merasa jika hasratnya mulai datang kembali melihat tubuh Rossa yang masih sangat seksi.
" Apa sakit sekali." Tanya Johan.
"He.em"
" Apa kau merasa tidak nyaman? Aku tau caranya bagaimana agar rasa sakit itu cepat hilang" ucap Johan datar
" Kamu sangat berpengalaman Mas,"
" Tentu saja," Johan tidak melanjutkan perkataannya " Maaf, aku. . ." Johan merasa bersalah karena ucapannya tadi yang seakan menunjukkan jika dia bukan pria baik-baik diluar sana.
" Sudahlah Mas, aku tidak peduli apa yang kau buat sebelum menikah denganku, namun aku pinta jangan sampai kau menodai pernikahan ini."
Johan diam, keheninganpun datang diantara mereka hanya suara air yang mengalir mengisi bahtup
" Bagaimana mas?" Rossa membuka obrolan.
" Hah? Apanya?"
" itu. . ."
"Apa?"
" Hmm. . . Kita harus sering melakukannya agar terbiasa dan sakit itu akan hilang."
" Ooo. . . Ya sudah lakukanlah." Jawab Rossa enteng.
" Ha?"
" Lakukan Mas, kamu mau mulai dari mana?"
Johan tak menyangka jika Rossa seterbuka ini, Johan yang tak mau melewatkan kesempatan ini langsung mulai melakukan apa yang dia inginkan.
Rossa, merasa bahagia sekali kebahagiannya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata, dengan Johan yang sudah mulai luluh.Pernikahannya kini sudah terasa lengkap tinggal menunggu lahirnya anak-anak mereka.
__ADS_1
Setelah melakukan aktifitas panas itu mereka langsung sholat subuh berjamaah. Setelahnya Rossa mulai bergegas menyiapkan sarapan untuk mereka.
Johan hanya memperhatikan Rossa dari ruang tamu, nelihat istrinya sedang sibuk memasak membuatnya berfikir mungkin memang Rossa adalah jodohnya.
Hubungan ranjang memang bisa mengubah segalanya, bisa memperbaiki hubungan yang masih belum harmonis, Johan tersenyum sendiri.
" Wanita nakal itu istriku, dan hanya aku yang tau kenakalannya paati orangtuanya pun tak akan menyangka jika Rossa seperti itu, pemberani dan . . . hebat"
" Mungkin aku benar-benar harus melupakan Laras, cintaku yang dalam padanya tidak membuatnya bahagia, dia bahagia hanya karena uang. Dasar cewek matre. Beruntung aku tau sifat aslinya."
Johan hanyut dalam pikirannya sendiri kini dia benar-benar bertekat melupakan Laras, membuang jauh-jauh nama itu.
" Mas sarapnnya sudah siap" Ucap Rossa sedikit berteriak dari dapur.
" Iya." Johan menghampiri Rossa
" Ayam geprek?" Ucap Johan yang melihat menu di meja
" yup, mas ndak suka?"
" Suka."
" Alhamdulillah." Ujar Rossa sambil mengambilkan makan Johan.
" Masih sakit?"
" sedikit mas, kayaknya udah mulai biasa seperti kata mas."
" Kalo gitu habis makan, ayok kita ulang kembali biar sakitnya makin hilang." Ucap Johan yang modus sebenarnya dia masih menginginkan kembali tubuh Rossa.
" Itu mah kamu yang doyan mas," Canda Rossa yang langsung dapat senyuman dari Johan.
" Nggak mau?" candanya.
" Mau sampek kamu lemas tak berdaya aku pasrah mas." ucap Rossa yang medapat senyuman dari Johan.
__ADS_1
Rossa sungguh bahagia pengorbanannya tidak sia-sia. Caranya yang berani menghadapi Johan membuahkan hasil yang bahagia.