
Adelia berjalan dengan linglung menuju kamar perawatan Resti. Iya sendiri binggung apa yang harus ia lakukan saat ini. Bagaimana caranya memberi tahu Adiaksa tentang masalah putrinya.
Adelia sampai di kamar perawatan Resti, melihat Resti yang tertidur dengan wajah yang pucat pasi.ia jadi tak berani memarahi putrinya tersebut, ia takut malah mempengaruhi keadaan Resti, apalagi di hadapan Adiaksa.
"Bagaimana Mami, Resti kenapa? "tanya Adiaksa ketika melihat wajah istrinya yang terlihat murung dan juga pucat.
"Resti tak apa-apa Papi, Kata dokter ia hanya maag hanya butuh istirahat yang cukup. " Adelia.
Adiaksa menatap ragu kearah istrinya. Namun, ia pikir lagi, jika ada yang hal serius tentang penyakit Resti, tak mungkin juga sang istri menyembunyikannya.
"Baiklah Mami, jika memang tak ada yang serius, Papi harus ke kantor. Hari ini ada rapat penting. Nanti Papi pulang lebih awal, Jaga saja Resti baik-baik."
"Iya Papi Hati-hati. "
Adiaksa keluar dari ruangan perawatan Resti.
Adelia melihat wajah Resti lekat, ia ingin marah, tapi juga merasa kasihan karena Resti sedang demam.
Kemudian Adelia meraba perut Resti.
Hah! matanya pun membulat, Ia begitu kaget ketika merasakan perut Resti yang terasa membuncit.
'Sudah berapa bulan Resti? sepertinya hamilnya sudah lebih dari dua bulan. Apa masih bisa di gugurkan untuk menyelamatkan masa depan Resti? 'batin Adelia.
Beberapa saat kemudian seorang suster masuk ke dalam ruangan.
Suster tersebut memeriksa keadaan Resti.
Adelia merasa malu pada suster, karena saat itu Resti masih menggunakan seragam putih Abu-Abu.
"Bu, Tekanan darah pasien rendah Bu,perbanyak makan dan minuman bergizi, jika perlu minum susu khusus ibu hamil. "Suster.
"Ehm, baiklah. "
Adelia mengangguk ala kadarnya.
"Suster, untuk mengetahui berapa usia kandungan bagaimana cara memeriksakan nya? " tanya Adelia.
"Biasanya bisa di perkiraan lewat taksiran hari terakhir haid Bu, tapi untuk lebih pasti bisa periksa melalui USG. "
"USG? Jam berapa dokter praktek biasanya? "
"Siang nanti jam satu bisa Bu. Daftar sekarang juga boleh, biar ngak ngantri. "
"Ehm, baiklah Terima kasih. "
Suster tersebut pun keluar dari ruangan.
Resti berfikir untuk menyembunyikan kehamilan Resti terlebih dahulu, mencari cara untuk menyelamatkan putrinya.
"Aku harus daftar, mumpung Papi sedang di kantor. "
Adelia meninggalkan Resti sendiri untuk mendapaftar praktek dokter spesialis Obgin.
***
Resti tersadar, kepala terasa sakit, ia melihat keadaan sekelilingnya tapi terasa sepi.
__ADS_1
"Mami kemana sih? " dengus Resti.
Beberapa saat kemudian Adelia kembali ke kamar Resti. Karena merasa di tinggal sendiri, Resti pun jadi kesal.
"Mami kemana saja sih?! kok aku di tinggal sendiri?! " tanya Resti sambil bersungut-sungut.
"Eh Resti, Kamu marah-marah saja! Harus nya Mami yang marah sama kamu! "
Resti kaget melihat Adelia yang terlihat murka.
"Sekarang Mami tanya sama kamu?! Siapa yang tengah menghamili kamu! "
"Hah! " Resti begitu kaget.
"Hamil? "'guman Resti lirih.
"Iya kamu hamil! Kamu bikin malu Mami saja ! Sekarang katakan siapa yang telah menghamili kamu Resti?!" Seru Adelia dengan kencang.
Adelia sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya.
Hiks hiks, Resti pun menangis tersedu-sedu. Baru tadi pagi ia melihat pacarnya selingkuh dan siang ini ada berita yang lebih mengejutkan kembali, tak pernah ia menyangka jika dirinya tengah berbadan dua.
Bola mata Adelia berpendar menatap Resti yang menangis dalam kebingungan.
"Ayo Resti katakan siapa yang telah menghamili mu?! "tanya Adelia mengulang, matanya melotot menunggu jawaban dari Resti.
.
"Hiks hiks hiks, Ferdi Mami. "
"Hah! Ferdi? Ferdi teman kamu itu?! " tanya Adelia dengan geram.
"I-iya Mami hiks. " Resti kembalu menangis tergugu.
"Ferdi itu masih sekolah, bagaimana ia bisa bertanggung jawab kepada kamu Resti?! Sekarang Mami binggung apa yang harus Mami katakan pada Papi, bagaimana Mami menghadapi semua ini. Mami pasti malu dengan teman-teman sosialita Mami pasti akan membully Mami, Kamu juga pasti malu Resti, bagaimana kamu bisa melanjutkan sekolah jika kamu tengah hamil Resti?!" teriak Adelia sejadi-jadinya.
Hiks hiks hiks.
Resti hanya bisa menangis, tak tahu harus berbuat apa.
"Sudah sekarang kamu ikut Mami! kita periksa ke dokter sekarang. Jika memang masih hitungan minggu, kita ke dukun beranak saja untuk menggugurkannya, biar kita semua tak di buat malu karena ulah kamu,"
Resti pun mengikut saja.
Sebelum Resti di periksa, ia menyuruh Resti mengganti pakaiannya agar tak kelihatan jika Resti masih berstatus pelajar.
***
Resti dan Adelia masuk ke ruangan dokter
Setelah menanyakan data diri Resti, dokter langsung menyuruhnya berbaring untuk pemeriksaan.
Adelia dan Resti tampak begitu tegang.
"Usia kandungan sudah memasuki dua belas minggu artinya sebentar lagi akan masuk trimester kedua. Semunya normal ," papar dokter tersebut setelah melihat layar monitor.
Adelia semakin syok, ternyata Resti sudah tiga bulan hamil tapi ia tak pernah menyadarinya.' Tiga bulan berati sudah tidak bisa di gugurkan lagi,' batinnya dalam hati.
__ADS_1
Resti juga kaget, jika sudah tiga bulan ia hamil.
Setelah pemeriksaan keduanya sama-sama tak banyak bicara di hadapan dokter.
Langsung saja Resti di bawa menuju ruang perawatannya. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Adelia terus memikirkan cara agar bisa menyelamatkan masa depan Resti dan juga nama baik keluarganya.
Resti kembali berbaring di atas tempat tidur, sementara Adelia mengait botol infus Resti ke standar infus.
"Tak ada cara lain Resti, kita harus minta pertanggung jawaban si Ferdi! Kita juga terpaksa harus bilang ke Papi jika kamu hamil. "
"Tapi Mami, bagaimana jika Ferdi tak mau bertanggung jawab, hiks hiks? Lagi pula aku masih mau sekolah Mami, aku belum siap untuk menikah,Hiks hiks. "
Adelia membelakakan matanya, "Kalau kamu ngak mau menikah kenapa kamu...?!" Kata-kata Adelia terputus ketika seseorang datang menyahut.
"Siapa yang hamil Mami?! " tanya Adiaksa seraya menghampiri mereka.
Adelia dan Resti menoleh ke arah Adiaksa.
"Siapa yang hamil?! suara Adiaksa semakin tinggi. Untung saja Resti di rawat di ruang VIP
Resti menatap Adiaksa dengan bibir dan tubuh yang gemetar.
Adelia pun menghampiri kemudian menghambur memeluk Adiaksa.
"Papi... Resti hamil Papi... hiks hiks hiks. " Adelia pun tak lagi mampu menyembunyikan kesedihannya.
Adiaksa mengepal tangannya, menatap geram ke arah Resti. Ia pun mendorong tubuh Adelia agar menyingkir.
Plak...Plak...Plak Adiaksa mendaratkan pukulannya ke pipi Resti.
"Anak tidak tahu diri!" Plak... Adiaksa seperti kesurupan,berkali-kali ia memukul Resti.
"Sudah Papi! kasihan dia Papi! "
Adelia coba menahan Adiaksa.
Sementara Resti menangis menahan rasa sakit dari pukulan Adiaksa.
"Bikin malu saja, lebih baik kau mati saja! "
Adiaksa hendak memukul Resti kembali.Namun Adelia menahannya.
"Sudah Papi, kasihan Resti Papi! Hiks hiks hiks. "Adelia berlutut memeluk kedua kaki Adiaksa.
"Ini semua karena didikan kamu! Kamu urus anak kamu ini! " cecar Adiaksa.
Hiks hiks hiks, karena tamparan Adiaksa, Hidung dan pipi Resti pun berdarah.
Adiaksa berlutut, kakinya melemah seketika.
"Ujian apa lagi ini ya Tuhan. Hiks hiks, " tangis Adiaksa dengan tubuh yang terguncang.
Ketiga orang tersebut pun menangis tergugu.
Bersambung dulu ya reader tersayang. Besok jatah bang Andre dan mbak Mayang.
Author mau tanya dong. Enaknya Mayang panggil Andre apa ya? panggil Mas, abang atau apaya?
__ADS_1