Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Hamil


__ADS_3

Resti tiba di sekolah dan langsung mencari keberadaan sang pacar Ferdi. Biasanya Ferdi berada di lapangan basket, sebelum masuk kelas, Ferdi biasanya bermain basket dengan timnya.


Resti menghampiri Ferdi di lapangan.Tapi bukannya malah bermain basket, Ferdi justru terlihat sedang bermesra-mesraan bersama seorang gadis. Murid baru di sekolah tersebut.


Murid baru tersebut memang cantik. Bahkan satu sekolah membicarakan gadis itu karena kecantikannya.


Dengan tangan mengepal karena geram, Resti menghampiri Ferdi dan gadis bernama Luna tersebut.


"Hey Fer, ngapain kamu sama cewek ini?! " tanya Resti dengan nada cemburu.


Ferdi yang tak menyadari kedatangan Resti pun kaget.


"Eh, kamu Res."


Ferdi jadi serba salah, ia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Resti terus menatap ke arah gadis tersebut.


"Ayo ikut gue sekarang. "Resti.


Ferdi melepaskan tangan Resti, " Apaan sih kamu, aku lagi ada urusan. "


"Urusan apaan? Urusan sama perempuan itu kan?!"


"Kalau iya kenapa?!"


"Apa?! Aku ini pacar kamu Fer! Bisa-bisanya kamu dekat dengan perempuan lain, kamu ngak mikir apa perasaan aku?! "


"Eh Resti, kita itu cuma pacaran. Bukan suami-istri, orang nikah saja bisa bercerai, apalagi pacaran! Jadi jangan sok ngatur hidup aku!"


Resti membelakakan bola matanya mendengar Kata-kata dari Ferdi.


"Apa?! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu Fer? Kita kan sudah janji untuk selalu bersama sampai kita menikah, bahkan aku sudah minta pada Papi untuk kuliah di Belanda untuk bisa Bersama-sama kamu terus Fer! Aku sudah berikan semua untuk kamu! Tapi bisa-bisanya kamu ngomong kasar sama aku! Dimana janji kamu Fer? ! "


Resti terus nyerocos, sementara Ferdi justru menanggapi dengan santai.


"Dengar Resti, aku sudah bilang aku ngak suka diatur. So ...jika kamu seperti ini mendingan kita putus! "


Ferdi langsung berpaling meninggalkan Resti yang masih syok.


Dengan geram Resti menarik kerah kemeja Ferdi." Apa! bisa-bisanya kamu bicara seperti itu Fer! "


Ferdi langsung berbalik mendorong pelan Resti.


"Apaan sih lo! "


"Gue ngak terima lo putusin begitu saja Fer! Ingat apa yang sudah aku berikan untuk kamu! " Mata Resti mulai berkaca-kaca.


"Terserah! aku sudah ngak nyaman dengan hubungan ini! Kita putus! "Ferdi


Ferdi meninggalkan Resti begitu saja yang menangis tergugu.


"Tega kamu Fer, hiks hiks hiks. "

__ADS_1


Resti menatap kepergian Ferdi, Tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap.


Bruk...


Resti pun tumbang tak sadarkan diri. Ia tak sanggup menahan kekecewaan terhadap sang kekasih yang mencampakkan begitu saja.


Para siswa yang ada di sekitar tempat itu berlarian mendekat ke Resti, hendak menolongnya.


"Eh Resti kenapa? " tanya salah seorang siswa.


"Ngak tahu, tadi aku sempat lihat seperti nya dia baru saja bertengkar sama Ferdi."


"Ya sudah, bawa ke UKS." Beberapa siswa membantu mengangkat tubuh Resti dan membawanya ke ruang UKS.


Ada juga yang memanggil Ferdi. Memberi tahunya tentang keadaan Resti.


Setelah di UKS, Resti di baringkan kemudian petugas UKS mencium kan minyak kayu putih ke hidung Resti.


Barulah ia sadar. Saat sadar Resti kembali merasa mual, ia pun segera bangkit dan berlari menuju toilet.


Huek..huek...


Seorang teman wanita Resti datang menghampirinya dan membantu nya untuk kembali kembali ke UKS.


Resti pun di minta untuk berbaring dan di periksa seadanya.


Tubuh Resti tiba-tiba saja terasa hangat.


"Resti kita panggil orang tua kamu saja ya. Biar mereka menjemput kamu. Saya takut keadaan kamu memburuk, lebih baik langsung di periksa di rumah sakit. " petugas UKS.


Ferdi setelah di beritahu keadaan Resti bukannya menghampiri Resti, ia malah kembali ke kelas dan belajar dengan tenang.


***


Adiaksa dan Adelia dalam perjalanan menuju kantor, setelah dari rumah sakit.


Mereka pun ngobrol.


"Papi lihatlah si Mayang, suaminya begitu menyayanginya, bahkan Mayang dan calon anak-anaknya akan diberi setengah dari aset yang dimiliki Andre. Mayang bahkan bisa lebih kaya dari kita Papi, jadi ngak perlulah Papi bagi warisan lagi ke Mayang lagi. Yang kita pikirkan itu bagaimana nasib Raga dan Resti. Kasihan mereka Papi! "


Adelia terus saja menyerocos.


"Mami ini bagaimana sih, Papi itu ngak percaya sama tuan Andre! Tetap saja Papi ingin Mayang tinggal bersama kita. Andre pasti hanya menginginkan anaknya dan supaya Mayang tak kabur lagi makanya dia bicara seperti itu. Pokoknya Mayang harus tetap mendapat bagian yang paling besar dari warisan papi, karena selain 50miliar itu milik Mayang, dari kecil juga Mayang tak pernah menikmati hasil Papi, Tak seperti Raga dan Resti yang sejak kecil hidup dengan mewah! " Adiaksa.


"Tapi Papi, si Resti itu sebentar lagi lulus sekolah, dia mau kuliah di Belanda, setidaknya Papi kasi ijin dong. "


"Mami! si Resti itu dekat dengan kita saja dia ngak bisa diatur, apalagi jika ia sampai kuliah di luar negeri, bukan kuliah nanti ia bikin hal yang tidak-tidak saja. Uang habis sudah banyak habis. kuliah malah ngak bener, kalau mau kuliah di sini saja, titik! "


Ketika berdebat, Adelia mendapatkan telpon tentang keadaan Resti di sekolah.


"Apa? ! Resti sakit. "


"Iya Nyonya, tubuhnya terasa panas dan Resti muntah-muntah. "

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan segera menjemputnya. "


Adelia menutup telponnya.


"Ada apa lagi Mami? "


"Resti sakit Pa, kita jemput dia sekarang. Mami takut terjadi sesuatu pada Resti Papi. "


"Ada-ada saja! Kalau sakit, kenapa sekolah tadi. " Adiaksa.


"Ih Papi memang ngak pernah peduli sama Resti dan Raga, pedulinya cuma sama Mayang." Dengus Adelia.


***


Mobil Adiaksa sudah terparkir di depan ruang UKS untuk memudahkan membawa Resti.


Resti terbaring sedih, di saat ia sakit pun Ferdi bahkan tak perduli terhadap nya.


Adelia tiba dan langsung menghampiri Resti.


"Resti sayang, kamu kenapa Nak? "


Adelia terlihat sedih melihat putrinya yang terbaring lemah.


Resti tak menjawab karena masih memikirkan Ferdi yang semakin acu terhadapnya.


Adelia meraba kening Resti. "Papi kita langsung bawa Resti ke rumah sakit saja. "


Mereka pun menopang tubuh Resti hingga menuju mobil kemudian membawanya menuju rumah sakit.


Di dalam mobil, Resti semakin lemah, sesekali ia merasakan hendak muntah hingga beberapa kali, Mobil Adiaksa harus berhenti.


Sesampainya di rumah sakit, Resti langsung masuk ke ruang UGD. Namun setelah beberapa kali pemeriksaan Resti di pindahan ke ruang perawatan.


"Bagaimana keadaan putri saya dok? " tanya Adelia ketika dokter selesai memeriksa.


Dokter pun meminta Adelia bicara di ruangannya. Sementara Adiaksa menunggu Resti di kamar.


Keduanya pun duduk berhadapan.


"Awalnya saya mencurigai jika putri nyonya itu hamil, saya pun melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dengan melakukan trs urine,dan ternyata benar, putri anda sedang mengandung. "


Seketika Adelia membelakakan matanya.


"Hamil Dok? "


Bersambung. Hai reader tersayang. Pagi2 author budah up loh. Moga nanti siang up lagi. Terima kasih sudah mendukung karya author ini.


Selamat pagi, Assalamu'alaikum.


Jangan lupa mampir juga ke novel author yang lainnya yang ngak kalah seru.


__ADS_1



__ADS_2