
Tanpa arah, Johan terus melangkahkan kakinya entah kemana dan sudah samapai dimana, dia tidak tau. Kecewa dan kecewa yang dia rasakan, Kenapa Laras setega ini, Kenapa Laras mengingkari janjinya untuk menungguku sebentar, Kenapa Laras berubah, Kenapa Laras Jahat seperti ini.
" Lalalalalalalala." Saga melihat sosok yang dia kenali berjalan sambil sedikit berlallri berlompatan, dengan bersenandung dari kejauhan. Tak selang berepa lama dia sudah berpapasan dengan Johan.
Wanita yang dia kenal sebagai mbak Sri yang sudah kehilangan akal sehatnya melewatinya tanpa menyapa, seperti tidak mempunyai beban dan dosa dia bersenandung ria.
Johan teringat sekelibat apa yang diceritakan Laras tentang mbak Sri, dan karena itu lah Johan berusaha untuk meminang Laras walau penuh penolakan dari Bapak Laras.
Johan tidak mau Laras menjadi seperti mbak Sri, Johan tidak ingin melihat wanita yang dia cintai menjadi hilang akal dan gila. Namun apa daya, Johan malah menerima kekecewaan yang begitu berat.
Aji mencari Johan kesana kemari namun masih tidak juga menemukannya. Bahkan Ayah Johan juga ikut mencarinya namun nihil, Bunda Johan sudah menangis seharian takut sesuatu yang buruk terjadi kepada anaknya.
Sementara Johan sudah berada dipinggir jalan raya menyusuri jalan entah kemana tujuannya yang jelas dia tidak mau lagi kembali kerumah pamannya, dia tidak ingin menginjakkan kakinya di desa pamannya lagi.
"Bagaimana ini yah, Johan. Bunda takut dia kenapa-napa." Bunda panik.
" Tenanglah Bun, Johan pasti bisa mengontrol emosinya."
"Ada yang melihat Johan dijalan Raya." Aji kembali dengan informasi yang dia dapat, dan itu membuat Bunda Johan semakin khawatir.
" Ayo kita kesana." Ajak Ayah Johan.
" Bunda ikut."
" Tidak! bunda tetap disini."
" Bunda ikut."
Malas berdebat akhirnya merea pergi bertiga dan mencari Johan. Bunda sudah panik dibuatnya dan akhirnya Bundalah yang pertama melihat Johan duduk di trotoar.
" Johaaan! Johann!" Dengan berteriak Bunda memanggilnya namun Johan tidak mendengar.
"Bun." Tangan Bunda ditarik oleh suaminya yang melihatnya akan menyebrang tanpa memperhatikan jalan.
__ADS_1
" Apa yang Bunda lakukan." Ayah panik.
" Johan yah." Bunda menangis.
" iya tapi Bunda tida boleh ceroboh."
Akhirnya Ayah dan Bunda begitu juga Aji menyebrang jalan mendekati Johan yang duduk diam.
"Johann." Bunda histeris dan langsung memeluk Johan, yang dipeluk hanya pasrah dan memangis.
Sementara Ayah dan Paman Johan bernafas lega. Ajipun merasa senang karena rencananya berhasil, melihat Johan yang terpuruk tidak membuat Aji menyesal, hanya sebentar dan Johan akan bahagia kembali itu pikirnya.
" Johan mau pulang bun, Johan tidak mau disini."
" iya nak, kita pulang."
Bunda mengelus rambut Johan seperti anak kecil. Malam itu Juga mereka langsung berpamitan dengan Aji karena tidak mau melihat anak semata wayangnya menderita.
Ditengah perjalanan Johan mengeluarkan cicin yang akan dia berikan kepada Laras, ditatapnya sebentar dan kemudian di jatuhkan kejalanan begitu saja.
Begitu awal Johan membenci dan melupakan Laras walaupun sangat sulit dan pedih jika di ingat, Johan mengubur semua kenangan bersama Laras, Terlalu pahit bagi Johan untuk mengenang semuanya.
...****************...
Sementara Laras kini sudah berada rumah pak Warsito, Laras merasa gemetaar takut, apakah dia akan melayani pak Warsito malam ini? Laras meremas jari tangannya cemas.
Tak lama kemudian Pak Warsito itu muncul dari balik pintu, senyumnya sangat mengambarkan apa yang dia inginkan. Warsito mendekati laras dan menyentuh pipi mulus Laras. Laras menetaskan air matanya.
" Jangan menangis sayang, kita akan menghabiskan malam yang indah ini bedua." Ucap Warsito lirih dan itu membuat Laras semakin merinding.
" Pak."
" Jangan panggil Pak dong, panggil akang."
__ADS_1
" Maaf pak, eh maksud saya akang."
" Katakan apa kamu mau pelan-pelan atau mau berlari kencang."
Laras bingung dengan apa yang diucapkan oleh Warsito dia tidak paham sama sekali.
" Maaf pak."
" Panggil akang,sayang"
" Iya"
Saat Warsito akan menarik tangan Laras, tiba-tiba Laras menahannya dan itu membuat Warsito marah.
" Apa yang kamu lakukan?"
"maaf Pak saya belum siap."
" Belum siap? apa maksudmu? kau ingin mempermainkan aku.?" Warsito sudah terlihat marah.
" Bukan begitu, saya hanya belum siap saja."
'PLAK'
Sebuah tamparan mendarat di pipi Laras, sakit rasanya,panas.Laras meneteskan air mata.
" Kamu pikir saya menikahi kamu untuk apa ha!"
Hiks. . . hiks. . .hiks. . .
" Saya sudah mengeluarkan mahar banyak untuk kamu, saya sudah menutupi aib kamu, kamu jangan sok jual mahal"
"Maaf pak"
__ADS_1
Karena geram akhirnya Warsito memukuli Laras, Menampar, menjambak dan Laras hanya fokus untuk melindungi perutnya.