
Dengan riang Johan melangkah menuruni anak tangga rumahnya, papa dan mamanya yang melihat anak semata wayangnya itu bergembira hati jadi ikut bahagia.
" Selamat pagi, pa, ma."
" Duh anak bunda wajahnya sekarang semakin bersinar kayak ada lampunya " ejek mamanya.
" mama kayak ndak pernah muda aja, ya kan pa " balas Johan yang dilempar ke papanya.
" Iya donk, papa sama mama dulu pas masih muda juga begitu sangat bersemagat dan antusias".
Johan tersenyum begitu pula mamanya, mereka sudah lama tidak bercengkrama ria seperti ini sejak 2 tahun terakhir, lantaran Johan yang tak pernah pulang kerumah.
" Oh ya ma, Johan mau keluar."
" mau kemana?"
" mau beli cicin buat Laras."
" mama ikut ya, mama mau milih cicin untuk calon mantu mama." Johan tersenyum bahagia.
" Tentu ma, Johan malah senang jika mama mau bantu pilih."
" Ok mama siap-siap dulu."
Mama Johan langsung masuk kamar untul bersiap. Sementara Johan dan papanya kembali melanjutkan obrolan mereka.
" Jadi kapan kita akan kerumah Laras pa?"
" Sabtu besok kita berangkat, kamu siapkan apa yang kita butuhkan, papa tidak mau terlihat buruk di depan calon besan papa."
" Siap komandan." Tegas Johan selayaknya memberi hormat.
Mereka tersenyum bersama senyum yang sangat renyah di dengar sehingga itu membuat mamanya meneteskan air mata dari kejauhan.
...****************...
__ADS_1
"Johan,apa kamu tau selera Laras?" Tanya mamanya saat sedang sibuk memilih cincin.
" ntahlah ma" jawabnya ringan
" bagaimana kamu ini."
"Setau Johan, dia tidak pernah memakai perhiasan."
" ini saja." Bunda johan memilih cincin sederhana bermata tanam satu.
" Bagus ma" komen Johan,lalu mereka langsung menyelesaikan pembayaran dan kembali berjalan - jalan sambil mencari apa yang mereka butuhkan.
Setelah beberapa lama mereka mengakhiri acara jalan-jalan dan memutuskan untuk kembali pulang. Lantaran kasihan papa Johan hanya seorang diri dirumah.
Tak butuh waktu lama mobil Johan sudah terpakir dihalaman rumahnya. Mama Johan masuk dan disusul Johan kemudian.
" Pa. . . papa.., kami sudah pulang." Banggil mama Johan sedikit berteriak. Namun tak ada jawaban sama sekali.
Lalu mama Johan memasuki kamarnya dan sangat tekejut melihat suaminya sudah tergeletak dilantai. Mama Johan sangat panik dan dia langsung teriak histeris.
"Ada apa ma?" Tanya Johan tanpa menunggu jawaban dari mama nya Johan langsung menghampiri papanya yang tergeletak di lantai.
" Papa kenapa ma?" Tanyanya panik.
" mama juga ndak tau, mama masuk papa kamu sudah seperti ini."
" Kita bawa kerumah sakit ma."
Dengan cepat Johan membawa papanya kerumah sakit, untungnya rumah sakit tidak terlalu jauh. Setelahnya dokter langsung melakukan pemeriksaan dan ternyata Papa Johan mengalami fertigo ringan.
" Untungnya tidak apa-apa" Johan lega.
...****************...
...RUMAH LARAS...
__ADS_1
"Laraas. . ." Panggil bapaknya.
" iya pak" jawabnya lemas.
Laras sudah berusaha keras menyembunyikan kehamilannya, entah apa yang terjadi jika kedua orang tuanya tau kalau dia hamil.
"Kamu sudah siap?"
"Boleh tidak Laras ndak ikut pak buk." Pintanya. "Laras sedikit tidak enak badan." Lanjutnya
" Tidak bisa kalo kamu gak ikut, Sebentar saja."
" Memang mau kemana sih pak?"
" Kita mau bertamu kerumah pak Lurah, mau silahturahmi"
" Pak lurah?"
"Iya sekalian mengenalkan kamu kepada anaknya pak Lurah, Hasan."
" Laras ndak mau dijodohkan pak."
" Sudahlah Laras, ini hanya silahturrahmi saja. hanya penrkenalan."
" Laras ndak mau pak."
" menurutlah nduk, bapak ndak suka kamu membangkang."
Laras terdiam dan akhirnya menuruti semua keinginan bapaknya. Laras benar benar kacau belum lagi ada janin dalam perutnya.
Ibu Laras yang melihat anaknya yang seperti membawa beban yang besar sungguh kasihan. Dia bertekat akan menyakinkan suaminya agar membatalkan perjodohan ini.
Laras mulai bersiap dan ikut Bapak dan ibunya dengan terpaksa.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Hay hay readers yang sudah baca kisah Laras dan Johan jangan lupa likenya,terimakasih...