
Keesokan harinya Rudi dan Sigit berkunjung kerumah Warsito ingin memastikan langsung apa yang disampaikan oleh Desi. Sementara Saras menjaga ibunya dirumah sakit.
Rudi sengaja berangkat sangat pagi sekali sehingga nanti dia masih bisa bertemu Waesito.
" Assallammualaikum." Sigit dengan lantang mengucapkan salam.
" Wa'alikumsallam" Seorang pegawai lelaki Warsito keluar menyambut mereka. " Mau bertemu siapa?" Tanyanya sopan.
" Bilang sama pak Warsito bapaknya Laras ingin bertemu." Sigit.
" injeh . . . monggo" Pegawai itu mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.
Terlihat Sigit dan bapak mertuanya saling pandang dan tak lama kemudian Warsito keluar dari rumah dengan tampang sombongnya.
" Ada perlu apa kalian kemari pak Rudi?" Tanyanya sambil menjatuhkan dirinya dikursi yang masih kosong.
" Begini pak, kami ingin bertemu dengan Laras." Sigit menyampaikan maksud kedatangannya.
" Laras." Warsito hampir menyatukan alisnya karena tidak suka maksud dan tujuan mereka datang.
" Iya Warsito, ibunya Laras sedang sakit makanya maki ingin mengajaknya menjenguk ibunya." Tambah Rudi menjelaskan.
" Hmm" Warsito nampak berfikir. " Laras sedang sibuk tidak bisa pergi sekarang."
" Apa Laras baik-baik saja? emm , maksud saya apa dia juga menjaga kehamilannya?" Tanya Rudi yang sedikit membuat kesalahan dalam perkataannya.
" Tentu saja, kau tidak usah cemas pak Rudi, aku selalu menjaga istri-istriku dengan baik."
"Syukurlah." ucap Rudi dengan tenang.
" Maaf pak Warsito, kalau boleh tau Laras sedang apa? apa dia memasak? mencuci? atau bahkan melakukan pekerjaan yang lain." Tanya Sigit tiba-tiba karena dia merasa ada yang aneh dengan gelagat Warsito.
'Sialan, kenapa dia bertanya seperti itu?' Warsito melirik Sigit seakan tak suka dengan pertanyaannya.
__ADS_1
" Mana mungkin aku menyuruh istriku melakukan pekerjaan seperti ini,semua istriku disini aku perlakukan seperti ratu, kalau tidak percaya masuk dan carilah apakah Laras sedang melakukan pekerjaan rumah."
Sigit diam dia pun tak beranjak dari duduknya untuk memastikan ucapan Warsito barusan.
" Sesungguhnya Laras selama disini hanya diam dikamar, mungkin karena dia sedang hamil makanya dia malas keluar kamar, aku lebih sering melihatnya tidur beristirahat dibandingkan ngobrol dengan ketiga istriku yang lainnya." Warsito mencoba menciptakan kebohongan.
" Baiklah kalau begitu, kamu pamit dulu kami juga ndak mau menganggu waktu istirahat Laras, yang penting dia baik-baik saja itu suduh cukup."
" Syukurlah jika kalian mengerti."
Rudi dan Sigit berpamitan namun Sigit merasa ada yang janggal namun apa itu dia tak tau. Sigit kwmbali menoleh kebelakang melihat kembali rumah Warsito lalu dia berlalu pergi bersama Rudi.
Tanpa sepengetahuan Warsito ternyata Nurul istri pertamanya menguping dari dalam rumah, dan dia melihat kedua tamunya Warsito.
...****************...
" Bagaimana pak?" Tanya Desi yang masih terbaring lemas dirumah sakit.
Rudi melihat wajah istrinya kemudian meliat Saras yang juga seakan memanti jawaban dari bapaknya.
"Syukurlah." Ibu telihat lega dengan kabar yang dengarnya.
" Pak buk, Saras pulang sebentar ya nanti Saras kesini lagi." Pamit Saras tiba-tiba.
" Pulanglah nak, biar bapak yang menjaga ibumu. Lagian kamu juga harus menjaga kesehatanmu kamu juga sedang hamil." Rudi
" Iya pak."
Saras akhirnya pulang bersama dengan Sigit sepanjang perjalan Sigit hanya diam, Saras memeluk Sigit dari belakang saat dia dibonceng menggunakan sepeda ontel. Yah, mereka salah satu pasangan yang romantis di kampung.
" Mas." Saras mencoba memecahkan keheningan namun Sigit diam jauh dalam lamunannya.
" Mas!" Saras menepuk punggung Sigit keras untuk menyadarkan suaminya itu.
__ADS_1
" Eh ada apa dek?" Sigit langsung mengerem sepedanya dan menoleh kebelakang.
" Kalau mas boncengin aku dengan melamun begitu bisa celaka kita, kasihan bayiku ini." Saras memegang perutnya.
" Maaf dek, maaf"
akhirnya mereka sampai dirumah, Saraspun menyadari jika ada yang dipikirkan oleh suaminya itu.
" Ada apa sebenarnya mas?"
" Hmm"
" Katakanlah"
" Aku pikir ada yang tidak beres dengan Laras."
" Apa maksudmu?"
" Warsito bilang Laras sedang istirahat makanya aku dan Bapak tidak bisa bertemu dengannya, kalo memang Laras baik-baik saja seharusnya dia memanggilkan Laras biar ketemu sama kami, apalagi tadi bapak bilang jika ibu sedang sakit namun Warsito seperti tidak peduli."
Saras diam seperti sedang memikirkan sesuatu, Lantaran perasaan Sigit yang kurang yakin dengan keadaan Laras akhirnya Sigit memutuskan untuk kembali kerumah Warsito.
" Aku akan kesana lagi dek." ucapnya
" apa tidak apa-apa?"
" Tenanglah mas akan mencari tau, lagian siang begini Warsito pasti sudah berangkat kesemua pertaniannya."
" Hati-hati mas."
" Iya, bagaimanapun juga Laras juga adikku."
Saras berdoa dalam hati agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
__ADS_1
Saras memegang perutnya yang sudah mulai buncit, kehamilan Saras sudah menginjak 4 bulan sedangkan Laras sendiri sudah 3 bulan, Laras sangat khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Laras.