
Setelah mengambil keputusan tersebut, Andre mempersiapkan penjagaan yang lebih ketat di rumahnya, untuk melindungi Sean dan Hesti, juga anak dan Istrinya.
"Hesti akan melahirkan di rumah ini Sean, untuk sementara kau jangan keluar dari rumah ini.Ganti nomor seluler mu. " Andre.
Sean hanya mengganguk, ia menurut saja dengan apa yang di perintahkan saudaranya.
"Memangnya kenapa Mas? bukannya kita memiliki banyak bodyguard?" tanya Mayang.
"Sayang, ini berhubungan langsung dengan Red Eyes, mata-mata Red Eyes bisa dengan mudah melacak keberadaan Sean. Bukan tak mungkin mereka melakukan penyerangan di rumah ini. "
"Aku tak ingin mereka tahu dimana Sean bersembunyi."
Hesti melihat kearah Sean, ia pernah menonton film mafia dan setahu nya mafia adalah sebuah perkumpulan orang kuat yang kejam .Saat itu Hesti begitu ketakutan karena membayangkan suaminya dalam keadaan bahaya.
"Kakak ipar, tolong lindungi suami ku, aku tak mau sesuatu terjadi padanya, hiks. " Hesti.
Andre dan Mayang melihat ke arah Hesti yang terlihat khawatir, sambil memeluk lengan Sean.
"Tenang saja! Asal kalian tidak keluar untuk beberapa waktu, rumah ini adalah tempat yang paling aman untuk kalian. Jika hanya puluhan orang yang menyerang di rumah ini, mereka tak akan mampu menemukan kalian. " Andre.
"Apa maksud mu Mas? "
"Rumah kita memiliki bunker bawah tanah. Yang di rancang anti nuklir. Jika keadaan mendesak kalian bisa menggunakannya. "
"Untuk apa Mas?! kita punya ratusan bodyguard untuk apa bersembunyi di dalam sana?! " tanya Mayang bernada panik.
"Aku khawatir karena masalah ini, Steven mengira Sean telah berkhianat, Mungkin ia berpikir jika Sean masuk dalam anggota Black Eyes. "
"Semoga saja tidak terjadi perpecahan antara Black Eyes dan Red Eyes. Tapi aku sudah siap untuk kemungkinan yang terburuk dari semua itu." Andre.
"Apa kemungkinan terburuknya Mas? " tanya Mayang lagi.
"Kemungkinan terburuknya adalah, Perang antara Red eyes dan blue Eyes. "
"Jika itu terjadi, mau tak mau aku harus ikut, karena Black Eyes masih dalam kekuasaan ku saat ini. " Andre.
"Apa tak bisa di rundingan terlebih dahulu Mas, aku ngak suka jika terjadi peperangan. Kenapa kita tak mencoba hidup dengan damai saja."
"Itu hanya kemungkinan terburuknya, semoga saja Steven berlapang dada untuk melepaskan Sean, aku akan mencoba untuk bernegosiasi dengan Steven. "
Mendengar hal tersebut, Hesti jadi tertekan, Ia merasakan kekhawatiran berlebihan.
Tiba-tiba saja Hesti merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Aduh! kenapa perutku tiba-tiba saja sakit?! "
Aw sakit! Tiba-tiba perutku terasa sakit!" keluh Hesti.
"Beb, kau kenapa? " tanya Sean yang terlihat cemas.
Akh! Akh!
Mayang menghapiri Hesti.
"Rasanya seperti apa Hes? " tanya Mayang sambil meraba perut Hesti.
"Rasanya seperti di remas kak! " keluh Hesti.
__ADS_1
Mayang menoleh ke arah Andre, rupanya Andre tengah menelpon seseorang.Ternyata Andre lebih siaga.
***
"Hallo dokter Wina! " sapa Andre.
"Iya tuan Andre, ada yang bisa saya bantu? "
"Saya minta anda segera datang kemari! "
"Untuk apa tuan? "
"Untuk membantu persalinan! Untuk apalagi? ! " dengus Andre.
"Siapa yang mau melahirkan Tuan? perasaan saya baru beberapa bulan yang lalu, istri tuan melahirkan? "
"Sudah jangan banyak tanya! Sekarang juga kamu datang, bawa rekan-rekan kamu juga! "
"Ok tuan, tapi bayarannya masih sepuluh kali lipat kan? "
"Lima belas kali lipat, kalau anda datang tepat waktu. "sambar Andre.
Dokter Wina semakin semangat.
"Iya tuan, kalau gitu, saya segera kesana! "
"Ingat jangan terlambat! jika terlambat bukan gaji anda yang saya potong, tapi kepala anda yang saya potong! " canda Andre. Ia pun menutup telponya.
Hesti sudah merasa sedikit tenang karena, perasaan mulasnya berangsur-angsur mereda.
"Sean, bawa istrimu ke ruang persalinan, nanti akan ada dokter yang akan membantunya saat persalinan."
"Baiklah, "Sean.
Sean menggendong Hesti,sementara Mayang dan Andre mengikuti mereka dari arah belakang.
Mayang kembali menemui kedua anaknya, sementara Andre membuka pintu ruang persalinan.
***
Dalam waktu setengah jam saja dokter Wina dan ketiga rekannya tiba di rumah Andre.
Mereka memeriksa keadaan Hesti mulai dari tekanannya hingga pembukaan jalan lahirnya.
"Baru buka empat. Masih lama Tuan. Boleh kami pulang dahulu? " tawar dokter Wina.
"Tidak boleh, Kalian harus tetap berada di sini, sampai saudara iparku melahirkan! ".Andre.
Apa boleh buat, mereka pun terpaksa tetap berada di sana sampai Hesti melahirkan.
Sudah dua belas jam, dokter Wina dan rekan-rekan berada di rumah Andre. Mereka tak di perbolehkan keluar dari rumah tersebut.
Karena rumah Andre cukup nyaman, tak ada yang merasa bosan menunggu di sana. Para suster dan dokter pun di jamu makan siang dan makan malam ala restoran mewah dengan menu Western dan Jepang.
Sean tetap menunggu sang istri, sebelum proses persalinan, Hesti di perbolehkan untuk makan dan Sean lagi yang menyuapi Hesti, sementara orang tua Hesti sedang di jemput oleh orang suruhan Andre.
Sang suami selau siaga menjaganya, membuat iri keempat petugas medis yang notabene masih single tersebut.
__ADS_1
Sean yang gagah tak sungkan mengusap titik keringat yang keluar dari kening istrinya. Ia juga memijiti pinggang Hesti terasa sakit.
"Masih sakit beib? " tanya Sean sambil memijit punggung istrinya.
"Sakit sekali Beib, Akh. Perut ku terasa di remas-remas! " sahut Hesti sambil meringis.
Andre sesekali datang untuk melihat keadaan Hesti. Sambil menjaga dua buah hati mereka, Sementara Mayang sudah beristirahat terlebih dahulu.
Waktu menunjukkan pukul dua belas tepat tengah malam.
Hesti mulai menunjukkan Tanda-tanda akan terjadinya persalinan.
Dokter Wina dan tiga orang suster pun siaga membantu persalinan.
"Akh! sakit sekali! " ringis Hesti, ia pun menggenggam erat tangan kekar suaminya.
Sean ikut gemetaran, baru pertama kali ini ia melihat wanita melahirkan.
Melihat sang istri yang begitu menderita saat persalinannya membuat Sean semakin yakin jika keputusan yang ia ambil adalah tepat.
Hesti mulai mengejan mengikuti instruksi dokter Wina.
"Ayo Sayang, sedikit lagi. " Dokter Wina.
"Akh!" teriak Hesti sambil mendorong janinnya dengan lebih kuat.
Wajahnya sampai memerah saat itu.
Sean mengambil tisue karena keringat yang keluar dari tubuh Hesti sebesar isi jagung.
"Atur nafas! Sekali lagi Sayang! ayo atur nafas! " seru dokter Wina.
Hesti mulai kelelahan, proses persalinan yang lama membuatnya kehilangan tenaga. Apalagi saat di periksa Hesti sempat mengalami darah tinggi sebelum persalinan.
Dengan kekuatan yang tersisa ia mendorong kuat. Sambil menghembuskan nafasnya, wajah semakin memerah saat itu.
"Akh!? " seru Hesti sampai wajahnya memerah.
Oek oek terdengar suara bayi yang menangis kencang.
"Akhirnya bayi kita lahir Sayang. " Sean.
" Iya Beib." Jawab Hesti lirih, ia pun menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Saat itu Sean pikir Hesti langsung terlelap. Ia pun meraih tissue, untuk membersihkan keringat yang mengucur deras .
"Allhamdulilah, bayinya laki-laki? " dokter Wina.
Para petugas media tersebut menyambut bayi itu. masing-masing mereka ada tugas tersendiri. Ketika sedang sibuk mempersiapkan bayi tersebut, mereka di kagetkan dengan suara Sean yang memanggil istrinya.
"Beb! Bangun beb! Beb! kamu kenapa Beib?!"
"Pasien mengalami pendarahan pasca melahirkan! " dokter Wina.
"Beib bangun Beib! " seru Sean, bola mata pria itu terlihat memerah. Dokter Wina dan seorang asisten segera mengambil tindakan ,sementara yang lainnya tetap menjalankan tugas mereka, yakni membersihkan bayi.
"Beib bangun Beib! " seru Sean,hingga terdengar di telinga Andre.
Bersambung dulu gengs
__ADS_1