
Sudah beberapa hari ini Raga di rawat di rumah sakit. Adelia dan Adiaksa terlihat begitu sedih, karena setelah sadar Raga tak seperti Raga yang dulu. Ia seperti orang yang Linglung.
Raga menatap langit-langit dengan tatapan hampa, bibir masih terlihat begitu pucat.
"Raga, kamu kenapa? lihat apa Nak ? " tanya Adelia.
Seketika tubuh Raga berguncang dan tatapan matanya ke atas.-Beberapa saat kemudian tubuh Raga seperti menjadi kaku dengan bola mata keatas.
Hiks, hiks. Adelia menangis ia semakin menghawatirkan keadaan Raga.
"Raga! Raga kenapa kamu Nak? "tanya Adelia semakin panik
Adiaksa ikutan panik ketika melihat reaksi Raga.
"Biar aku panggil susternya." Adiaksa.Ia pun berlari menghampiri suster.
Adelia menangis sejadi-jadinya, ia, semakin khawatir terhadap kondisi Raga.
Beberapa saat, suster dan seorang dokter menghampiri mereka.
Setelah di periksa dan di beri suntikan Keadaan Raga kembali seperti semula.
Setelah memeriksa keadaan Raga, Adelia dan Adiaksa menanyakan keadaan Raga.
"Kenapa dengan anak saya dok? " tanya Adelia.
"Pasien mengalami kejang. karena gangguan syaraf pada otaknya. "
"Hah, syaraf otaknya? oh tidak! hiks " tangis Adelia
"Lalu dokter apakah akan berbahaya bagi perkembangan anak saya dokter? " tanya Adelia seraya menahan isek tangisnya.
"Tergantung Nyonya, setelah ini kita akan lakukan pemeriksaan dengan CT Scan. Dan jika seandainya keadaan pasien sudah membaik, Pasien sebaiknya di rehabilitasi di lembaga khusus yang menangani pecandu narkoba. Atau di rumah sakit jiwa, jika efek dari obat-obatan yang di konsumsi pasien menyebabkan gangguan mental dan kejiwaan pada pasien sendiri."
Hah! Adelia semakin syok mendengar penuturan dokter. Kedua suami istri tersebut pun menangis meratapi nasib putra kesayangan mereka.
Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan terkecuali menyesal, tapi menyesal pun sudah terlambat, semua tak akan pernah kembali lagi seperti sedia kala.
Setelah beberapa saat kemudian Raga kembali sadar. Ia melihat ke sekeliling dengan aneh.
Adelia menghampiri putranya tersebut seraya menghapus air matanya.
"Raga kamu sudah sadar? Apa kamu mendengar apa yang mami katakan Nak? "tanya Adelia dengan sisa isak tangisnya.
Raga hanya diam, ia tak merespon apa-apa.
Bahkan selama beberapa saat Raga tak berkedip.
Melihat reaksi Raga, Adelia kembali menangis.
"Raga! Hikss hiks, jangan bikin Mami takut Nak," tutur Adelia seraya memeluk putranya tersebut.
***
Setelah beberapa hari di pesantren, akhirnya Andre sekeluarga berpamitan pada sang Kakek.
__ADS_1
Sebenarnya mereka begitu betah tinggal bersama sang kakek.Namun, karena kesibukan mereka pun harus mengakhiri masa liburannya.
Setelah membereskan barang-barang mereka, kedua pasangan tersebut keluar untuk menemui sang Kakek sekalian berpamitan.
Kiyai Abdullah duduk di atas sofa di ruang tamunya. Raut wajah sedih tergambar jelas di balik keriput yang menyelimuti seluruh permukaan wajahnya.
Dengan berat hari keempatnya menghampiri kakek.
Andre dan Mayang sebagai anak tertua, mereka lebih dulu sungkem pada sang Kakek. Mereka berdua dalam posisi berlutut di hadapan kakek.
"Kek, kami permisi dulu. Maaf selama kami di sini, kami selalu merepotkan kakek. "Andre memeluk sang Kakek.
"Iya Andre, Kakek juga mengerti jika kalian semua memiliki kesibukan. Sering-seringlah menemui kakek mu ini. Maklum saja Kakek sudah tua.Mungkin umur kakek tak lagi panjang." tutur sang kakek dengan bersahaja.
"Tentu Kek, saya akan berusaha meluangkan waktu untuk bertandang menemui kakek. " Andre.
Meski terlihat sedih.Namun sang Kakek terlihat tegar menjalani masa tuanya seorang diri jauh dari cucu nya.
Setelah Andre pamit, kini giliran Mayang.
Mayang menghampiri kakek bersungkenan pada kakek," Kek Terima kasih ya atas penerimaan kakek atas kehadiran kami di sini. Semoga kakek panjang umur hiks, agar Mayang bisa menitipkan Anak-anak Mayang di tempat ini, hiks hiks," tutur Mayang dengan sedih hingga berurai air mata.
Sang Kakek yang tadinya terlihat tabah, kini tak mampu lagi membendung perasaan harunya. Karena ia juga ingin melihat cicitnya lahir kedunia ini.
"Iya Cu. Semoga niat baik kamu di ijabah oleh Allah. "
"Aamin Kek. " Mayang.
Keduanya pun saling memeluk haru.
Ia pun menangis haru memeluk Sean.
"Dek, sering-sering jenguk kakek ya Dek," ucap sang Kakek dengan tubuh yang berguncang memeluk cucunya.
"Iya Kek, setiap liburan aku akan menyempatkan diri menemui Kakek, lagi pula mertua ku juga harus aku kunjungi mereka tinggal di dekat sini juga kek! . "
Sean.
"Benar Sean, selagi orang tua mu masih hidup ,sering-sering berkunjung menemui mereka. " Kakek.
"Iya Kek. "
Setelah Sean kini giliran Hesti.
Hesti menghampiri Kakeknya.
" Kek Hesti pamit ya. Terima kasih ya Kek karena sudah menerima Hesti dengan baik. "
"Iya Cu, Maaf juga kalau kakek ada salah kata dalam menyampaikan sesuatu atau cara kakek menasehati kalian terdapat Kata-kata yang kurang mengena. jangan tersinggung Ya. "
"Iya Kek. " Hesti.
"Sebelum Hesti pulang, Hesti minta doanya dong Kek. "
"Doa apa? " tanya Kakek seraya tersenyum.
__ADS_1
"Ehm, doakan Hesti agar bisa segera hamil. " Hesti.
Keempat orang tersebut saling melemparkan senyuman. Mereka senang dengan permintaan Hesti, apalagi sang Kakek.
Kakek tersebut tertawa sambil mengusap bagian atas kepala Hesti.
"Iya cu. InsyaAllah setiap kakek berdoa, kakek akan doakan kebaikan untuk kalian semua."
"Semoga kamu segera hamil, biar bisa, menyusul kakak ipar mu. " Kakek
"Ehm iya, makasih Kek." Hesti pun memeluk sang Kakek.
Setelah berpamitan pada semua warga Pondok Pesantren tersebut mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka.
Sean membawa mobil mewahnya melaju membelah jalan raya.
Sepanjang jalan mereka ngobrol dan bercanda.
"Hey ingat ngak, sebentar lagi kita sampai pada titik dimana Sean menabrak Hesti! "seru Mayang.
"Ingat Dong. Iya kan Sayang? " tanya Hesti pada Sean, ia pun merangkul lengan Sean.
"Cie-cie, udah ngak panggil Om nih Ye! " Andre meledek Hesti
"Hus, kamu nih Mas, bukan nya dulu juga aku panggil kamu Om, bahkan sempat panggil kamu dengan sebutan Tuan karena kamu gila hormat, iya kan? " cetus Mayang.
"Bagus kakak ipar, serang saja terus, taunya mengejek orang, ngak sadar ternyata dirinya lebih parah! " Sean.
Andre kaget karena istrinya lebih membela adiknya tersebut.
"Iya, terus saja belain adik ipar mu itu. " cetus Andre sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ih Mas kamu ngak usah ngambek, jadi jelek tau! Ngak ngambek aja sudah jelek! "
"Ih sembarangan. Kamu itu wanita pertama yang bilang aku jelek! Tapi kamu juga wanita pertama yang bikin aku cinta mati," ucap Andre seraya merangkul dan memeluk Mayang, kemudian Andre mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Mayang.
"Ehm, so sweetnya kamu Mas. Padahal dulu galaknya minta ampun. " Mayang kembali meledek Andre.
"Is, jangan ungkit lagi yang pahit, ingat saja kenangan yang indah-indah, agar kita selalu merasa bahagia "
"iya sayang, bercanda kok. " Mayang
Sean dan Hesti tersenyum, Hesti pun semakin mendekatkan diri memeluk lengan Sean semakin erat.
"Kamu mau di peluk dan dicium juga? " tanya Sean.
Hesti langsung mengangguk.
Sean tersenyum kemudian langsung merangkul tubuh Hesti menariknya dalam pelukan, ia pun menciumi pucuk kepala Hesti berkali-kali.sama seperti yang Andre lakukan.
Kedua pasangan tersebut terlihat begitu bahagia. Mereka pun memutar sebuah lagu dengan lirik
' Kemesraan ini janganlah cepat berlalu'
Bersambung dulu. Besok lagi ya reader.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya lope u All