
Mobil Sean melaju meenembus kegelapan malam. Waktu menunjukkan tepat tengah malam.
Suasana terasa sunyi di dalam mobil. Kedua pasangan suami istri baru tersebut saling bunkam, diam seribu bahasa.Tanpa ada yang berniat memulai obrolan terlebih dahulu. Atau mungkin tak ada lagi yang harus di bahas di antara mereka.
Suasana malam yang dingin dan sepi, membuat Hesti merasa ngantuk, apalagi, ia habis menangis selama bejam-jam.
Matanya terasa berat, dengan rasa kantuk yang tak lagi dapat di tahan lagi.
Beberapa saat kemudian Hesti sudah terlelap. Melihat Hesti yang tertidur, Sean menepikan mobilnya ketepi jalan raya. Kemudian ia menarik Seatbelt lebih terik, agar Hesti tak terpenting ketika dirinya mengerem mendadak, karena mobilnya saat itu dalam keadaan laju.
Setelah dirasa aman. Mobil sport Sean melaju cepat menembus jalan raya.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu kurang lebih tiga jam, bisa di persingkat jadi lebih cepat 1 jam lebih.
Tepat pukul dua pagi, mereka tiba di pesantren. Setelah mobil berhenti, Sean membangunkan Hesti dengan mengguncang tubuhnya.
"Hesti! Bangun Hesti, kita sudah sampai! " Sean.
Hm, Hesti membuka matanya.
"Kita dimana Om? " tanya Hesti.
"Di pesantren kakek. "
"Ayo turun!. "
Dengan mata yang masih mengantuk Hesti turun dari mobil.
Sesampainya di depan pintu, Sean mengetuk pintu beberapa kali, tak lama setelah itu, seseorang membukakan pintu untuk mereka.
"Sean? kamu tak jadi mengantar Hesti? " tanya Kakek.
"Ehm, sudah Kek. " Jawab Sean seraya masuk kedalam rumah, begitupun Hesti.
"Loh Kok Hesti kembali lagi? " tanya Kakek Heran.
Mereka pun duduk di sofa yang ruang tamu.
"Ceritanya panjang Kek."
Sean pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Hesti ketika berada di kampung Hesti. Sang Kakek hanya mangut-manggut sambil menyimak sampai Sean selesai bercerita.
"Oh,baiklah kalau gitu. Besok saja kita lanjutkan ngobrolnya. Sepertinya istrimu sudah mengantuk. "
Kakek berbicara seperti itu karena melihat Hesti yang terlihat begitu mengantuk hingga Hesti tidur bersandar pada sofa. . Selain itu, beliau mengerti karena malam itu adalah malam pertama pengantin mereka, tentu Sang kakek tak ingin mengganggu mereka masa indah tersebut.
"Karena kalian sudah sah jadi pasangan suami istri, kalian bisa nginap sekamar. Ayo kakek antar di kamar tamu. "
Kakek mengantarkan mereka menuju sebuah kamar. Setelah membuka pintu kunci tersebut langsung di serahkan pada Sean.
"Sean nanti ikut Kakek sholat subuh berjamaah. Jangan sampai cucu kiyai Abdullah, dibikin malu karena Cucu-cucunya tak melaksanakan sholat subuh. "
"Hua, Iya Kek," sahut Sean sambil menguap.
Mereka pun masuk kedalam kamar.
Karena begitu letihnya, Hesti langsung menghempaskan dirinya pada kasur empuk. Kasur tersebut semakin membuatnya tidur dengan lelap.
Sean juga menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sembari melirik Hesti yang tidur membelakanginya.
"Mau ku apakan Hesti, mau di jadikan istri, sepertinya pikirannya masih kekanak-kanakan. Mau di kembalikan pada orang tuanya, kasihan juga melihatnya. " gumamnya.
Setelah membolak-balik tubuhnya selama beberapa saat Sean pun terlelap.
Sean terbangun ketika mendengar gedoran pintu.
Tok..tok...
"Sean! Sean! " panggil Sang Kakek ketika membangunkan Sean. Sean langsung membuka matanya.
Sambil mengucek matanya Sean bangkit untuk membuka pintu.
__ADS_1
Kreak...
Pintu di buka. Tampaklah wajah teduh Sang Kakek.
"Ada apa Kek? " tanya Sean yang masih setengah sadar.
"Sean bangunkan istrimu, kau segera mandi karena sebentar lagi Azan subuh. "
"Hua, iya Kek". Sean menuruti permintaan kakek. Setelah menutup pintu, Saat itu juga ia menuju kamar mandi.
Sepuluh menit di kamar mandi, Sean keluar dengan menggunakan handuk sepinggang. Ia pun menghampiri Hesti untuk membangunkannya.
"Hesti! Hesti bangun Hesti! " Sean mengguncang tubuh Hesti, Hesti langsung menerjab-neejabkan matanya. setelah sadar, ia kaget karena melihat Sean yang ada di hadapannya.
"Hah! Om kok ada di sini sih?! " tanya Hesti, ia segera bangkit.
"Kamu lupa ya, semalam kita sudah menikah," dengus Sean.
"Hah! Nikah?! " Hesti melototkan matanya.
"Jadi itu beneran Om, bukan mimpi?" Hesti.
"Sean menepak jidat Hesti. Kamu ini ngak bisa apa membedakan antara mimpi dan Nyata?! "
"Tapi Om belum..."
"Belum! Aku belum menyentuh kamu! sudah sana cepat mandi, di suruh kakek sholat berjamaah. " Sean.
"Hah, jadi ini saat ini kita berada di pesantren kakek, Om? " tanyanya lagi.
Tadi malam Hesti benar-benar lelah dan mengantuk hingga dia lupa jika mereka sudah berada di rumah kakek.
"Sudah cepat sana Mandi! "Perintah Sean.
"Dingin Om, aku ngak biasa mandi pagi. Aku ganti baju saja ya. Kan baju ini sudah seharian aku pakai. " Hesti.
"Terserah! " Sean yang masih mengenakan handuk sepinggang membuka resleting kopernya. Kemudian ia mengenakan celana panjang dan kaos putih polos.
Sean heran melihat Hesti yang belum juga mengganti pakaiannya, sementara suara azan sudah terdengar.
"Kenapa belum ganti baju juga? " tanya Sean.
"He he, Bagaimana mau ganti baju, Om masih ada di kamar ini, aku kan malu ," sahut Hesti dengan wajah tertunduk merah merona.
"Ehm, Ya sudah. Aku tunggu di luar. " Sean keluar dari kamar.
***
Tak hanya Sean, kamar Andre pun juga, di gedor oleh Kakek.
"Andre bangun Ndre! " seru Sang Kakek.
Andre langsung membuka matanya kemudian menghampiri pintu dan membukanya.
"Eh Kakek. Ada apa Kek? "
"Ada apa?! Ini sudah mau masuk waktu subuh! Kamu siap- siap kita sholat berjamaah di mesjid."
"Ehm Iya Kek. Aku ganti baju dulu Kek. "
"Iya bangunan istri kamu, biasanya setelah sholat subuh, ada tausiah. Kamu harus sering-sering mendengarkan ceramah. "
"Sudah sering Kek dengar ceramah, sampai bosan, " cetus Andre.
"Hah! Dengar ceramah bosan?! "
"Iya ceramah istri. "
"Huh dasar gendeng kamu. Sudah jangan sampai terlambat! "
"Iya Kek. "
__ADS_1
Andre pun mempersiapkan dirinya, kemudian ia membangunkan Mayang.
***
Azan Subuh berkumandang terdengar menggema di udara.
Hesti keluar dari kamar dengan menggunakan piyama panjang bergambar karakter kartun yang sudah memudar dan menipis hingga hampir menerawangkan bentuk tubuhnya.
Sean melihat istrinya itu dari atas sampai bawah.
"Kamu ngak punya pakaian lain? " tanya Sean.
Hesti menggelengkan kepala. " Baju ini yang paling baru. "
"Paling Baru? kapan kamu beli? "
"Lebaran tahun kemaren," jawab Hesti polos.
"Hah, itu sudah hampir setahun. " Sean.
"Ya sudah, besok pagi kita belanja pakaian untuk kamu. Tutupi saja tubuhmu dengan kerudung itu.
Mereka pun berjalan menuju masjid.
***
Andre dan Mayang juga sudah siap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Mereka bergandengan mesra menuju masjid sambil berbincang-bincang." Apa kabarnya pengantin baru ya? " tanya Andre.
"Hah, penganten baru, siapa Mas? "
Ketika keluar dari asrama, dalam perjalanan menuju masjid, Andre melihat saat itu Sean sedang berjalan beriringan bersama Hesti.
Andre sedikit mempercepat langkahnya.
"Ayo sayang kita hampiri pengantin baru kita. " Andre.
"Hah! Siapa sih Mas yang kamu maksud? " Sebelum pertanyaan tersebut terjawab. Mayang sudah melihat Sean berjalan beriringan dengan seorang gadis.
'Bukannya itu Hesti! apa Sean tak jadi mengantar Hesti ya? ' batin Mayang.
Mereka pun berpapasan dengan Sean.
Andre menepuk pundak Sean. Otak mesum Andre seketika terkoneksi dengan baik, ketika melihat wajah Sean tampak segar dengan rambut setengah basahnya.
"Hey Sean! lain saja pengantin baru ya , subuh-subuh rambutnya sudah basah saja. " Andre meledek Sean.
Sean hanya tersenyum.
"Gimana Sean, rasanya daun muda? " tanya Andre sambil menyiku lengan Sean.
"Ya gitulah sepet-sepet manis," sahut Sean asal.
"Sepet-sepet manis apa sempit-sempit nikmat? " tanya Andre.
Langsung saja telinganya di tarik oleh "Mayang Dasar ulat bulu, mau tahu saja rasanya daun muda, kayak ngak pernah coba saja," dengus Mayang.
"Apa sih Yank! siapa tahu beda gitu rasanya," ucap Andre sambil mencubit pipi Mayang.
"Andre! " seru Sang kakek dari belakang.
"He he, ada Kakek. " Andre.
"Nanti di masjid wudhu lagi yang bener ya, biar otak kamu ngak kearah sana terus, ini mau sholat bukan mau pawai. " omel Kakek.
Andre hanya nyengir kuda.
"Dengar tuh Mas! " cerus Mayang dengan ketus.
Bersambung dulu ya reader. ❤❤❤
__ADS_1
Saat yang bersamaan Sean ber