Masa Lalu

Masa Lalu
Laras Terkejut


__ADS_3

Keesokan harinya Sigit sudah bersiap berangkat kerja seperti biasa, namun dia sedikit gelisah. Sejak semalam dia tidak bisa tidur, Sigit bingung bagaimana dia akan memulai pembicaraan tentang Johan kepada keluarganya.


"Mas cepetan dimakan sarapannya, nanti anak-anak keburi terlambat sekolah." Tegur Saras melihat suaminya hanya diam saja.


" I. . Iya" Sigit mulai memakan makananya namun tak berselera.


" Ayah Sigit sakit?" Tanya Chadi.


" Ayah tidak apa-apa sayang"


"Ayah Ayah Sasi mau dibelikan mainan boneka upin ipin" Pintanya dengan merengek.


"Udah besar masih kayak anak kecil" Ledek Chadi.


" Yee, lucu tau. Jadi upin ipin itu enak gak bisa besar bahagia terus jadi anak kecil."


"Mau kamu cebol?"


" Enak aja cebol, orang Sasi cantik begini tumbuh dengan sehat tidak kekurangan Gizi." bantah Sasi


" Kalian ini, ribut melulu. Awas ya disekolah kalo nggak akur" Tegur Laras.


" Kalo disekolah Chadi selalu jagain Sasi kok bun" Ucap Chadi.


" Aku bukan anak kecil Chadi, lagian aku ini lebih tua darimu"


Chadi melengos dengan merespon ucapan Sasi.


" Sudah selesaikan makan kalian dan berangkat sekolah." Ucap Rudi dengan menasehati


" Baik pak." Ucap Sasi dan Chadi secara bersamaa.


Chadi dan Sasi memang memanggil Heri dengan sebutan Bapak sama dengan orang tua mereka,


Sigit berpamitan diikutindengan kedua anak mereka setelah itu naek motor menuju kesekolah.


Suasana rumah kembali hening, Rudi seperti biasa membaca koran dengan secangkir kopi yang menemaninya.


Sementara Laras dan Saras membagi pekerjaan rumah agar cepat selesai.

__ADS_1


Selang tiga puluh menit, Rudi melihat Sigit memasuki halaman rumah. Rudi memyadari ada sesuatu yang tidak beres melihat menantunya itu pulang kembali.


" Ada apa?" Tanya Rudi kepada Sigit yang baru saja turun dari sepeda motornya.


" Ada hal penting yang ingin aku bicarakan Pak?"


" Masalah apa ini? Kenapa kamu begitu serius."


" Mari masuk kedalam pak." Sigit mengajak Rudi masuk dan duduk di ruang tamu.


Rudi sangat cemas, dia takut ini adalah hal yang buruk, semoga ketakutannya tidak benar.


" Saraas. . . Laraas..." Sigit berteriak.memanggil kakak beradik itu.


Saras dan Laras langsung keruang tamu setelah mendengar suara Sigit.


"Lho mas, kok pulang?" tanya Saras.


" Ada sesuatu yang mau aku bicarakan dengan kalian."


" Pentingkah mas, hingga kamu kembali pulang " tanya Laras yang ikut penasaran.


" Aku bingung harus dari mana memulainya."


" Ini tentangmu Laras " Sigit gemetar memulai pembicaraan ini.


"Aku? Ada apa denganku mas?" Laras penasaran.


"Tentang ayah Chadi."


Bagai mendengar petir yang menggelegar semua yang ada diruang tamu begitu kaget, kenapa Sigit nengungkit hal ini.


" Apa maksudmu Sigit? " Tanya Rudi emosi.


"Maafkan aku Pak, aku harus menceritakan ini, agar kebahagiaan Laras bisa kembali."


" Apa maksudmu?" Rudi mulai menaikkan nada bicaranya.


Laras menundukkan wajahnya, matanya bekaca - kaca kenapa ini diungkit kembali. Pikirnya

__ADS_1


" Dengarkan aku dulu, setelah itu terserah kalian."


"Kemaren aku bertemu kembali dengan Johan, Aku langsung memberi pelajaran kepadanya, rasa sakit hatiku dalam saat melihatnya kembali."


"Namun kemudian aku mendengar penjelasannya, saat itu Laras, dia menepati janjinya datang untuk meminangmu, bahkan dia membawa kedua orangtuanya turut serta, namun saat dia datang itu adalah hari pernikahannmu dengan Warsito."


"Dia melihat kamu menikah dengan warsito dan kembali pulang dalam keadaan hancur merasa tersakiti. Bahkan dia juga sangat frustasi. Johan pun juga tidak tau jika kamu hamil anaknya."


Rudi sangat kaget mendengar keterangan Sigit. Laras dan Saraspun begitu. Mereka sudah berprasangka buruk.


" Jadi ini bukan salah keponakan Aji, ini salahku karena gegabah menikahkan Laras demi menutup aib," Rudi mengambil kesimpulan sendiri.


"Ini bukan salah bapak. bapak jangn bilang seperti itu." Ucap Laras mencoba menenangkan.


" Sekarang dimana dia?" Tanya Rudi.


" Dia berada dirumah paman Aji,pak. Dia kesini untuk menjenguk paman Aji yang sedang sakit. Dia kesini dengan orangtua laki-lakinya. Tadi saya juga tidak percaya dengan ucapan Johan jika dia kesini waktu itu."


"Tapi bapaknya membenarkan apa yang diceritakan Johan, bahkan bapaknya juga bilang kalo Johan sangat menderita dan frustasi saat itu hingga akhirnya dia dijodohkan oleh kedua orang tuanya."


Laras mencoba tenang mendengar kata- kata itu, Rudi semakin merasa bersalah.


" Kamu ingat Laras, bapak- bapak yang tanya jalan kepadamu kemaren."


Laras menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


" Dia adalah bapaknya Johan, dia bahkan tidak sabar ingin melihat Chadi."


"Lantas sekarang harus bagaimana mas?" Saras mencoba bertanya kepada suaminya.


" Mereka ingin bertemu denganmu dam juga Chadi, jadi memurutku lebih baik kamu bertemu dengan mereka."


Laras menggelengkan kepala serta meneteskan air mata.


" Kenapa Laras.?" tanya Sigit


"Aku sudah melupakan Mas Johan." Dengan berat Laras mengucapkan itu.


" Bukan untukmu Nak, tapi anakmu." Rudi mengucapkan kata-kata yang tidak disangka semua orang, lantaran dia adalah orang yang paling menentang Johan dahulu.

__ADS_1


BERSAMBUNG. . .


Janga lupa like, dan coment ya. . . Vote kalian juga sangat mendukungku. . .


__ADS_2