Masa Lalu

Masa Lalu
Aku bukan simpanan


__ADS_3

***POV LARAS***


Ketika aku baru melangkahkan masuk kedalam rumah, aku melihat mas Huda ada didalam sedang mengobrol dengan Mas Sigit.


Mas Huda sudah lama memendam perasaan kepadaku, namun aku tak mau menjalin hubungan dengan siapapun, aku akan fokus membesarkan Chadi.


"Assallammualaikum Laraaas" Mas Huda menyapaku lembut.


" Wa'alaikumsallam mas." Kujawab dengan sopan salam Mas Huda, namun setelah itu aku langsung masuk kedalam kamar meninggalkan mereka.


" Hay Chadi. . ." Aku mendengar mas Huda menyapananakku dengan riang


" Wa'alaikumsallam." Chadi memang dekat dengan Huda namun dia tak pernah suka jika Huda mendekatiku.


Aku melihat dari balik pintu kamarku yang masih setengah tertutul, Chadi berhenti diruang tamu dan mulai ikut mengobrol dengan Mas Sigit dan Mas Huda.


" Pasti Paman Huda ingin ketemu Bundaku kan?" Chadi sungguh berani menanyakan itu kepada mas Huda.


" Bilangin bundamu, suruh menerima paman. Nanti kamu minta apa aja aku turutin." Ucapan Mas Huda itu sungguh blak-blakan didepan anak seumuran Chadi


" Bundaku tidak mencintai Paman." Aku tersenyum mendengar Chadi memjawab seperti itu


" Huu. . . tau apa kamu anak kecil tentang Cinta? Paman hanya ingin menjaga bundamu dan kamu."


" Ayah Chadi akan jadi penjaga kami."


'DEG'


Kenapa Chadi berbicara seperti itu didepan Mas Huda, Apa CHadi sebenarnya ingin bersama mas Johan.


" Ayah Sigit maksud kamu?. . . Biarkan Ayah Sigit menjaga Bunda Saras dan Sasi saja, kamu nanti biar paman yang jaga."


" Bukan ayah Sigit, Ayah Chadi yang asli sudah kembali jadi paman Huda jangan ganggu Bunda Chadi lagi."


Chadi menghampiriku didalam kamar, " Kenapa kamu bilang seperti itu Chadi.?" Aku menatap matanya dalam-dalam.


" Bukankah Bunda juga ingin bahagia bersama Ayah Chadi juga?" Pertanyaan Chadi membuat lidahku kaku tak mampu menjawab

__ADS_1


" Iya kan Bun?"


"Chadi, ayah kamu tidak bisa bersama dengan kita,"


" Karena ayah sudah memiliki keluarga?" Chadi seolah ingin menekanku,.


" Bunda juga berhak bahagia, jika memang Bunda tidak mau bersama ayah. Bunda bisa kok bahagia dengan orang lain. Paman Huda contohnya."


Lho! Kenapa ini? Kenapa Chadi bicara seperti itu. Apa maksud Chadi? Aku heran dengan ucapannya.


" Kamu kenapa nak? Kenapa bicara kamu melantur seperti itu."


" Chadi ingin punya ayah seprti anak-anak yang lain, jika Bunda tidak ingin menikah dengan Ayah kandung Chadi maka menikahlah dengan Paman Huda."


Chadi langsunh meninggalkanku seorang diri, aku masih syok dengan ucapan Chadi barusan, apakah Chadi selama ini merindukan sosok ayah?, bukankah mas Sigit sudah cukup perhatian dengannya. Apa semua itu masih kurang?


Tanpa sadar air mata ini menetes, tak kusangka jika selama ini Chadi memendam perasaan seperti itu, aku harus bagaimana ya ALLAH.


" Laras!" Panggil Mas Sigit tiba-tiba yang sontak mengejutkanku. Aku langsung menghapus air mataku yang masih membasahi pipiku ini.


" Laras hanya kelilipan mas," Aku mencoba menutupi kesedihanku.


" Kamu jangan bohong Laras, Mas tau ada yang kamu sembunyikan."


" Benar mas, Laras tidak apa-apa. Mas Sigit ada apa memanggil Laras."


" Ini" Mas sigit menyodorkan telepon genggamnya kepadaku, Aku menatap Mas sigit dengan bingung.


" Telpon dari Johan." Jelasnya, aku menggelengkan kepalaku tak mau menerima telepon itu. Namun mas Sigit memaksaku menerimanya.


" Mas tinggal dulu" Mas Sigit lalu berpamitan denganku dan pergi.


Aku menatap benda kecil yang ada digenggamanku, aku pegangi dadaku yang berdetak dengan cepat tanpa ada yang memacu. Ada apa denganku ini, kenapa aku seperti ini. Perlahan aku menaruh benda itu di telingaku.


" Hallo Assallammualaikum" Ucapku.


" Hallo wa' alaikumsallam, kamu kenapa Laras? Kamu menangis ada apa? Kamu baik -baik saja kan?" Mas Johan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, mungkin dia mendengar pembicaraanku dengan mas Sigit.

__ADS_1


" Aku baik-baik saja Mas." Jawabku berbohong.


"Apa kabarmu?"


"Alhamdulillah baik."


" Maaf aku tidak bisa kesana dalam waktu dekat ini."


" Tidak usah kau pikirkan itu mas, aku sudah terbiasa sendiri."


" Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Mas, baik-baik disana. Aku tidak ingin menghancurkan sesuatu yang menjadi kebahagiaan perempuan lain."


" Aku tidak berniat mendengar ucapanmu barusan Laras"


Kenapa Mas Johan jadi egois begini? Meski lama aku tidak bertemu dengannya namun seperti bukan Mas Johan yang dulu aku kenal.


" Jika kamu tidak mau bersamaku Laras, maka hanya Chadi yang aku bawa."


Mas Johan mengancamku, apa benar ini mas Johan.


" Apa kamu mengancamku Mas?"


" Maafkan aku, aku hanya terbawa emosi. Aku masih sangat mencintaimu Laras." Hatiku tak karuan mendengarnya. Aku terdiam.


"Apa kau sudah tak mencintaiku Laras?" Pertanyaan Mas Johan memburyarkan lamunanku.


" Rasa itu masih sama mas Johan, namun aku tidak mengharap lebih. Dengan begini kamu membuatku seperti seorang simpanan mas."


" Kenapa kamu bicara seperti itu Laras."


" Maaf mas, Sudah malam aku mau istirahat." Dengan bergegas aku langsung mematikan sambungan telepon itu.


Sekali lagi aku menangis, aku benar-benar seperti seorang simpanan. Apa yang aku lakukan? Istri mas Johan pasti sangat menderita sekarang, aku tak ingin mengusik kebahagiaan mereka.


Tapi bagaimana dengan keinginan Chadi ?? Ya ALLAH, berilah aku petunjuk.

__ADS_1


__ADS_2