Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Tak Rela


__ADS_3

Setelah keadaan Resti tenang, Adiaksa bermaksud membawa bayi tersebut untuk di makamkan.


"Resti, sini Nak. Biar Papi bawa bayi itu sekarang untuk di makamkan. " Adiaksa.


"Tidak Pi, aku masih ingin bersama dengan anak ku," sahut Resti sambil memeluk bayi tersebut, kemudian menangis lagi.


"Resti, jangan begitu. Anak itu harus segera di makamkan. Kasihan dia Nak. " Bujuk Adiaksa.


Karena Resti terlihat masih enggan menyerahkan bayi tersebut. Mayang pun ikut membujuknya.


"Resti, serahkan anak itu sama ayah. Ayah benar, anak kamu harus segera di makamkan, kasihan dia. "Mayang ikut membujuk.


Hiks hiks. Resti masih memeluk bayinya, rasanya ia tak rela jika anaknya tersebut di makamkan dengan segera. .


"Kalau dimakamkan, nanti aku ngak bisa melihatnya lagi Pi.Hiks, " sahut Resti sambil menangis.


Ia kembali menimang-nimang bayi tersebut.


Melihat hal itu Mayang ikut menitikan air matanya.


"Kamu bisa mengunjungi makamnya Resti, Papi juga sudah memfoto bayi kamu. " Adiaksa.


"Ayo Nak, serahkan bayi kamu," pinta Adiaksa sambil menyodorkan tangannya untuk meraih bayi tersebut.


"Tidak Pi,Nanti saja Pi, biarkan aku memeluknya sampai puas , " Resti semakin erat memeluk bayinya tersebut dengan tangisan semakin jadi.


Hiks hiks.


"Anak ku sayang, " ucap Resti dengan air mata yang berlinang. Ia pun mencium pipi mungil bayinya tersebut berkali-kali.


Mayang dan Adiaksa semakin binggung, Rasanya tak tega memisahkan Resti dan bayinya. Tapi mau di kata apa ,bayi tersebut harus di makamkan.


"Ayo Nak berikan bayi itu," pinta Adiaksa dengan lemah lembut.


"Ngak Pi, aku masih ingin memeluknya. " Resti menjauhkan bayi tersebut dari jangkauan Adiaksa kemudian kembali memeluknya.


Resti bahkan tak menghiraukan rasa sakit pasca operasi. Ia terus menggendong bayi mungil tersebut dan menaruhnya dalam dekapan.


Melihat hal itu Mayang ikut menangis sambil bersandar pada dada bidang sang suami.


Begitu pun Adiaksa yang semakin serba salah atas sikap Resti.


Mereka tahu kondisi kejiwaan Resti pasti masih labil saat itu, dimana ia di hadapkan dengan beberapa masalah sekaligus, sementara tubuhnya saja masih lemah karena saat keguguran Resti kehilangan banyak darah.


"Kasihan Resti Mas. Sepertinya dia stress. " Mayang.


"Coba kamu bantu bujuk saja lagi. Jangan di keras, dia pasti masih trauma. " Andre.

__ADS_1


"Iya Mas, aku tahu apa yang Resti rasakan saat ini, pasti berat melalui ini semua, setelah menyaksikan suami selingkuh di depan mata, berkelahi dengan perempuan yang merebut suaminya ,ditambah ia mengalami keguguran yang menyebabkan putrinya meninggal. Kejiwaannya pasti terguncang saat ini. " Mayang.


"Iya Sayang. Kamu bantu bujuk dia, biarkan dia menyerahkan bayinya untuk di makamkan. " Andre.


"Iya Mas, aku coba. "


"Hati-hati Sayang.Kalau dia tidak mau, jangan di paksa. Aku takut justru kamu yang di dorong nanti. " Andre.


Mayang pun kembali bergerak mendekati Resti.


" Resti, Ayo Berikan pada ayah. Anak itu harus segera di makamkan. Kasihan dia, kita juga akan berdosa Resti," bujuk Mayang dengan nada bicara Hati-hati.


"Hiks, Hiks. Nanti saja! Aku masih ingin memeluknya, masih ingin menciumnya," ucap Resti terbata-bata sambil memeluk erat bungkusan bayi tersebut.


"Resti jangan begitu, justru kalau kamu sayang padanya, biarkan anakmu ini tenang di alamnya. , Mungkin ini jalan terbaik untuknya Nak. " Adiaksa.


Resti memeluk erat bayi tersebut, seperti orang stress.


"Iya Resti, berikan anak mu, Biarkan Ayah yang menguburnya. Jika kamu menyayanginya kamu harus lakukan hal ini. Kasihan dia Resti, " timpal Mayang


Hiks hiks Resti semakin menangis, namun akhirnya ia merenggangkan dekapannya.Di tatap nya lagi bayi tersebut.


Adiaksa meraih bayi malang tersebut, sementara Mayang mengambil alih dengan memeluk Resti.


"Sabar Resti, anak kamu sudah bahagia saat ini, dia sudah tenang di surga sana," tutur Mayang sambil mengusap punggung Resti.


"Sudah-sudah Resti, tenangkan dirimu, " bujuk Mayang.


"Pergi saja Yah, Biar aku dan Mayang yang menjaganya disini. " Andre.


"Baiklah. "Adiaksa.


"Mayang Ayah titip Resti , setelah mengurusi pemakaman bayi ini, ayah akan pulang. Tolong kamu jaga adik kamu baik-baik."


"Tenang saja Yah. Mayang akan jaga Resti. Sampai ayah kembali. "


Hiks hiks Resti masih menangis, matanya mengekori Adiaksa yang baru keluar dari ruangan tersebut. Ketika Adiaksa dan bayinya menghilang Resti kembali menangis.


Hua hua hua.. Tangis Resti dengan terisak.


Mayang kembali memeluk Resti.


"Yang sabar Resti, tenangkan dirimu. Pikirkan juga kesehatan mu. " Mayang kembali mengusap punggung Resti.


Saat itu tubuh Resti berguncang dengan isak tangis yang semakin lirih. Beberapa saat kemudian Resti terbaring tak sadarkan diri dalam dekapan Mayang.


"Resti! Resti sadar Res! " Mayang.

__ADS_1


"Sepertinya Resti pingsan Sayang. " Andre.


"Aduh Mas, tolong letakan tubuh Resti Mas, kasihan dia habis operasi. " Mayang.


Andre menahan tubuh Resti kemudian membaringkan dengan perlahan.


"Mas Lihatlah luka dibagian bekas operasi berdarah Mas. Tolong panggil Suster. " Mayang.


Andre bergerak cepat menekan tombol emergency yang ada di dinding tepat di atas tempat tidur Resti.


Resti terbaring dengan wajah dan bibir yang begitu pucat.


Beberapa saat kemudian seorang suster datang menghampiri mereka.


"Suster, kenapa luka bekas operasi Resti berdarah ya? " tanya Mayang


Suster tersebut pun memeriksa kemudian mengganti pakaian Resti.Sementara Andre menunggu di luar. Ia mengerahkan anak buahnya untuk membantu Adiaksa menyiapkan keperluan pemakaman. Karena tak mungkin Adiaksa menyiapkannya sendiri, sementara ia harus mengurusi pemakaman. Semua perlengkapan untuk pemakaman sudah di siapkan oleh orang suruhan Andre.


Resti pun selesai di periksa.


"Suster bagaimana keadaan pasien? " tanya Mayang.


"Tekanan darahnya terlalu rendah, sebaiknya pasien jangan terlalu banyak bergerak. Untung tak terjadi sesuatu pada luka operasinya. Nanti saya akan konsultasikan ke dokter, agar memberi obat tidur pada pasien. Agar ia bisa tenang dan tak stress lagi. "


"Iya Suster terima kasih. "Mayang.


Setelah suster tersebut pergi. Mayang duduk di samping Resti sambil mengusap kepala Resti.


"Kasihan sekali kamu Resti, kamu pasti tertekan dengan masalah yang bertubi-tubi menimpa kamu. " Mayang.


***


Di dalam mobil Ferdi hanya diam sembari menatap kearah luar jendela.


"Pokoknya Mami ngak mau lagi kamu berurusan dengan keluarga Resti,Ferdi! Sudahlah kamu persiapkan saja, keberangkatan kamu ke luar negeri untuk kuliah. Lupakan semua yang pernah terjadi antara kamu dan Resti!" Mona


"Tapi Mi, Aku jadi ngak tenang sebelum dapat maaf dari Resti. Aku merasa bersalah Mi.Bagaimana aku bisa lupa semua yang terjadi."Ferdi.


"Alah sudahlah Ferdi, nanti kamu juga bisa lupa sendiri. Lagian Mami ngak pernah setuju jika kamu balik lagi sama Resti. Sudahlah tinggalkan dia! Cari saja jodoh yang lain" Mona.


Ferdi menghempaskan napas beratnya, saat ini ia masih terbayang-banyang akan bayi mungilnya, begitupun wajah Resti yang menangis. Ferdi seolah-olah di hantui perasaan bersalah yang amat dalam.


Bersambung reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. sambil nunggu author up, Author punya rekomendasi novel keren. Dengan judul Mt Culun CEO karya pinkamiliar cus mampir



__ADS_1


__ADS_2