Masa Lalu

Masa Lalu
keputusan Rossa


__ADS_3

***POV ROSSA***


Aku berjalan menghampiri pintu setelah terdengar suara ketukan pintu. Pasti itu mas Johan dan dugaanku benar, Mas Johan pulang dengan keadaan Lusuh, wajahnya pucat.


" Kamu kenapa mas?" Tanyaku cemas.


" Aku mau mandi dulu Rossa, habis itu aku mau makan. Sepertinya aku kelaparan."


Mas Johan membuatku menggelengkan kepala. Kasihan juga melihat dia begini, bagaimanapun dia tak pernah jahat kepadaku sejak kami menikah hanya saja di awal pernikahanku dia terlalu cuek.


" Yasudah kamu bersihin diri dulu, habis itu makan, aku akan memanggil anak-anak."


Mas Johan mengikuti instruksi ku, bertemu lagi dengan mas Johan setelah beberapa hari yang lalu aku merasa hatiku sedikit damai, tenang. Terimakasih Ya ALLAH engkau telah menenangkat hati hamba yang kalut.


Aba benar, mengambil keputusan disaat marah bukanlah sesuatu yang tepat. Aku segera memanggil anak-anakku untuk makan malam bersama, mereka sudah sangat merindukan papanya.


Setelah menunggu 30 menit mas Johan akhirnya turun ke meja makan.


"Papa. . ." Putra dan Putri langsung berlari memeluk mas Johan seakan ingin melepas rindu yang berat.


Mas Johan langsung membalas pelukan meraka. Aku tersenyum melihat pemandangan yang indah seprti ini. Subhanallah, mas Johan memang sosok Ayah yang baik. Mana mungkin mas Johan sengaja menyakitiku dengan wanita lain.


Kini Aku paham, Mas Johan memikul beban yang berat jika aku tak mengijinkannya menikahi wanita itu, akan ada beban dipundaknya. Dan dosa itu akan dia bawa mati tanpa bisa menebusnya.


"Ayo sudah, sudah. Kasian papa kalian baru pulang. Makan dulu gih." Ucapku


Akhirnya mereka bertiga mulai duduk dikursi masing-masing dan mulai melahap makanan mereka. Mas Johan sagat lahap dengan makanannya.


Setelah makan mas Johan menghabiskan waktunya bersama anak-anak. Masa-masa ini memang sangat ditunggu oleh anak-anak, saat mereka bisa bermain bersama dengan papanya.

__ADS_1


" Pa, besok kalo Putra sudah besar Putra ingin jadi dokter ya pa" Dengan antusian Putra mengajak mas Johan bercerita.


" Hebat anak papa."


" Kalo aku Pa, aku pingin jadi peri." celoteh Peri.


" Peri apa Putri?"


" Peri yang bisa terbang ayah, nanti aku bisa mengabulkan apapun keinginan orang-orang"


" Kamu terlalu sering lihat you tube Putri, hal seperti itu tidak nyata Putri."


" Beneran Pa, nanti aku kabulkan cita-cita kak Putra pingin jadi dokter."


" Putri, cita- cita itu harus dikejar dengan cara belajar yang tekun." Sambungku ketika aku bergabung dengan mereka dengan membawa camilan.


" Putri itu memang kerjanya berhayal ma" Sahut putra.


Kami bercengkrama dengan riang bersama, menghabiskan waktu bersama keluarga memamg sangat menyenangkan, Untung saja mas Johan bukan tipe pria yang suka bermain dengan Hp Nya. Jika tidak kami tidak akan bisa bersama seperti ini.


Hari semakin larut dan anak-anak juga sudah mulai tidur. Aku rasa ini saat tepat aku bicara kepada mas Johan.


Mas Johan masih duduk samtai diruang keluarga, ditemani tontonan televisi yang menayangkan film anak-anak. Aku mendekat ke mas Johan dan dengan manjaku aku bebaring dengan meletakkan kepalaku dipangkuan mas Johan.


Hangat sekali rasanya, mas Johan mengelus kepalaku yang tertutup oleh hijab.


" Mas. . ." Panggilku


" Jangan bicara Rossa, aku sedang menikamati moment seperti ini. Aku sangat merindukanmu." Aku memegang tangan mas Johan lalu menciumnya dan kubawa dalam pelukanku.

__ADS_1


" Menikahlah dengan Laras mas, aku ihklas"


Mas Johan langsung melihatku dan matanya sedikit terbuka, mungkin dia kaget dengan ucapanku.


" Aku Serius mas." Ucapku lagi untuk menyakinkannya.


Mas Johan mencium keningku lembut, " Maafkan aku Rossa, aku membuatmu menangis aku telah memyakiti hatimu." Ucapnya.


Kenapa mas Johan malah menangis, apa mas Johan tidak bahagia dengan keputusanku? Bukankah ini yang di inginkan oleh mas Johan.


" Kenapa mas?" Tanyaku heran. " Bukankah mas ingin menikahi Laras.?"


" hanya saja aku telah menyakitimu juga Rossa."


Aku bangkit dari posisiku sekarang, aku memeluk mas Johan dengan lembut. " Aku Ihklas kamu menikahi Laras mas, Aku tidak tersakiti, keputusanku ini juga bukan karena dipaksa oleh siapapun."


Mas Johan membalas pelukanku mencium keningku, pipiku kanan dan kiri. Kebahagiaannya terlihat jelas.


" Terimakasih Rossa, namun sepertinya aku tidak jadi menikahi Laras." Ucapnya membuatku kaget, kenapa? Ada apa?


" Kenapa mas?"


" Laras tidak mau merusak rumah tanggaku"


" Dia wanita yang baik mas, harusnya dia bisa menuntut lebih jika dia mau, namun dia malah menolak."


" Kamu betul Rossa, Laras memang wanita yang baik."


Aneh!!!. Kenapa aku tidak sakit hati mendengar mas Johan memuji wanita lain. Apa ALLAH sudah benar-benar menguatkan hatiku.

__ADS_1


" Aku akan membantumu mas."


Keputusanku sudah bulat, aku akan membantu mas Johan kalo perlu aku yang akan melamar Laras untuk mas Johan.


__ADS_2