
'Assallammualikum Laras
Apa kabar? pasti kamu sudah merima suratku sebelumnya. Aku harap kamu mempersiapkan diri untuk menyambut kadatanganku beserta ayah dan bundaku.
Rencananya jumat besok kami akan kesana mungkin akan sampai sabtu namun sesuatu terjadi dengan ayahku, aku tidak mungkin meninggalkannya karena sekarang beliau sedang sakit, apa lagi aku tidak mungkin kesana sendiri.
Aku harap kamu sedikit bersabar ya, aku sudah menyiapkan semuanya untuk melamar kamu, bundaku sendiri sudah memilih cincin untuk kita.
Sampaikan salamku kepada mbak Saras dan juga Sigit bilang sama mereka aku akan menepati janjiku. mungkin sekitar dua minggu lagi aku sudah disana bersama kamu.
Salam sayang dari ku, aku merindumu selalu.
Johan'
Johan kembali menulis surat untuk Laras, Johan tidak mau jika nanti Laras akan bersedih menunggunya terlalu lama. Setelah dia dari kantor pos Johan langsung kerumah sakit tempat ayahnya menginap.
" Asallammualaikum" Sapa Johan saat memasuki ruangan Ayah
" Wa'alikumsallam." Jawab Bunda
Ayah Johan yang berbaring ingin sekali bangun namun tida bisa, kepalanya berasa pusing dan berputar-putar.
" Ayah istirahat saja dulu."
" Maafkan ayah Johan."
" Kenapa ayah minta maaf"
__ADS_1
" Besok seharusnya kita pergi kerumah calon mantu ayah namun karena ayah sakit. . . " ayah tidak melanjutkan ucapannya.
" Johan sudah mengirim surat untuk Laras dan mengabarkan keadaan Ayah, aku yakin dia akan mengerti"
" Ayah jangan banyak pikiran" Sela Bunda.
" Bunda benar, kalau ayah banyak pikiran nanti malah ayah akan lama sembuhnya, nanti malah molor lagi ke kita bertemu Laras."
" Kamu ini cemas karna ayah sakit atau cemas karena rindu." Sindir ayah dengan senyum.
" Keduanya ayah." mereka tertawa kecil bersama sungguh harmonis.
...****************...
Saras sudah bergegas kerumah Laras, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan adiknya itu agar bisa melihat keadaannya secara langsung.
" Wa'alikumsallam." Jawab ibunya setelah keluar dari dapur.
" Laras mana bu?"
" Ada di kamar."
" Saras mau melihat Laras dulu bu."
" Masuklah."
Saras langsung masuk kedalam kamar Laras tanpa permisi, dilihatnya Laras menatap keluar cendela. Laras melamun sehingga dia tidak menyadari kehadiran Saras.
__ADS_1
Saras memeluknya dari belakang dengan erat. " Laras." katanya lirih. Laras meneteskan air mata mendengar namanya dipanggil oleh kakaknya.
"aku harus bagaimana mbak?" tanya Laras pelan Tanpa mengubah posisi mereka. Sementara Saraspun sudah meneteskan air matanya. " Apa aku harus mengugurkan janin yang tidak berdosa ini? Apa aku akan melakukan dosa besar untuk yang kedua kalinya."
Saras diam tak menjawab, dia hanya memeluk adiknya semakin erat seakan dia tidak sanggup melihat adiknya menderita seperti ini. " Dek. . ." Air matanya semakin deras sehingga membuatnya tak dapat berucap.
" Bagaimana jika bapak dan ibu tau aku hamil mbak."
'PYAARRRRR'
Nampan yang dibawa ibu mereka jatuh berantakan beserta isinya, Kedua perempuan itu kaget apalagi setelah mereka melihat kebelakang.
Ibu mereka berdiri dengan mata terbuka lebar dan memutup mulutnya seakan tak percaya apa yang dia dengarkan barusan. yah. . . Ibu mendengar semua pembicaraan kedua putrinya itu.
" Apa yang barusan ibu dengar?" tanya ibu dengan terbata - bata.
" ibu," Saras semakin menetes kan air matanya
Sementara Laras langsung berlari bersimpuh dibawah kaki ibinya. " Maafkan Laras buk, maafkan laras." Laras terus memangis sementara kaki ibunya sudah tak kuat menopang badannya.
Kini ibu mereka terduduk bersama Laras dalam pandangan yang kosong, Saras memeluk mereka dengan erat dicampur dengan tangisan ketiga wanita itu.
"Kenapa kalian semua menangis seperti itu." Suara lantang Bapak mengagetkan mereka semua.
...BERSAMBUNG...
...LIKE NYA JANGAN LUPA ...
__ADS_1
...TERIMAKASIH...