Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Operasi


__ADS_3

Pasukan Blue Eyes yang di tugaskan untuk menghabisi Sean datang ke markas mereka.


Saat itu John dan beberapa pemimpin lainya tengah berdiskusi.


"Kemana kita harus melarikan diri? mata-mata Red Eyes dan Blue Eyes ada di seluruh negara di dunia." tanya Banest dengan gelisah.


"Jika Red Eyes dan Black Eyes mendapatkan tempat persembunyian kita, habislah kita. " imbuh salah satu dari mereka.


John berjalan mondar-mandir memikirkan langkah selanjutnya.." Kita, berpencar saja! jika keadaan sudah aman. Kita atur strategi kembali untuk menghancurkan salah satu dari mereka terlebih dahulu. Sebaiknya kita rekrut anggota yang lebih banyak. Agar bisa mengimbangi kekuatan mereka."


Pasukan tersebut langsung menghampiri pemimpin mereka.


"Lapor Bos, Sean sudah kami habisi di depan kantor Andre. "


"Bodoh! Kenapa kalian habisi dia di depan kantor Andre! " sahut John seketika.


"Memangnya kenapa Bos? " tanya salah satu dari mereka.


John dan pemimpin yang lainya terdiam.


Beberapa saat kemudian mereka mendengar helikopter yang turun secara vertikal


"Sudah. Saat ini kami dulu yang pergi. Kalian bersiap menunggu helikopter selanjutnya. " John.


"Tapi Bos. Bagaimana nasib kami? " tanya para anggota tersebut.


"Kalian tunggu di sini! Helikopter tak bisa mengangkut kita semua. Satu helikopter akan tiba untuk mengangkut kalian semua dalam beberapa saat lagi. " John


John dan beberapa pemimpin mulai naik ke dalam helikopterya.


Baru saja hendak terbang. Segerombolan orang sudah menyerbu markas mereka. Beberapa mobil jeep dan pengendara motor mengepung langsung mengepung markas mereka.


Pada saat itu John dan yang lainya sudah berada di Helikopter dan segera melakukan penerbangan, John sengaja meninggalkan Anak-anak buah nya dan kabur bersama rekan-rekan yang lain bersama uang dan harta yang berhasil mereka kumpulan.


"Angkat tangan! " Teriak salah satu bodyguard Andre. yang berhasil melacak keberadaan mereka. Sistem keamanan gedung Andre memang ketat. CCTV berada di sepanjang jalan menuju gedung tersebut. Dengan demikian anak buah Andre bisa melacak dengan cepat jika terjadi sesuatu di kawasan gedung tersebut.


Tak ada pilihan bagi mereka selain menyerahkan diri. Mereka tak akan mampu melawan anak buah Andre yang memiliki persenjataan lengkap.


Mereka pun di bekuk dan di serahkan ke markas besar Black Eyes atas perintah Andre.


Karena Andre bukan lagi pemimpin Black Eyes. Ia menyerahkan anggota Blue Eyes yang di bekuk langsung ke markas Black Eyes. Andre menunda perhitungannya terhadap jaringan tersebut karena ingin fokus mengurusi adiknya.

__ADS_1


***


Setibanya di rumah sakit Sean langsung di tangani. Setelah beberapa pemeriksaan awal, segera saja ia di bawa menuju ruang operasi.


Keadaan Sean semakin kritis karena itu tanpa menunggu tanda tangan dari pihak keluarga, Sean langsung mendapatkan tindakan pembedahan.


***


Andre segera menuju rumah sakit ketika mendapatkan telpon dari para bodyguardnya. Padahal saat itu ia tengah rapat dengan para pemegang saham.


Ia juga menyuruh anak buahnya menyusuri pelaku penembakan melalui CCTV. Dan untuk urusan bisnis Andre punya asisten handal.


"Reza ambil alih rapat! aku sedang ada urusan. " Andre.


"Baik Tuan. " Tanpa banyak pertanyaan Reza mengambil alih rapat.


Sambil berjalan ia menyempatkan diri mengkoordinasikan anak buahnya untuk mengepung markas Blue Eyes.


Andre semakin mempercepat langkahnya, ia sudah begitu tak sabar untuk bertemu saudara kembarnya yang sudah terpisah selama puluhan tahun tersebut.


Setelah tiba di rumah sakit Andre menghampiri anak buahnya.


"Di mana adik ku? "


Andre menghampiri kasir, setelah membayar semua administrasinya ia langsung menuju ruangan operasi.


Anak buah Andre sendiri berjaga-jaga, mereka mengawasi setiap pintu masuk dan keluar rumah sakit tersebut dengan pengalaman tingkat tinggi.


Setibanya di ruang operasi Andre hanya bisa menunggu dengan perasaan gelisah.


Berkali-kali ia mondar mandir, berdiri duduk karena begitu gelisah. Berkali-kali juga ia meremas rambut dan menghempaskan napas berat.


"Ya Tuhan aku mohon jangan lagi kau pisahkan aku dan saudara ku. " guman Andre.


Satu jam kemudian, seorang suster keluar dari ruangan operasi.


Andre langsung berdiri menghampiri suster tersebut, suster sempat di buat kaget melihat Andre yang begitu mirip dengan pasien yang ada di kamar operasi saat itu.


"Bagaimana keadaan saudara saya Suster? " tanya Andre


"Pasien masih kritis Tuan, karena kehilangan banyak darah dan Kami butuh banyak donor darah untuk menyelamatkan nyawa pasien. Saat ini stok darah di rumah sakit dan PMI juga sudah kosong. "

__ADS_1


"Biar saya yang menjadi pendonorya suster. " Andre.


"Baiklah Tuan, silahkan tes laboratorium darah anda terlebih dahulu. Saat ini pasien masih dalam masa observasi pasca operasi dan belum bisa di temui"


Ehm..


"Jack, kalian tetap berjaga-jaga di di sekitar sini, tahan dan hubungi aku, jika ada orang yang mencurigakan. " Andre


"Baik Tuan! "


***


Andre menuju laboratorium untuk melakukan tes darah. Setelah mendapatkan hasil pengajujiannya Andre langsung di bawa ke sebuah ruangan untuk di lakukan pengambilan darahnya.


Sekitar dua puluh menit. Donor yang di lakukan oleh Andre sudah selesai. Meski merasa sedikit pusing. Namun, Andre langsung menuju kamar operasi untuk mengetahui keadaan saudaranya.


Ia menghampiri para bodyguard yang berjaga si depan kamar operasi.


"Bagaimana, apa Andreas sudah keluar dari ruangan, atau ada kabar terbaru ? "


"Belum ada Tuan. "


"Baik teruslah berjaga."


Andre duduk di kursi tunggu, Tiba-tiba saja ia teringat jika dirinya lupa memberi tahu sang istri.


Andre meraih handphone nya kemudian melakukan panggilan ke Mayang.


"Hallo Mas, " sapa Mayang di sambungan telpon ya.


"Sayang kamu Siap-siap, Nanti ada orang suruhan ku yang akan datang menjemput kamu dan membawa kamu ke rumah sakit."


"Hah, Rumah sakit? kamu kenapa Mas? " tanya Mayang panik.


"Aku tak apa-apa. Hanya saja saat ini. aku sudah menemukan Andreas. Namun, saat ini keadaan Andreas kritis. Aku juga menghawatirkan mu. Karena ternyata musuh-musuhku telah kembali. Dan mereka hampir saja membunuh Andreas. "


Andre menghempaskan napas panjang. Terdengar vibra kesedihan dalam tutur katanya.


"Oh iya Sayang, selama perjalanan di rumah sakit, kau akan tetap dapat pengawalan super ketat. Jangan lupa bawa pin mu. Dan selama di mobil pastikan sambung telpon kita tetap terhubung. Siapkan beberapa pakaian. Kita akan berjaga di rumah sakit selama Andreas di rawat. "


"Iya Sayang "

__ADS_1


Mayang menutup telponnya kemudian ia mengusap dadanya. "Kapan suami ku bisa terbebas dari musuh-musuhnya. Aku ingin Anak-anak ku hidup dengan tenang. "guman Mayang.


Bersambung, masih ada satu bab ya gess


__ADS_2