Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Lingerie


__ADS_3

Sesekali Hesti menghapus titik air matanya dengan sisa-sisa isak tangis sambil berjalan merangkul lengan Sean.


"Sudah Hesti, jangan nangis lagi. Nanti Orang-orang mengira aku menculik kamu lagi. " Sean.


Hesti mengerucutkan bibirnya. "Aku masih trauma Om. Gimana kalau Om ngak menemukan aku, aku mau pulang dengan siapa, hiks. "


"Ya sudah, biar kamu ngak sedih lagi, bagaimana kalau kita duduk santai sebentar, sambil menikmati es krim. "


Hesti merasa senang,kemudian ia menghapus air matanya. Es krim adalah sesuatu yang langkah baginya.


"Iya Om," sahut Hesti sambil memeluk lengan Sean semakin erat.


Sesampainya di stand es krim barulah Hesti benar-benar berhenti menangis karena melihat aneka rasa es krim yang tersedia di stand tersebut.


"Kamu mau yang mana? " tanya Sean.


Hesti menunjuk es krim warna pink, coklat dan putih. Semangkuk es krim pun tersaji di atas meja dengan beberapa toping dan garnish yang semakin menggugah selera.


"Wah, es krimnya seperti yang ada di televisi ya Om? " Hesti langsung menjemput sendok dan menyendok es krim tersebut ke dalam mangkoknya.


"Iya. Habis kan Ya! " Sean.


"Oke Om," sahut Hesti penuh semangat.


"Om ngak suka es krim ya? " tanya Hesti.


"Ngak terlalu. "


"Yah sudah buat aku semua saja, "ucap Hesti dengan begitu senangnya,sambil menarik mangkuk es krim lebih dekat lagi.


Setelah menghabiskan semangkok es krim tersebut, Hesti sedikit tenang.


Mereka pun melanjutkan niat mereka untuk berbelanja.


"Sudah selesai makannya? " tanya Sean.


Hesti mengangguk.


"Ayo kita lanjutkan lagi. " Sean.


Keduanya berdiri secara bersamaan. Sean langsung menyambar telapak tangan Hesti, kemudian menggenggam tangan Hesti.


Ser ... keduanya merasakan hal yang sama. Aliran darah mereka melesat cepat ketika telapak tangan mereka bersentuhan.


Tapi mereka berpura-pura acu, kemudian melanjutkan langkah mereka.


"Kamu mau beli baju apa? " tanya Sean.


"Ehm, mau beli pakaian dalam, pangkaian sehari-hari, terus apa ya? Tadi kakak ipar nyuruh aku beli apa, aku lupa Om. "


Hesti coba mengingat-ngingat pesanan Mayang.


"Apa mau telpon kakak ipar saja ? " tanya Sean.


"Ehm boleh Om. " Hesti.

__ADS_1


"Ya sudah cari saja yang kau ingat dulu, setelah itu baru telpon kakak ipar. "


Mereka berdua masuk ke sebuah toko yang menjual pakaian lengkap dengan merek beberapa brand ternama.


Hesti memilih beberapa kaos, celana pendek, dan beberapa baju muslimah, yang akan di gunakan nya saat berada di kawasan pondok pesantren.


Jika sebelumnya Hesti yang memeluk lengan Sean, kali ini Sean yang menggenggam tangannya kemana saja.


Keduanya pun terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah memadu kasih.


Sean membayar dengan jumlah nominal yang begitu mengejutkan Hesti.


'Hah banyak banget uang yang harus di keluarkan oleh Om Sean untuk beli pakaian ku, kasihan Om, dia sudah banyak berkorban untuk ku. Benar kata kaka Ipar, Om Sean orang yang sangat baik. Suami idaman. ' batin Hesti.


Setelah membayar, mereka keluar dari toko tersebut, dengan bergandengan tangan kembali..


"Beli apa lagi? " tanya Sean.


"Ehm boleh ngak Om aku beli peratan make up, biar aku tambah cantik seperti kakak ipar? " tanya Hesti.


"Boleh. " Sean.


Hesti tersenyum seraya melirik ke arah Sean.


'Ehm, senangnya punya suami seperti Om Sean, jadi makin sayang. ' batin Hesti.Ia pun semakin erat memeluk lengan Sean.


Hesti tak pernah melepaskan gandengnya kepada Sean. Sambil berjalan Hesti memperhatikan beberapa wanita yang menatap kagum terhadap suaminya.Ada pula beberapa orang gadis yang sejak dari jauh berbisik-bisik dan tertawa melihat ke arah Sean.


Ketika mendekat ,kelompok gadis muda yang berjumlah lima orang tersebut, menyapa Sean.


"Ih, segitunya lihatin laki orang," dengus Hesti seraya melirik sinis ke arah para gadis tersebut. Mulai ada rasa cemburu pada diri Hesti, ketika menyadari ketampanan suaminya menjadi pusat perhatian kaum hawa.


Mereka menuju stand sebuah kosmetik terkemuka.


Hesti memilih milih beberapa peralatan make up. Hesti terlihat binggung saat memilih beberapa lipstik yang ada di hadapannya.


"Om pilih yang mana ya? " tanya Hesti seraya menyodorkan dua lipstik dengan dua warna berbeda


"Mana aku tahu, kamu mau pakai yang mana? " tanya Sean.


"Om suka warna apa, aku pilih warna yang menurut om bagus saja, aku kan pingin terlihat cantik di depan Om," cetus Hesti spontan, ia tak sadar telah berucap apa yang ada di hatinya.


Sean sedikit kaget mendengar pernyataan dari Hesti tersebut.Lagi-lagi ia kembali mengulas senyum karena ke lugu-an Hesti.


"Yang mana saja,atau pilih saja dua- duanya. " Sean.


"Oke Om! "


SPG yang melayani mereka tersenyum-senyum melihat dua orang tersebut.


Mereka pun selesai membeli produk kecantikan.


"Mau beli apalagi? " tanya Sean.


"Oh iya tadi seperti yang aku bilang, kakak ipar suruh aku beli apa. coba telpon kakak ipar Om. " Hesti mulai berani memerintah Sean.

__ADS_1


Sean merogoh celananya, meraih handphone.Kemudian ia mencari nomor kontak Mayang.


Sambungan telepon tersambung.


Sean menyodorkan telpon tersebut pada Hesti.


"Hallo kakak ipar, Tadi Kak suruh aku beli apa ya yang ling-ling apa ya? " tanya Hesti.


"Oh Lingerie, kamu bilang saja sama suami kamu, dia pasti tau," sahut Mayang di sambungan telponnya.


"Oh Lingerie ya, iya deh kak! sudah dulu ya. "


Hesti menutup sambungan telponya,Sementara Mayang dan Andre mentertawakan Hesti di belakang mereka.


"Ada-ada saja Hesti. " Mayang.


Biarkan saja dia tanya Sean, biar Sean juga mengerti apa yang harus di lakukannya.


***


Setelah menutup telponnya. Hesti mengembalikan telponnya tersebut pada Sean. Kali ini Sean tersenyum simpul, karena berusaha menahan tawanya.


Sean pun mengerti rencana Mayang.


"Kata kakak, Lingerie Om. " Mayang.


"Ya sudah, kita cari lingeri Om. "


"Tapi lingerie untuk apa? " tanya Sean iseng.


"Loh kata kak Mayang klau wanita yang sudah menikah harus pakai gaun tidur itu. Apa namanya tadi, linggeri ya? "Jawab Hesti masih dengan kepolosannya, jawaban Hesti sama halnya yang di katakan sama Mayang kepadanya.


Sean kembali menyimpulkan senyumannya karena geli hati mendengar penuturan polos dari Hesti.


"Trus kakak ipar bilang apa lagi? " tanya Sean, masih tersenyum geli.


Kata kakak ipar, "Kalau sudah pakai lingerie aku ngak perlu ngapa-ngapain lagi. Tinggal pakai lingerie kemudian duduk di tepi tempat tidur kemudian tersenyum manis. "


Kali ini Sean tak lagi mampu menahan tawanya.


Ha ha Sean tertawa untuk beberapa saat.


"Ih Om kenapa tertawa? " tanya Hesti.


"Ngak, Yok kita beli lingerie untuk kamu," ucap Sean seraya mengusap bagian belakang dari kepala Hesti beberapa saat. Sean semakin menyadari jika gadis yang dinikahi benar-benar polos dan penurut.


Sesekali ia tersenyum seraya melirik ke arah Hesti.


"Kenapa sih Om dari tadi lihatin aku trus senyam senyum sendiri? " tanya Hesti dengan mengerucutkan bibirnya


"Hahaha, emang ngak boleh ya melihat kamu. " Sean.


"Boleh, tapi kayaknya Om mentertawakan aku ya? "


"Ngaklah. Suka saja lihat kamu, " sahut Sean seraya merangkul Hesti.

__ADS_1


Bersambung.masih ada, episode selanjutnya. please dukungannya ya reader apa saja, deh. thanks 😍🙏


__ADS_2