Masa Lalu

Masa Lalu
Penyelidikan Sigit


__ADS_3

Sigit celingukan mencoba mengintai rumah Warsito, dari luar nampak biasa sama seperti tadi pagi tidak ada yang mencurigakan. Sigit mencoba memanggil salah seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah Warsito.


"Mbak."


" nggeh mas?" Wanita itu penuh tanya dimatanya.


" Bisa saya ketemu sama istrinya pak Warsito."


" Mas siapa? Istri yang mana yang mas maksud?"


' kalau aku bilang Laras mungkin saja seluruh pegawai disini sudah diberitau agar tutup mulut, ok kalau gitu.'


" Saya dari kelurahan mbak, mau bertemu dengan istri pertamanya pak Warsito, maaf saya lupa namanya." Akhirnya Sigit sedikit memainkan drama.


" Ooh. . bu Nurul."


" Iya mbak."


" Mari Mas saya antar." Wanita itu kembali masuk kedalam dan memanggil Nurul.


Tidak menunggu lama Wanita bernama Nurul itupun keluar dengan ramah dia menyapa Sigit. Nampak diwajah Nurul penuh tanya tentang siapa lelaki yang ada didepannya ini namun tak lama kemuadian dia ingat jika dia adalah lelaki yang datang bersama dengan Bapaknya Laras.


" Mas ini saudaranya Laras?" Tanya Nurul dengan sedikit berbisik takut ada yang mendengar.


" Iya mbak, maaf sebelumnya saya kesini hanya untuk memastikan apa benar Laras baik-baik saja karena tadi pagi saat saya kesini dengan Bapak saya merasa ada yang aneh." jelas Sigit


" Sebenarnya begini mas. . ."


Nurul menceritakan semua detai mengenai Laras mulai dari hari pernikahannya sampai sekarang yang diterima Laras hanyalah penyiksaan. Laras sangat menderita sampai dia pun tidak pernah memeriksakan kandungannya. Entah janin yang ada diperut Laras dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.


Sigit yang mendengar cerita dari Nurul tak sengaja meneteskan air mata, membayangkan penderitaan yang dialami Laras. Sigit juga mempunyai adik perempuan yang belum menikah, tiba-tiba dia juga memikirkan tentang adiknya.


Laras sungguh masih muda, tak seharusnya dia mengalami penderitaan yang berat seperti ini. Diusianya yang sekarang seharusnya dia masih suka bersenang senang dengan teman sebayanya.


Johan, nama Johan kembali teringat dipikiran Sigit. Kalau bukan karena lelaki biadab itu Laras tidak akan menderita sampai seperti ini.


Hanya cerita yang disampaikan Nurul berharap Sigit bisa melakukan apapun agar Laras bisa pergi dari Warsito, Nurul pun melarang Sigit masuk walau hanya sekedar untuk melihat Laras. Takut, ya Nurul takut jika ada yang mengadukan dia, salah-salah dia yang akan jadi sasaran amukan Warsito.


Sigit pulang dengan wajah yang sudah pasti bisa ditebak oleh Saras, melihat suaminya yang hanya diam melamun membuat dia bertanya dengan sangat cemas.


" Mas" Panggilnya namun Sigit tak merespon hanya duduk di kursi ruang tamu mereka

__ADS_1


" Ada apa maS?"


"Mas"


" Kenapa mas diam saja? kenapa wajah mas seperti itu?"


" Mas apa yang terjadi dengan Laras?"


" Jawab dong mas, jangan diam saja."


Saras sudah bisa menebak jika terjadi sesuatu yang buruk terjadi dengan adiknya. Dari wajah Sigit Saras sudah bisa membacanya namun Saras ingin tau sesuatu apa itu? Apa Laras keguguran? Jika Laras keguguran itu akan lebih baik pikir Saras. Seharusnya dulu Laras mengugurkan kandungan itu.


" Mas jawab! jangan diam saja" Saras mengencangkan suaranya lantaran Sigit yang masih diam.


" Laras. . ."


Dengan lemas Sigit menceritakan kembali semua yang dia dengar dari Nurul tadi. Saras terduduk lemas mendengar cerita suaminya.


"Saras." Sigit langsung bangun setelah Laras terduduk dilantai.


" Malang sekali adikku mas."


" Tapi jangan sampai ibu tau mas, bisa-bisa dia kena serangan jantung lagi."


" Iya dek, kamu jangan banyak pikiran ya. Kasihan anak kita. Ingat dia amanah dari ALLAH kita harus menjaganya sejak saat dia belum Lahir."


" Iya mas."


Keesokan harinya Sigit masih ijin tidak masuk kerja, Bersama dengan Saras dia pergi kerumah sakit karena ibu mereka juga belum diperbolehkan pulang. Setelah sampai dirumah sakit Saras menggantikan Bapaknya untuk menjaga Desi


Sementara Sigit mengajak Bapak mertuanya pulanh agar bisa beristirahat sejenak. Baru setelah itu Sigit akan menceritakan semua yang terjadi.


"Bapak segerah mandi mandi agat bapak lebih segar kemuadian kita sarapan bersama saya sudah membelikan makanan untuk Bapak."


" Tarimakasih ya Sigit, hanya kamu yang bisa bapak andalakan."


" Iya pak sama-sama"


Rudi langsung masuk untuk membersikan diri tak butuh lama untuk Rudi melakukan ritual didalam kamar mandi setelahnya dia langsung keluar untuk sarapan bersama dengan Sigit.


" Kamu ndak kerja lagi?"

__ADS_1


" Iya pak."


" Jangan terlalu sering ijin Git, kan ada bapak yang masih bisa mengurusi semua."


" Iya pak "


Sigit bingung harus memulai pembicaraan dari mana? dia takut jika bapak mertuanya ini juga bakalan syok mendengar sesuatu tentag Laras.


"Pak,"


" hmm"


" Kemaren saya kembali kerumah pak Warsito."


Rudi langsung menoleh ke arah Sigit tanpa mengucapkan sepatah katapun namun Sigit tau jika Rudi ingin mendengar kelanjutan ceritanya.


" Saya bertemu dengan istri pertama pak Warsito, dan dia cerita jika Laras. . ."


Kembali lagi Sigit menceritakan apa yang terjadi dengan Laras, sunggub Rudi sangat terkejut dan tidak menyangka.


" APA!"


Rudi langsung menggebrak meja dihadapannya dengan keras.


" Ayo kita kesana Git." Rudi sudah bergegas pergi namun di cegak oleh Sigit.


" Tunggu pak."


" Tunggu apa lagi?"


" Kita tidak boleh gegabah. Kita harus memikirkan bagaimana Laras bisa lepas dari Warsito pak."


" Kemaren kita kesana saja Warsito tidak mengijinkan kita bertemu dengan Laras. Kalau sekarang kita kesana saya yakin dia akan melakukan hal yang sama."


" Dan kalau kita tetap nekat, Pak. Saya takut dia akan semakin menyiksa Laras."


Rudi terdiam, Rudi sedang mencoba memikirkan sesuatu.


' Kenapa semua jadi seperti ini. Laraas kenapa kamu sangat menderita nak. aku salah mengambil keputusan lagi dengan menikahkanmu dengan Warsito sialan itu'


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2