
Resti berada di depan meja riasnya seraya membolak-balikan tubuhnya.
melihat perutnya sudah terlihat buncit sekali, karena usia kandungnya pun sudah memasuki usia tujuh bulan.
Resti melirik ke arah tempat tidur dimana Ferdi sedang tertidur pulas.
"Fer, Ferdi bangun Fer! Sudah siang Fer! Rencana pagi ini aku mau ke dokter kandungan Fer. Temani aku ya Fer? "
"Ehm, Nanti sore saja ya Res, Pagi ini aku kan mau sekolah. "
"Sekolah? Bukannya kalau sudah ujian ngak ada kegiatan yang penting lagi di sekolah Fer?Ayolah Fer,hari ini aku mau USG Kita bisa lihat jenis kelamin anak kita. " Resti terus berusaha membangunkan Ferdi dengan mengguncang tubuhnya.
"Apaan sih Res! Kalau aku bilang sore ya sore! Udah aku mau mandi! Mau ke sekolah! "
Ferdi langsung beranjak meninggalkan Resti yang syok karena perlakuan kasarnya.
Setelah selesai mandi Ferdi memakai kaos dan celana Jeansnya .
"Loh kok kamu pakai outfit sih Fer? bukannya kamu mau ke sekolah?"
"Emangnya kenapa? " Ferdi balik bertanya, ia pun segera keluar dari kamar tersebut dengan membanting pintu hingga membuat Resti kaget.
Resti mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur, perasaan begitu sakit melihat Ferdi yang semakin hari semakin bersikap kasar terhadapnya.
Di lantai bawah Ferdi berpapasan dengan Adelia. Bukannya menyapa mertuanya Ferdi berlalu begitu saja.
"Heh Ferdi! Mau kemana kamu? " tanya Adelia bernada sinis.
"Mau sekolah! "
Ferdi langsung menyahut tanpa berhenti.
"Dasar menantu kurang ajar kamu, ngak ada sopan santunnya! Lihat saja nanti ku bikin menyesal kamu! " cecar Adelia seraya menunjuk-nunjuk ke arah Ferdi.
Adiaksa turun ke lantai bawah dan Langsung mmenghampiri meja makan.
Adelia yang masih kesal terus mengikuti Adiaksa dari arah belakang. Kemudian keduanya duduk di tempat yang berbeda.
"Pi, lihat ngak? Semakin hari kelakuan Ferdi itu semakin meresahkan. Seperti ngak ada gunanya saja dia di rumah ini!Setiap hari hanya bisa bikin kita semua kesal! "
"Biar saja Mi, ngak usah mikirin yang ngak penting ! Lebih baik kamu urusi anak kita si Raga,"sahut Adiaksa sambil menyesap kopinya.
"Papi ya gitu, apa-apa ngak mau peduli, Si Resti itu juga anak kita Pi, Lihat saja, setelah Resti melahirkan, mami paksa Resti untuk berpisah dengan Ferdi. Karena mami sudah punya jodoh yang tepat untuk Resti. Ferdi pasti menyesal" Adelia.
"Siapa? "tanya Adiaksa dengan iseng.Sebenarnya ia malas menganggapi pembicaraan istrinya tersebut.
"Ehm, saudara kembarnya Andre, Pi. Mami lihat waktu dia datang kerumah sakit, dia melirik- lirik si Resti, Pi.
Pasti dia suka tuh sama si Resti, Restikan cantik Pi, bahkan lebih cantik dari si Mayang anak kesayangan mu itu! " cetus Adelia dengan sinis diakhir kata.
Adiaksa langsung menoleh ke arah istrinya.
"Mi, hidup kita ini sudah banyak masalah, jadi jangan cari masalah lagi dengan si Andre itu. Andre punya kekuasaan Mi, kalau kita macam-macam bisnis kita bisa hancur dalam satu hari saja Pi! "Adiaksa.
__ADS_1
"Justru itu Pi, biar keluarga kita tak dapat masalah kita nikah ikan si Resti sama adiknya si Andre itu! "
ck ck ck, Adiaksa menggelengkan kepalanya.
"Mami, belum tentu juga dugaan kamu tuh benar, jika saudaranya si Andre itu suka sama Resti. Bagaimana kalau dugaan kamu salah? sama saja kamu mencoreng nama baik keluarga kita, anak kita kayak ngak laku saja kamu obral-obral. Punya malu sedikit Mi! "pungkas Adiaksa.
Mendengar perkataan suaminya Adelia mengerucutkan bibirnya
Ketika sedang menikmati sarapan, Adelia mendapat telpon.
"Hallo, "sapa Adelia.
"Hallo nyonya, Maaf anda harus segera kerumah sakit jiwa nyonya, karena ada sesuatu yang terjadi pada Raga. "
"Apa? Raga kenapa?! " Wajah Adelia terlihat tegang saat mendengar penuturan perawat rumah sakit jiwa di telpon.
Adiaksa juga ikut tegang saat itu. Namun ia membiarkan Adelia menyelesaikan pembicaraan di sambungan telepon.
***
Raga berada di sebuah ruangan, dalam keadaan meringkuk seperti orang yang kedinginan,matanya nanar menatap kearah sekelilingnya.
Ia terlihat mencari-cari sesuatu di area kamar isolasi tersebut.
Di kamar tersebut, hanya ada tempat tidur dan sebuah nakas tempat meletakkan makanan dan minuman, selain itu tak ada lagi apa-apa di kamar tersebut.
Wajah tampan remaja belia itu sedikit memudar, karena wajah dan bibirnya yang pucat, selain itu terdapat lingkaran hitam di sekitar bola matanya.
Raga mengangkat nakas tersebut dan membawanya ketepi jendela, kemudian ia membanting nakas tersebut ke kaca jendela yang di beri pelindung tralis besi.
Brak.. suara nakas menghantam tralis besi
Satu kali benturan, hanya mampu membuat kaca tersebut bergetar.
Kemudian Raga kembali mengangkat nakas dan membenturkan nya ke tralis besi kembali.
Setelah beberapa kali benturan, barulah kaca tersebut pecah berderai, Raga membanting nakas ke sembarangan tempat, kemudian ia meraih salah satu pecahan kaca yang begitu runcing,setelah itu dengan kaca tersebut ia menyayat lengannya dan menghisap darah yang keluar dari lengannya.
Petugas pun berlari menuju ruangan isolasi dimana Raga di rawat, setelah mereka sampai mereka melihat Raga yang tak sadarkan diri tergeletak dengan mulut yang terdapat noda darah dan pergelangan tangan Raga yang terus saja mengalihkan darah segar.
***
Adiaksa dan Adelia melewati lorog rumah sakit dengan tergesa-gesa. Saat yang bersamaan itu, terlihat beberapa orang perawat yang juga berlari dengan cepat.
Mereka pun tiba di sebuah ruangan, di mana Raga tengah di tangani. Raga saat ini menjalani rehabilitasi narkoba di salah satu rumah sakit jiwa.
Ketika sampai di kamar Raga mereka melihat Raga yang sudah tak sadarkan diri dengan pergelangan tangan di perban. Dengan urat nadi yang hampir putus.
Lagi-lagi Adelia dan Adiaksa terlihat begitu hancur. mereka menangis sedih melihat keadaan putranya.
"Raga hiks hiks, Ada apa lagi ini Raga? " tangis Adelia.
Sementara Adiaksa menundukkan kepalanya menangisi nasib dan masa depan putranya kelak.
__ADS_1
Seorang dokter dan dua orang perawat keluar dari ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi pada anak saya dokter? " tanya Adelia sambil menahan isak tangisnya.
"Hormon dopamin pada pasien meningkat, hingga ia sulit mengendalikan diri hingga menyebabkan ketergantungan terhadap sesuatu. Sehingga pasien akan bertindak agresif untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan, meski harus, melukai anggota tubuhnya. "
"Apa yang di inginkan Raga dokter? " tanya Adelia.
"Raga menginginkan darahnya yang mengandung zat adiktif . "
Adelia tersentak kaget, Tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
***
Resti merasakan pegal-pegal dan begitu lelah. Karena ia sudah janji dengan dokter kandungan pagi ini sebelumnya. Resti memutuskan untuk pergi sendiri.
Resti meminta supir pribadinya untuk mengantarnya ke praktek dokter pada pukul sepuluh. Saat itu sudah tak ada siapa-siapa di rumahnya.
Resti sendiri tak mengetahui keadaan Raga, karena Adelia tak sempat memberitahunya.
Ketika mobil Resti berjalan melewati salah satu jalan raya, Resti melihat mobil Ferdi terparkir di sebuah cafe.
'Inikan mobil Ferdi, sepagi ini di cafe? ' batin Resti sambil menoleh melihat ke arah mobil yang terparkir di tepi jalan.
"Pak berhenti Pak! " seru Resti.
Mobil tersebut pun berhenti.
"Katanya ke sekolah, ngak tahunya ke cafe! Aku minta antar periksa dia ngak mau! " dengus Resti sambil membuka pintu mobil.
Resti yang geram, segera memasuki cafe tersebut dengan menggendap mencari keberadaan Ferdi.
Bola matanya membulat sempurna ketika Ferdi duduk di cafe bersama seorang wanita, yang saat itu menyandarkan kepala pada baju sang suami bersama dua orang pasangan lainya yang juga terlihat mesra.
Tak hanya berdua, Resti juga sempat mendengar jika mereka berencana nginap di villa untuk merayakan kelulusan mereka nanti.
"Setelah lulus nanti, kita berempat nginap di villa milik bokap gue, Bagaimana sayang? " tanya Ferdi seraya mengecup kening wanita di sampingnya.
"Wow, bakalan seru tuh, kita bisa pesta-pesta sepuasnya. " wanita di samping Ferdi menyahut
Mendengar hal itu, Resti tak lagi bisa menahan emosinya. Langsung saja ia menghampiri Ferdi, kemudian menjambak rambut wanita yang sedang bermesraan bersama suaminya tersebut.
"Akh! "wanita itu berteriak kesakitan, seketika sosok Resti jadi pusat perhatian seluruh pengunjung cafe.
"Resti?! " Ferdi.
Resti masih menjambak rambut gadis tersebut seraya menatap tajam kearah Ferdi yang tengah menatapnya.
Bersambung dulu ya guys.
Author rekomendasi novel author nih, yang udah tamat, yang belum mampir cus mampir. 🙏😍
__ADS_1