
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam.Waktu bagi keluarga Andre untuk makan malam.
Keempat berkumpul, sambil menunggu hidangan tersaji mereka ngobrol santai. Hesti kaget ketika melihat suguhan di atas meja makan mereka. Beraneka menu tersaji di meja tersebut.
Tak seperti menu di pesantren yang sederhana, Baru kali ini Hesti di sugihi hidangan lezat menggugah selera makannya.
Obrolan hangat terjadi setelah mereka menikmati hidangan tersebut. Penuh canda dan tawa.
Apalagi melihat keposan Hesti yang seakan memberi suasana baru bagi mereka.
Ketika sedang menikmati waktu bersama tiba-tiba saja Sean mendapat telpon. Sean pun menjauh agar tak menganggu ketiga orang yang tengah asik ngobrol tersebut.
Andre, Hesti dan Mayang, tetap melanjutkan obrolan mereka, meski Sean menjauh.
Sean menatap layar handphonenya. "Steven? " ucap Sean lirih dengan jantung yang berdetak kencang. Langsung saja ia mengangkat telpon tersebut.
"Hallo Sean," sapa Steven terlebih dahulu, dalam bahasa Inggris.
"Ada apa Steve? " tanya Sean dengan wajah yang sedikit tegang. Ia sendiri tahu jika Bosnya menelpon pasti ada hal yang begitu penting.
"Sean, periksa email mu. Aku sudah mengirim pesan rahasia di sana. " Steven.
"Siap! " Sean.
Keduanya pun memutus sambungan telpon. Tak banyak percakapan terjadi di antara keduanya untuk menghindari penyadapan seseorang atau kelompok yang berkepentingan.
Sean membuka email yang di kirim oleh Steven. Email tersebutberupa pesan yang menggunakan simbol-simbol yang hanya di ketahui oleh anggota intelijen Red Eyes.
Sean membaca pesan tersebut dalam hati.
📩Pukul depan pagi, Di markas Red Eyes yang bertempat di kota Jakarta. Helikopter akan menjemput mu dan membawamu menuju kota Rio de Janeiro. Misi mu kali ini adalah membuktikan adanya pemberontakan anggota Red Eyes yang terlibat dengan jaringan mafia yang lainnya. Berhembus kabar jika mereka merakit sendiri senja api sendiri untuk menyerang Red Eyes.Segera hapus pesan ini setelah selesai di baca, tertanda Steven.
Sean menatap dengan bola mata yang membulat sempurna.
Ada tugas berat menantinya dan itu bearti ia harus meninggalkan sangat istri untuk waktu yang tak pasti.
Seketika raut wajah Sean berubah.
Dengan langkah gontai ia kembali menghampiri meja makan.
Ketiga orang tersebut berhenti bercanda ketika melihat kedatangan Sean dengan raut wajah yang berubah.
"Ada apa Sayang? " tanya Hesti.
"Tidak apa-apa," sahut Sean seraya tersenyum palsu.
"Aku pikir kenapa. " Hesti.
Mereka pun melanjutkan obrolannya hingga pukul sembilan malam.
***
Sean dan Hesti kembali ke kamarnya, saat itu, Hesti melihat perubahan pada diri Sean.
"Sayang kamu kenapa? " tanya Hesti ketika mereka duduk di sisi satu tempat tidur.
__ADS_1
Sean tersenyum kecut, rasanya ia tak sanggup untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Hesti..
"Kamu sudah bosan ya sama aku? " tanya Hesti sedih dengan bibir yang mengkerucut.
Sean menarik tubuh Hesti kemudian membawanya ke dalam pelukannya serta mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala sang istri.
"Bukan itu Sayang. " Sean.
"Lalu apa? " tanya Hesti seraya bangkit dari pelukannya.
Sean menatap sedih kearah Hesti, sungguh ia tak tega meninggalkan istrinya, padahal saat ini mereka tengah menikmati bulan madu mereka.
Sean meraih tangan Hesti kemudian menggenggamnya.
"Maaf Sayang. Besok pagi aku harus berangkat menjalankan misi ke salah satu negara di Amerika Selatan. Tepatnya di kota Rio de Janeiro yang ada di Brazil, " papar Sean seraya mengusap wajah Hesti dengan tatapan berbinar.
"Hah? Besok?! " Hesti kaget.
"Iya Sayang. Tugas itu tak bisa di cancel atau di pending. Aku harus berangkat besok pagi " papar Sean dengan berat hati.
"Hikss hiks berapa lama Sayang? " tanya Hesti dengan bulir-bulir air mata yang menetes.
"Tak tahu, berapa lama. " Sean.
Hiks hiks, Hesti tak lagi mampu membendung air matanya. Ia pun langsung menghambur memeluk Sean.
Sean menyambut pelukan istri tersebut.
"Tapi Sayang, Rasanya berat hati ku jika harus berpisah dengan mu. Kita baru saja menikmati masa indah bersama. " Hesti.
Hikss Hikss hikss.
Hesti kembali menangis memeluk suaminya tersebut. Beberapa saat kemudian mereka mengurangi pelukannya.
Sean mengangkat dagu Hesti kemudian menciumi bibirnya dan melumaatnya, kemudian ia membaringkan tubuh Hesti dengan perlahan.
Malam itu mereka kembali bercinta untuk yang terakhir sebelum Sean berangkat Esok pagi.
***
Pagi-pagi sekali Hesti bangun untuk menyiapkan barang-barang yang akan di bawa oleh Sean.Sesekali ia menitikan air matanya karena merasa begitu sedih. Baru saja menikmati bulan madu yang indah sekarang harus berpisah entah berapa lama, bahkan benih cinta baru saja tumbuh di antara mereka.
Sean baru saja keluar dari kamar mandi, ia langsung menghampiri Hesti yang terlihat begitu sedih.
Kemudian ia memeluk Hesti dari arah belakang
"Jangan sedih Sayang, aku hanya pergi untuk sementara. Aku pasti akan kembali," bisik Sean ke telinga Sean.
Hiks hiks, Hesti bertambah sedih, langsung saja ia membalikan tubuhnya dan langsung memeluk Sean. Sean pun membalas, baru kali ini ia merasa berat untuk pergi.
" Hik hiks, Kalau aku kangen sama kamu bagaimana Sayang?Apa aku bisa menghubungi mu?.
"
Sean semakin erat memeluk istrinya.
__ADS_1
"Aku yang akan menghubungi mu Sayang. Tenang saja, jika misi ku telah selesai aku pasti langsung pulang, " ucap Sean seraya mengusap punggung istrinya.
"Aku khawatir sayang, pekerjaan mu pasti sesuatu yang berbahaya. Aku takut kehilangan mu Sayang. Hikss " tangis Hesti kembali.
"Tenang saja, aku sudah biasa. Aku janji akan secepatnya kembali," ucap Sean seraya menyapu air mata istrinya.
"Janji ya, Ketika aku merindukan mu ,kau pasti akan pulang. "
"Iya sayang. Aku janji. "Sean.
Keduanya pun saling mengurangi pelukannya.
Setelah cukup tenang, Sean Hesti kembali membatu sang suami membereskan barang-barang yang di butuhkan.
Setelah siap, Sean mendorong kopernya keluar dari kamar tersebut.
Mereka menuju meja makan untuk sarapan bersama.
Wajah Hesti terlihat sendu saat itu, hingga menimbulkan pertanyaan pada mereka berdua.
"Kalian bertengkar? " tanya Mayang.
Hesti menggeleng dengan lirih, mereka berdua pun duduk bersama.
"Klau tidak bertengkar, lalu kenapa kamu terlihat sedih Hesti? " tanya Mayang.
" Hari ini juga aku harus berangkat menjalankan misi ke Kota Rio de Janeiro. " sahut Sean.
"Hah! Hari ini? " Mayang ikut syok mendengar pernyataan Sean.
Mayang dan Andre saling melemparkan pandangan.
"Iya, pukul delapan nanti helikopter akan menjemput ku di markas Red Eyes. Selama aku menjalankan misi, Aku titip Hesti pada kalian. Tolong jagakan istri ku sampai aku kembali." Sean.
"Tentu saja Sean. Hesti itu keluarga ku, aku pasti melindunginya. Kau jalankan saja Tugas mu dengan sebaik-baiknya, tak perlu khawatir akan keamanan istrimu. " Andre.
"Aku percaya pada kalian." Sean.
***
Setelah sarapan, Hesti dan mengantar suaminya tersebut di depan pintu. Hesti memang tak boleh mengantar Sean sampai ke markas Red Eyes demi keamanan mereka berdua .
"Aku pergi dulu Ya," ucap Sean seraya mengecup kening Hesti.
"Iya. Hati-hati aku selalu menunggumu. " Hesti berusaha untuk tegar, meski ia merasa begitu berat untuk melepas sang suami.
Hesti melambaikan tangannya kearah mobil yang membawa suaminya, sampai mobil tersebut menghilang di ujung penglihatan.
Mayang melihat kesedihan di wajah Hesti, ia pun memeluk Hesti untuk menguatkannya, ia tahu bagaimana sedihnya perasaan Hesti saat itu.
"Sabar ya Hesti, setiap berumah tanga pasti ada ujian. Do'akan saja suami mu secepatnya kembali," bujuk Mayang.
"Iya Mbak, Hikss"Hesti kembali menangis di pelukan Mayang
Bersambung dulu, masih ada satu bab. author ngebut nulisnya nih. do'akan semoga lancar ya reader ðŸ˜
__ADS_1