
❌Mengandung adegan 🔞dewasa yang cukup umur bisa di skip, bijaklah dalam memilih bacaan. ❌
"Hamil?! " tanya Sean ragu.
"Iya Sayang. Aku hamil. " Sambut Hesti seraya melingkarkan lengannya pada leher Sean.
"Benarkah?! " tanya Sean seraya menatap Hesti dengan bola mata yang berbinar karena bahagia.
"Iya Sayang. "
"Ya Tuhan..., terima kasih sayang. " Peluk Sean seketika.
Cup cup.. Sean mencium kening ,pipi dan bibir ,Hesti berkali-kali, saking bahagianya dia.
Hesti hampir menangis karena haru, selain rindu, ia juga bahagia melihat Sean yang terlihat bahagia karena mendengarkan berita kehamilannya.
Sean duduk membelakangi Hesti kemudian memeluknya dari arah belakang.
"Berita yang sangat membahagiakan! Kamu mau minta apa sebagai hadiah karena telah memberi kabar gembira ini?! " tanya Sean.
"Aku ngak mau apa-apa, aku cuma mau kau ada di sini, Jangan kemana-mana lagi. " pinta Hesti sambil mengelayut manja dengan memeluk lengan Sean.
"Iya sayang. Aku berusaha untuk ada di samping mu. Hanya saja aku masih ada tugas dan tanggung jawab pada Red Eyes. Namun, tetap kau yang tetap jadi nomor satu. " Sean.
Kemudian Sean mencium perut ramping istrinya.
Mayang dan Andre saling melempar senyum, mereka berdua ikut merasakan kebahagiaan sama yang di rasakan oleh Sean dan Hesti.
"Wah sebentar lagi keluarga kita akan jadi keluarga besar nih, semoga saja, kamu hamil anak kembar juga Hesti.Biar rumah kita rame di penuhi suara Anak-anak kecil menangis dan tertawa. " Mayang.
"Semoga saja Kakak ipar! " sahut Hesti sambil mengusap perut rampingnya.
Sementara Sean tak henti-hentinya menciumi sang istri.
Keduanya saling menempel seolah-olah tak ingin terpisahkan.
Melihat hal tersebut, Mayang mengambil inisiatif untuk pulang karena ingin memberi kesempatan pada keduanya untuk saling melepaskan rindu,padahal rencananya mereka akan menginap di rumah sakit sebelumnya.
"Mas,karena Sean sudah datang, kita pulang saja Yuk! "
"Pulang? tapi ini hampir tengah malam sayang , dan kamu sedang hamil, nanti terjadi sesuatu pada kamu. " Andre.
"Iya ngak apa-apalah, banyak-banyak doa saja. Aku juga bekal gunting kok. Katanya mahluk halus ngak akan mendekat kalau ada barang barang yang keras. " Mayang.
"Iya sayang, tapi kasihan kalau kamu berjalan melewati koridor dengan perut buncit gitu, pasti kamu lelahkan? Sudah besok saja, aku sudah suruh bodyguard ku untuk bawa air bed untuk kita tidur malam ini!" ucap Andre dengan tegas.
"Hm yakin ngak mau pulang? padahal aku mau kasih jatah sama kamu malam ini, beronde-ronde. " Mayang melingkarkan lengannya pada leher Andre seraya mengesekan hidung mereka.
__ADS_1
Mendengar hal itu,Andre langsung berubah pikiran.
"Iya Sayang pulang Yuk, lebih enak istirahat di rumah, "sahut Andre sambil tersenyum nyengir.
" Huh kalau di sogok begituan saja urusan lancar ya. Dasar otak kamu mas! katanya peduli sama aku, kamu itu! " dengus Mayang sambil menarik telinga Andre
"He he, kesempatan sayang. Ngak biasanya kamu minta beronde-ronde. " sahut Andre dengan senyuman mesumnya.
"Ngak ada beronde-ronde,satu ronde saja sudah cukup, yuk pulang! "
"Ehm satu ronde pun tak apalah, yang penting ngak kemponan lagi. "
"Ayuk sayang kita pulang. " Andre langsung merangkul tubuh mungil Mayang, kali ini dirinya yang sudah tak sabar untuk pulang.
Andre dan Hesti hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Hesti ,Sean! kami permisi dulu. " Mayang.
"Ehm, iya kakak ipar Hati-hati," sahut mereka serempak.
Andre dan Mayang keluar dari ruangan tersebut, sementara Sean langsung menutup pintu dan menguncinya. Kemudian ia menghampiri Hesti.
Sean mendekat kearah Hesti seraya tersenyum nakal.
"Kangen ngak sama aku? " tanya Sean berbisik mesra di telinga Hesti.
Harumnya nafas Sean yang berhembus menyapu hangat permukaan kulit Hesti hingga membuat gairahnya semakin bergelora.
Hingga membuat Sean semakin geram.
"Kalau gitu kita kangen-kangenan yuk, " ajak Sean.
"Di sini? sekarang?" tanya Hesti ragu, saat itupun pergelangan tangannya sudah terpasang infus.
"Dimana lagi? "
Sean langsung mendaratkan kecupan lembut di bibir Hesti, tapi langsung di sambar ganas olehnya. Keduanya meluapkan perasaan rindu dengan saling bercumbu.
Sean memperdalam ciuman nya hingga napas kedua insan tersebut saling memburu. Hesti mengusap belakang tubuh sang suami karena merindukan kehangatannya.
Sementara Sean melepas penutup tubuh istrinya. sambil menyapu permukaan kulit nya dengan telapak tangannya dari atas sampai bawah. Mereka tak lagi peduli di mana posisi mereka saat itu berada.
Pertempuran hangat pun terjadi di atas tersebut.
Kresek..kresek..Akh ehm eks.. suara tempat tidur yang berguncang saling beradu dengan suara lengkuhaan dan ******* lirih keduanya.
Hesti yang awalnya merasa lemas dan lemah akibat kekurangan cairan karena dehidrasi, menjadi segar dan semangat seperti mendapatkan suntikan obat yang mujarab.
__ADS_1
Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan suara yang melengkuh dan mendesah, tubuhnya pun mengeluarkan keringat karena terus-terusan di guncang olehnya tubuh kekar milik Sean.
Karena sudah lama tak melakukan penyatuan, permainan tersebut di lakukan secara singkat. Hanya sepuluh menit berlansung. Satu hentakan terakhir
membuat kedua mencapai puncak kenikmatan.
Sean menumbangkan tubuhnya di samping tubuh Hesti, seraya mengatur nafasnya. Hesti memeluk tubuh Sean seraya melempar tatapan sayunya, seperti menginginkan penyatuan mereka kembali.
Sean tersenyum sambil mengusap wajah Hesti yang tersenyumnakal ke arahnya.
"Kenapa? masih kurang?kamu mau lagi " tanya Sean.
Ehm Hesti mengangguk lirih seraya tersenyum nakal kembali
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, pertarungan ronde keduapun terjadi di tempat tidur rumah sakit tersebut.
Kresek,... kresek... suara tempat tidur terdengar lagi di ikuti suara ******* lirih, tempat tidur tersebut jadi amburadul dengan sprey dan selimut yang lembab akibat terkena percikan keringat yang keluar dari kedua tubuh bugil tersebut.
Rasa rindu serta perubahan hormon saat hamil membuat Hesti lebih agresif. Sean bahkan sampai kelelahan karena meladeni hasrat sang istri.
Setelah tiga ronde yang panjang barulah Hesti tertidur lelap dengan wajah cerah dan tersenyum yang bahagia.
Inilah pertama kalinya Hesti tidur dengan tenang sejak kepergian suaminya.
Karena perjalanan yang jauh dan pertempuran panjang selama tiga ronde berturut-turut Sean yang kelelahan pun langsung tertidur. Keduanya tertidur dalam keadaan tubuh bugil di tutupi selimut.
***
Mentari bersinar cerah pagi ini.
. tok...tok...tok..
Sean tersadar ketika ada suara gedong pintu dari luar ruang perawan Hesti.
Langsung saja ia bergegas turun mencari pakaian mereka.
"Sayang !bangun Sayang! pakai pakaian kamu dulu! mungkin itu suster atau dokter yang datang untuk memeriksa. "
"Hah! " Hesti ikut panik.
Keduanya pun kelabakan mencari dan memunguti pakaian mereka yang berceceran di lantai, sementara pintu masih belum berhenti di gedor.
Bersambung.
Aduh maaf ya, bab ini harus author revisi berkali-kali 😓 dengan alasan mengandung adegan dewasa
Sambil nunggu author up, mampir di novel author yuk, dengan genre romantis komedi yang bisa bikin kalian senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Dengan judul: Kenapa Harus Menikah Denganmu.