
Waktu terus berlalu, kini kandungan Hesti menginjak sembilan bulan. Dan dalam beberapa hari lagi dirinya akan melahirkan.
Hesti dan Sean pun sudah mempersiapkan segala keperluan untuk persalalinan anak mereka.
Karena untuk menikmati masa-masa indah mereka sebagai calon orang tua, keduanya pun menyempatkan diri untuk berbelanja pakaian bayi mereka.
Hesti memilih beberapa pakaian bayi laki-laki karena hasil USG terakhir mereka menyatakan jika anak mereka berjenis kelamin laki-laki.
"Sayang, yang bagus mana Ya? " tanya Hesti ketika memilih dua warna berbeda dari pakaian yang serupa.
"Terserah yang mana saja, aku rasa bagus semuanya. " Sean.
"Ok lah kalau begitu. " Hesti melanjutkan lagi perburuan mencari pakaian bayi mereka.
Saat sedang asik memilah pakaian tersebut, Tiba-tiba Sean mendapatkan telpon dari Bos besarnya Red Eyes.
"Dari Steven? " guman Sean dengan jantung yang berdetak tak karuan. Sean hanya kwatir mendapatkan misi saat Hesti melahirkan, karena ia tak akan bisa meninggalkan misi tersebut. Dengan berat hati Sean mengangkat telpon tersebut.
"Hallo ada Steve? " Sean.
"Sean! baca email dari ku. " Steve langsung menutup sambungan teleponya.
Sean terdiam beberapa saat ketika mendapatkan telpon dari Steven. Jika Steven mengirim email, pasti ada tugas yang begitu penting.
Sean langsung memeriksa Email yang masuk dari ponselnya.
Benar saja ada sebuah pesan rahasia dengan menggunakan simbol rahasia yang hanya di ketahui oleh anggota intelijen elit Red Eyes.
Berikut bunyi pesan tersebut.
Sean! Besok kau harus kembali ke markas besar, ada misi besar untuk mu. Sebuah kartel telah merusak perdagangan senjata kita. Kelompok mereka di namakan Blue Dragon. Rencananya Red Eyes akan melakukan penyerangan dalam beberapa hari ini,Beberapa pasukan elit Red Eyes akan memimipin penyerangan ini, termasuk diri mu. Helikopter yang menjemput mu dalam perjalanan.
Sean semakin syok, beberapa saat ia terdiam di tempatnya berdiri saat itu. setelah mendapatkan pesan rahasia tersebut. Di lihatnya kearah Hesti yang tengah sibuk berbelanja.
Hesti pun tanpa sengaja melirik kearah Sean yang menatap dengan tatapan aneh.
"Beib, kenapa? " tanya Hesti melihat ada yang tak beres dari Sean.
"Aku harus pergi menyelesaikan misi hari ini juga. " Sean.
__ADS_1
Seketika bola mata Hesti berkaca-kaca.
"Berapa lama? " tanya Hesti sambil mengusap perutnya yang sudah buncit.
Sean menggeleng kan kepala dengan lirih.
"Aku tak tahu berapa lama. " Sean.
Air mata yang menggenang langsung meluncur di pipi mulus Hesti.
"Jadi saat aku melahirkan kamu ngak ada di samping aku? " tanya Hesti dengan vibra yang begitu sedih.
Hesti menatap Sean dengan begitu sedih. Begitu pula Sean yang tak tega meninggalkan sang istri di saat-saat Hesti membutuhkan dirinya.
"Kita pulang sekarang, kita bicarakan pada Andre. " Sean.
Setelah berbelanja mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang.
Di dalam mobil Hesti terlihat begitu sedih, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Sean yang sedang menyetir.
Sean membelai rambut panjang istrinya.
Hesti sadar betul, resiko apa yang terjadi jika Sean tak menjalankan misinya, Karena itulah dia pasrah jika saat melahirkan, sang suami tak berada di sampingnya.
Tiba di rumah Sean dan Hesti langsung di sambut oleh Andre dan Mayang. Karena sebelumnya mereka sudah bicara di telpon.
Mayang menggedong baby girlnya sementara Baby Boy sedang tidur bersama bi Inah.
Sean dan Hesti duduk bersebelahan.
Andre langsung menanyakan keputusan Sean. Keputusan harus segera di ambil belum helikopter Red Eyes datang menjemput Sean.
"Bagaimana keputusan mu Sean? " tanya Andre.
"Aku tetap menolak misi tersebut, Karena aku ingin menjaga istri ku ketika persalinan dalam beberapa hari nanti. " Sean.
"Bagus kalau begitu, aku setuju itu. Biar aku yang bicara pada Steven. " Andre.
"Tapi Beb, aku takut terjadi sesuatu padamu. Red eyes akan menduga jika kau membangkang dari misi yang mereka berikan, " sambung Hesti.
__ADS_1
"Tak apa, aku tahu resikonya, " jawab Sean datar, sebenarnya ia juga khawatir jika tidak menjalankan misi tersebut, bisa jadi, Hesti dan anaknya dalam bahaya.
Andre menatap lekat wajah Sean.
"Apa yang membuat mu ragu Sean? " tanya Andre.
Sean menatap ke arah Andre, kemudian menggelengkan kepala dengan lirih.
Andre bisa membaca pikiran Sean, karena apa yang Sean pikirkan sama dengan apa yang ada di pikirannya.
"Jangan takut Sean! Kau ada dalam perlindungan di rumah ku. Aku tak akan membiarkan siapa pun yang menyakiti keluarga ku. Putuskan saja apa yang ingin kau putuskan, karena setiap keputusan memang memiliki resiko tersendiri." Andre.
Sean tertunduk beberapa saat, baru kali ia iragu dalam menjalankan misinya.
Bukan karena takut terhadap musuh-musuhnya, tapi Sean sudah berjanji pada Hesti untuk selalu bersama dalam suka dan duka, ia tak ingin membiarkan istrinya menderita sendiri ketika persalinannya.
Lagi pula, sudah sejak lama ia ingin meninggalkan Red Eyes, karena memperdalam ilmu agamanya bersama sang Kakek, Sean jadi sosok yang lebih religius. Sedangkan yang ia hadapi ketika menjalankan misi semuanya bertentangan dengan ajaran agama.
Andre manatap lekat kearah Sean.
"Bagaimana Sean? "
"Aku tetap pada keputusan ku, aku akan tetap bersama Hesti, mendampinginya saat melahirkan nanti. " Sean.
Andre tersenyum.
"Ok, sekarang telpon Steve Katakan padanya jika kau tak bisa menjalankan misi kali ini. " Andre.
Sean mengangguk, Ia pun mengirim email pada Steven tentang ketidak sediannya dalam menjalankan misi tersebut.
***
Notifikasi email masuk ke smartphone Steve.
Steve sedikit memperlebar pupil matanya ketika melihat pesan tersebut.
"Damn! Traitor! "
Kemudian ia mengepal tangannya.
__ADS_1
"Kau berani menolak tugas yang ku berikan! Lihat saja! " Steve.
Bersambung dulu reader. Udah tiga bab nih.Semoga terpuaskan hasrat membaca anda 🙈😅🙏