Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Hikmah?


__ADS_3

Waktu terus berlalu.


Kesedihan terus dialami oleh Resti, Dirinya kini mengidap baby blues syndrom pasca melahirkan.


Sepanjang harinya ia hanya menghabiskan waktunya menangis di tempat tidur.


Tak ada seseorang pun yang menemaninya di rumah, sementara Adelia sibuk mengurusi Raga.


Resti yang sudah seminggu lalu keluar dari rumah sakit, bermaksud ziarah ke makam putrinya.


Resti meminta sopir pribadi mengantarnya ke sebuah pemakaman umum.


Ketika mobil keluar dari rumah, ada mobil lain yang membuntuti mobilnya.


Tatapan Resti lurus kearah depan sesekali ia melihat kearah luar jendela. Dengan perasaan sedih yang mendalam, sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak lagi menetes.Namun, air mata tersebut jatuh juga kemudian tertahan di dagunya.


Setengah jam perjalanan, mereka pun tiba di sebuah pemakaman.


Dengan langkah gontai,Resti menghampiri sebuah pusara kecil. Dengan nisan kecil yang bertuliskan Nur Jannah, yang artinya cahaya surga.Yah bayi tersebut di beri nama Nur Jannah.


Dengan berlutut Resti duduk di samping pusara kecil tersebut.


Hanya bulir airmata yang menemani kesendirian Resti kala itu.


Di usapnya batu nisan yang bertuliskan nama bayinya.Sembari meluapkan perasaan rindunya.


Langkah seseorang terdengar menghampiri nya. Namun, tak sedikit pun Resti menoleh ke arah suara, tatapan matanya tetap fokus ke arah batu nisan.


Tiba-tiba saja seorang datang memeluknya dari arah belakang hingga membuat Resti kaget. Ia pun menoleh kearah.


"Ngapain kamu ke sini Fer? !" tanya Resti dengan nada tak bersahabat, seraya menghapus titik air matanya.


"Res, aku ingin bicara padamu, " ucap Ferdi sambil merangkul tubuh Resti.


"Bicara saja Fer, "sahut Resti seraya menepis tangan Ferdi.


"Res, Aku sudah berusaha menemui kamu di rumah. Tapi aku sendiri tak di ijinkan masuk oleh satpam. " Ferdi.


"Resti, Aku mengaku salah Res, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk membuktikan jika aku bersungguh-sungguh. " Ferdi.


Resti hanya diam memaku, dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Resti, baik orang tua kamu atau orang tua aku, ngak berhak memisahkan kita Res, Aku ngak akan pernah menceraikan kamu Res. "


Resti tetap diam.


"Aku berharap kamu beri aku kesempatan untuk terakhir kalinya. Kita bisa bangun rumah tangga kita kembali," ucap Ferdi dengan bersungguh-sungguh. Di raihnya tangan Resti, kemudian di ciumnya punggung tangannya.


"Please Res, kita bangun kembali rumah tangga kita. Aku mau kau ikut aku ke Amsterdam. " Ferdi coba membujuk Resti.


"Hiks, maaf Ferdi, aku harus pergi. "


Resti bangkit dan kemudian berjalan menjauhi Ferdi. Seolah dia tak lagi perduli dengan apa yang ingin Ferdi bicarakan.

__ADS_1


"Res, please Res. Tolong berikan aku kesempatan sekali saja Res. "


Ferdi menarik tangan Resti tapi di tepis oleh Resti. Resti terus menjauh darinya.


Ferdi tak menyerah ia terus membuntuti Resti hingga tiba di depan mobil.


"Resti, tolong beri kesempatan aku sekali lagi Res' Sebelum aku berangkat, aku ingin pergi bersama kamu. " Ferdi.


"Resti! Res! " seru Ferdi


Resti tetap membuka pintu mobil, kemudian ia masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan panggilan Ferdi.


Setelah duduk di mobil Resti meminta sang sopir segera meninggalkan Ferdi.


"Jalan saja Pak! " Resti.


Mobil tersebut pun perlahan meninggalkan kawasan komplek pemakaman.


Sementara Ferdi termenung melihat Resti yang tak memberi kesempatan padanya.


Di dalam mobil Resti kembali menangis sedih. Berat baginya melupakan Ferdi yang begitu ia cintai.


Hiks hiks. Suara tangisan Resti terdengar di telinga sopir.


"Non beberapa hari ini, saya perhatian Non sedih terus. " sopir.


Resti tak menjawab ia terus saja menangis.


"Non, kalau bapak boleh memberi saran. Jika memang Non Resti masih cinta kepada Mas Ferdi, sebaiknya Non Terima saja Mas Ferdi kembali Non. Mungkin Mas Ferdi baru menyadari kesalahannya,setiap musibah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya Non. Mungkin saja hikmah dari peristiwa ini adalah perubahan terjadi pada Mas Ferdi Non.Mas Ferdi bisa jadi lebih bertanggung-jawab lagi"


"Maksud bapak, Berilah Mas Ferdi kesempatan untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kalian. Semoga dengan ini rumah tangga Non Resti jadi sakina, mawadah, warohma. " sopir.


Resti tertegun mendengar penurunan pak sopir tersebut.


***


Ferdi bersiap mengepak barang-barangnya. Rencananya ia akan melanjutkan studinya ke kota Amsterdam.


Sebelum berangkat, Ferdi berencana menemui Resti kembali. Ia pun menyiapkan satu tiket untuk Resti, Ferdi berharap Resti berubah pikiran dengan menerimanya kembali. Dan mereka kembali membangun rumah tangga mereka jauh dari orang ketiga yang ingin merusak bahtera rumah tangganya bersama Resti. Termasuk kedua orang tua mereka.


Ferdi keluar dari kamar kemudian di hampiri oleh Mona.


"Sudah siap Ferdi?! " tanya Mona.


"Barang-barang aku sudah siap Mi, tapi sebelum berangkat aku mau menemui Resti terlebih dahulu."


"Ha! Menemui Resti? Ferdi kamu sudah gila ya?! Ngapain lagi kamu menemui perempuan itu!" Mona.


"Resti itu istri aku Mi, aku ngak mau pergi tanpa dia. " Ferdi terus melangkah sembari mendorong kopernya.


Ferdi masuk ke dalam mobil, dengan koper di bagasi nya.


"Ferdi kamu jangan nekat! Mami ngak suka kamu rujuk sama Resti. "

__ADS_1


"Siapa yang rujuk Mi, aku ngak pernah cerai kok sama dia!. Aku mau bawa dia pergi bersamaku ku. Terserah Mami setuju atau tidak! " Ferdi.


"Oh Ya Mi, sampai bertemu di bandara. "


Ferdi membawa mobilnya keluar dari halaman rumahnya.


Dengan perasaan kesal Mona pun terpaksa menuruti permintaan Ferdi.


***


Resti berada di dalam kamar, Tiba-tiba saja ia mendengar suara keributan yang terjadi di lantai bawah.


Suara tersebut, terdengar seperti memanggil-manggil namanya.


Karena penasaran, Resti pun keluar dari kamar dan menghampiri asal suara. Ternyata Ferdi tengah berdebat dengan Adelia, dengan dua satpam yang memeganggi kedua belah tangan Ferdi.


"Aku ingin membawa istri ku Mi! Akulah yang lebih berhak atas Resti! " Ferdi.


"Tidak bisa! Resti tak boleh ikut dengan kamu Ferdi! Lebih baik kamu ceraikan Resti, karena aku sudah punya calon suami untuk putriku! "Adelia.


"Calon suami?! Tapi Resti itu istri ku. Dan aku belum mengucapkan kata talaq padanya. Aku masih suaminya! " seru Ferdi sambil meronta-ronta karena tangannya di pegang oleh satpam.


"Resti! Resti! berilah aku kesempatan Resti! Aku ingin membawamu bersama ku, kita akan bahagia hidup di Amsterdam! Tak akan ada orang ketiga yang akan merusak rumah tangga kita! " seru Ferdi ketika melihat Resti turun dari lantai atas.


"Resti! masuk! jangan dengarkan dia! Kamu ngak akan bahagia hidup bersama dia! Ingat bagaimana dia telah menghianati kamu! " seru Adelia memperingkan Resti.


"Resti aku kesini untuk menjemput kamu! Ayolah Resti! ikut bersama ku! " Ferdi tak menyerah.


"Sudah! Pak satpam usir dan seret dia dari sini! Jangan biarkan dia datang lagi! " Adelia.


Kedua satpam pun menyeret Ferdi keluar dari rumah mereka. Masih terdengar suara Ferdi yang memanggil namanya.


"Resti! Ayolah ikut dengan ku! "Ferdi.


Resti menangis tergugu sebetulnya ia masih begitu mencintai Ferdi.


Pintu rumah Adelia di tutup, sementara suara Ferdi masih terdengar memanggil-manggil namanya.


"Resti! Resti! " Hingga suara tersebut semakin jauh.


Resti menangis, hatinya terlihat gelisah dan bimbingan.Tak ingin sang putri kembali terpengaruh oleh kata-kata Ferdi, Adelia langsung mengambil tindakan.


"Resti! masuk ke kamar kamu! " titah Adelia, sambil menarik paksa tangan Resti.


Bersambung dulu ya 😍


Sambil nunggu author up yang belum mampir, mari mampir ke novel author yang ngak kalah seru, Dengan judul.


Istri Pengganti Tuan Muda Yang Cacat



Kenapa harus menikah dengan mu

__ADS_1



__ADS_2