Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Pertempuran Perdana


__ADS_3

โŒMengandung adegan ๐Ÿ”ž dewasa. Yang belum cukup umur, skip saja ya. โŒ


Sean membuka pintu, seketika aroma lembut menyapa indra penciumannya.


Jantungnya berdetak kencang, ketika ia melihat sesosok bidadari dengan pakaian minimnya. Apalagi sang bidadari yang mengenakan satin hitam tersebut tengah tersenyum lembut kearahnya. Langsung saja jiwa kelelakian Sean meronta. Perkutut yang terlelap di balik sangkar segitiga nya, seketika berdiri dengan tegak.


Sean pun jadi serba salah, sementara Hesti kembali tertunduk tersipu malu.


Sean memang sering melihat wanita seksi di Eropa, tapi kala itu perasaannya biasa saja. Tapi kali ini ada getaran yang memacu adrenalinnya.


Sean berpura-pura acu, ia pun menghampiri lemari melepaskan atribut sholat nya.


Hal yang sama juga terjadi pada Hesti, jantungnya berdetak kencang dengan perasaan yang bercampur baur.


Setelah melepas pakaian sholatnya, Sean menghampiri Hesti yang duduk di atas tempat tidur, Hesti hanya tersenyum seraya menundukkan wajahnya yang merona karena malu.


Jemarinya meremas ujung kain yang ia kenalan. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika Sean mendaratkan bokongnya tepat di sampingnya duduk saat itu, jarak mereka saat itu hanya beberapa senti.


"Kamu menunggu aku ya? " tanya Sean dengan berbisik di telinga Hesti.


Bulu kuduk Hesti seketika meremang saat ia mencium nafas segar yang keluar dari hembusan nafas Sean.


Jantung Hesti semakin berdetak kencang dengan perasaan gugup yang luar biasa, saking gugupnya Hesti hanya bisa tersenyum kemudian menggangguk dan kembali menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


Sean tersenyum, seraya menyibak sedikit rambut Hesti yang menutupi ceruk leher jenjang dari gadis tersebut.


Dengan lembut, Sean mendaratkan kecupan pada leher Hesti.


Tubuh Hesti terasa begetar, dengan irama jantung yang semakin tak menentu.


Hesti bisa merasakan lembut hembusan hangat nafas Sean yang menyapu lembut permukaan kulit Hesti.


Hesti mulai memejamkan matanya, ketika Sean meraba telapak tangannya kemudian mengengenggamnya, Hesti pun membalas genggaman dari jari jemari Sean yang ber-otot tersebut.


Bola mata Hesti merem melek, dengan nafas yang memburu menahan gejolak hasratnya yang tiba-tiba saja muncul, saat bibir seksi Sean menyesap perlahan bagian leher di dekat telinga, perlahan kecupan tersebut mulai turun hingga kebagian leher bagian bawah.


Sean berhenti sebentar sambil mencium aroma tubuh Hesti pada bagian ceruk lehernya.


Sean kembali menyesap lembut bagian sensitif itu.


"Akh! " tanpa sadar desaahan lolos begitu saja dari bibir mungil dan seksi milik Hesti. Mungkin karena Hesti tak pernah di sentuh oleh lawan jenisnya, hingga sedikit saja sentuhan Sean, bisa dengan mudah membakar gairahnya.


Setelah meninggal beberapa jejak merah kebiru-biruan pada leher Hesti, Sean mengangkat wajahnya untuk menatap Hesti dengan tatapan penuh pengharapan. Apalagi Hesti saat itu tersenyum malu-malu kearahnya.


Sean kembali mendaratkan kecupan di bibir Hesti yang terlihat begitu menggiurkan.


Dengan lembut, Sean mencumbunya, menyesap dan meneguk madu manis dari bibir suci Hesti yang tak pernah terjamah siapa pun.


Hesti hanya bisa diam saat bibir kenyal Sean yang hangat dan kenyal mengecup bibinya beberapa kali, tak hanya itu, dengan perlahan lidah Sean mencoba membuka mulut Hesti.

__ADS_1


Hesti pun membuka lebar mulutnya dan membiarkan bibir Sean mengeksplorasi bagian rongga mulutnya, cumbuan mereka pun semakin dalam dan semakin panas.


Sean mendorong pelan tubuh Hesti dan menahannya agar Hesti terbaring secara perlahan.


Beberapa saat saja tubuh Hesti terbaring di atas tempat tidur, hingga memudahkan Sean untuk menikmati seluruh lekuk tubuh Hesti, sebelum dirinya melepaskan keperjakaannya kepada sang istri.


Sean belum juga menarik diri ia terus mencumbui bagian atas tubuh istrinya, satu tangannya menggenggam erat tangan Hesti, sementara tangan yang lain mengeksplorasi setiap inci tubuh sang istri.


Telapak tangan Sean menyapu lembut kulit tubuh Hesti dari leher hingga bagian pinggannya. Tangan Sean perlahan menyusup melalui ujung kain yang dikenakan sang istri.


Tanpa aba-aba, langsung saja jemari Sean menarik lembut segitiga pengaman istrinya.


Pelan tapi pasti, pelindung tersebut dengan mudah Sean lepaskan.


Area terlarang Hesti tak lagi tertutupi apapun, apalagi ujung gaun tersebut sedikit tersingkap kearah atas.


Hingga jemari Sean menyentuh bagian tubuh yang berbentuk delta tersebut.


Sean mencoba menyentuh area sensitif tersebut dengan mengusapnya secara lembut.. .


Tubuh Hesti seketika menggelinjang karena merasakan sensasi geli-geli sedap.


"Akh! lagi lagi Hesti di buat melengkuh panjang.


Hesti hampir kehilangan nafas karena Sean terus menjajal bibinya dengan kecupan yang tak berhenti, apalagi Setengah tubuh Hesti di tindih oleh tubuh kekar Sean.


Melihat wajah istrinya yang memerah karena kesulitan bernafas, Sean mengangkat wajahnya seraya tersenyum memandangi Hesti dengan tatapan penuh damba.


"Ehm," Hesti mengangguk lirih.


"Tapi akan terasa sakit," bisik Sean kemudian ia mencium bagian daun telinga istrinya.


"Ngak apa kok Om. Aku rela merasakan sakit, asal bisa membuat Om bahagia, seperti Om yang sudah banyak berkorban demi kebahagiaan ku, " ucap Hesti seraya menatap Sean dengan tatapan berembun.


Tangan Hesti bergetar meraih wajah Sean, kemudian mengusap pipi Sean seraya melemparkan senyum manis. Seolah-olah Hesti telah siap memberikan miliknya yang paling berharga pada sang suami.


Sean membalas senyuman tersebut kemudian mendaratkan kecupan mesra di kening Hesti.


Mereka Sama-sama menyiapkan diri untuk pengalaman pertama.


Sean bangkit kemudian melepaskan seluruh penutup tubuhnya tanpa satu helai pun benang yang tersisa.


Hesti begitu kaget ketika melihat senjata laras panjang milik sang suami yang berdiri tegak dengan gagah berani.


Hesti menarik nafas panjangnya, ia begitu ngeri saat membayangkan bagaimana rasanya jika benda besar dan panjang tersebut menerobos celah sempit miliknya yang belum pernah terjamah sekali pun.


Hesti terbaring dengan pasrah, dengan napas yang memburu, sementara Sean sudah berada diatas tubuhnya mengukung tubuh mungilnya.


Sean kembali mendaratkan kecupan pada dua bukit kenyal milik Hesti secara bergantian.

__ADS_1


Sambil melepaskan linggeri yang menutupi tubuh sang istri.


Dalam beberapa detik saja, tubuh Hesti jadi polos, melihat kemolekan tubuh Hesti, Sean semakin tak kuat menahan gairahnya.


Langsung saja ia memulai serangannya.


Dengan lembut ia mendorong meriam sakti miliknya tersebut kedalam gua sempit sang istri.


Sementara bibirnya terus menjajal bagian atas tubuh Hesti.


"Akh! Akh!" teriak Hesti tertahan, ketika Sean mendorong semakin dalam menerobos pelindung suci miliknya. .


Sean berhenti beberapa saat, ia membiarkan Hesti mengambil napasnya terlebih dahulu.


Setelah Hesti merasa rileks, Sean kembali menyerang, kali ini dengan mendorong lebih kuat lagi.


"Akh! " teriak Hesti tertahan sambil menggigit bibir bagian bawahnya seketika airmata mengalir deras karena merasakan sakit yang luar biasa.


Sean terus menerobos gua sempit milik istrinya, namun kali ini dengan gerakan yang lebih lembut dan berirama.


Sean begitu menikmati permainan perdananya, hingga ia terus melengkuh setiap kali ia mengayunkan senjata keluar masuk di lorong yang telah basah oleh larva merah dan hangat tersebut.


" Akh Ehm eks! " Sean terus melengkuh dengan suara yang lirih, begitu pun Hesti yang mulai menikmati permainan suaminya, perasaan sakit terus perlahan berganti dengan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.


Suara lengkuhan keduanya silih berganti. Sean semakin mahir memainkan gerakannya, dengan berbagai variasi.


Kedua tangannya meremaas dua gundukan kenyal milik sang istri, membuat Hesti semakin mengerang lirih, Tubuh Hesti sedikit berguncang-guncang ketika Sean menambah laju kecepatannya di iringi hentakan-hentakan yang membuat Hesti menggelinjang.


Tubuh Sean di penuhi dengan keringat yang mengucur deras.


Setelah setengah jam, Sean tak mampu lagi menahan peluru untuk menghambur menembakan benih-benih yang akan tumbuh di rahim sang istri.


Satu hentakan terakhir Sean, membuat keduanya melengkuh panjang.


"Akh! Ehm Esh. "


Tubuh Sean tumbang di atas tubuh mungil sang istri.


Setelah mengatur nafasnya, Sean kembali menatap wajah sang istri di iringi senyum puas.


"I love my wife," ucap Sean.


"I love you Om." Hesti


Sean tertawa kecil, kemudian ia kembali mencium lekat kening istrinya dan memeluknya dengan penuh cinta.


Hesti pun membalas pelukan suaminya. Sean mencium pipi Hesti berkali-kali sebagai ungkapan penghargaan atas pengorbanan yang Hesti lakukan.


Keduanya pun saling memeluk penuh cinta, bahkan Hesti sampai menagis hari karena terlalu bahagia.

__ADS_1


Bersambung, tinggal kan kesan dan kesanya. vote juga jangan lupa ya he he plis lop u reader ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2