
Karena hari ini akhir pekan, Andre membawa Mayang untuk mengikutinya latihan menembak.
Dengan Revolvernya Andre menyasar plat yang berjarak seratus meter tepat di hadapannya dengan jitu.
Dor Dor Dor... Tiga tembakan tepat pada sasaran.
Tepukan tangan bergema memecah kesunyian tempat terbuka yang awalnya tegang tersebut, sudah tiga kali Andre berhasil menyasar dengan akurat. Andre memang mahir di segala bidang olahraga.
Yeay ! Mayang bersorak seraya bertepuk tangan. Iya pun menghampiri Andre.
"Wah..aku baru tahu ternyata suami ku hebat. Aku pikir cuma bisa menembak di rahim ku dengan tepat sasaran ha ha. "canda Mayang di sela-sela Andre mengisi amunisinya.
Andre menyunggingkan senyum sekilas
"Baru tahu ya. Aku tak hanya handal menggunakan pistol, tapi juga mahir menggunakan panah dan senjata lainnya. " Andre.
"Ehm, begitu ya. "
"Sini Sayang, aku ajari kau menembak. "
Andre menarik tangan Mayang kemudian memeluknya dari belakang.
"Pegang pistol ini. "
Mayang mencoba memegang pistol dengan tangan yang gemeteran.
"Aduh baru megang pistol saja kau sudah gemetar. Bagaimana mau menembak tepat sasaran, " dengus Andre.
"Ih aku ngak terbiasa pegang pistol seperti ini. Palingab cuma bisa mengang pistol kamu. " canda Mayang.
Andre tersenyum, kemudian menggigit daun telinga Mayang dengan mesra.
"Nanti aku tembak lagi baru tahu rasa, " canda Andre.
Tiba-tiba saja Mayang mengarahkan pistol tersebut ke arah kepala Andre.
"Coba saja kalau berani. " Ancam Mayang.
Wajah Andre mendadak pucat.
"Sayang Hati-hati dengan benda tersebut! Kalau kau sentuh sedikit saja tuasnya.Itu bisa, membunuhku dalam sekejap saja," ucap Andre sambil mengangkat tangan.
"Ha ha pria lucknut seperti mu ternyata takut mati juga. "
"Aku bukannya takut mati, aku hanya takut meninggal kan mu dan anak-anak kita sendiri di dunia ini. " Andre.
Mayang menurunkan pistol dan menyimpannya di meja. Kemudian ia mendekati Andre seraya mengelayut manja Menggantungkan lengannya pada leher Andre.
"Mana mungkin aku menembak mu Sayang. Aku tak mungkin menyakiti orang yang aku cintai," ucapnya sambil mengecup bibir Andre.
"Benarkah kau mencintai ku? " tanya Andre dengan mata yang berbinar, karena baru kali ini Mayang mengungkapkan rasa cinta pada sang suami.
"Tentu saja. Aku takut terjadi sesuatu pada mu Mas. " Mayang.
"Aku akan jaga diriku lebih dari sebelumnya dan itu semua untuk kau dan anak-anak kita."
"Hm, karena jika terjadi sesuatu padamu aku tak punya siapa-siapa lagi untukku berlindung. "
"Hm karena itu aku ingin mengajarimu cara menembak. " Andre.
__ADS_1
"Tapi aku takut memegang pistol Sayang. Tangan ku jadi gemeteran. "
"Tapi kalau pistol aku ngak takut kan?" tanya Andre sembari tersenyum nakal ke arah Mayang.
"Ngak. " Mayang menggigit bibir bagian bawahnya, dan itu membuat Andre semakin geram.
"Kalau begitu bagaimana jika kita main tembak-tembakan di atas ranjang? " tanya Andre
"Ayo siapa takut," sahut Mayang menantang.
Andre langsung mengangkat tubuh istrinya yang berperut buncit itu ala bridal style.
Sementara anak buah Andre hanya bisa tertawa dalam hati melihat Andre yang biasanya brutal jadi bucin di hadapan istrinya.
Mayang masih menggantungkan lehernya pada tubuh kekar tegap dan tinggi tersebut sembari menatap wajah tampan sang suami dengan tatapan berbinar. Iya pun menyusupkan kepalanya pada ceruk leher sang suami mengirup aroma tubuh Andre yang membuatnya mabuk kepayang.
Mayang memang tak pernah jatuh cinta kepada lelaki manapun sebelum ini. Sama halnya dengan Andre. Dan kini mereka tengah menikmati indahnya jatuh cinta.
"Mas kau ingin menggendong sampai di villa? " tanya Mayang.
"Iya Emangnya kenapa? "
"Tapi aku kan berat Mas. Karena aku lagi hamil. "
"Ngak lah. biasa saja. Masih berat barbel yang biasa aku angkat sehari-hari. "
Sekitar sepuluh menit mereka pun tiba di villa.
Andre meletakkan tubuh istrinya dengan Hati-hati di atas ranjang. pertempuran sengit penuh cinta pun terjadi di siang hari tersebut.
***
Sean mulai mencari keterangan tentang perusahaanmilik Andre.
Ketika mendapatkan data yang inginkan kemudian mencatatnya di memory ingatanya. Sean kehilangan sebagian memori masa lalunya. Namun hal itu membuatnya bisa menghapal dengan waktu yang singkat.
Jari-jarinya terus menyeret mouse membuka beberapa file yang ia temukan.
Matanya memaku menatap layar monitor di mana ia menemukan gambar Andre yang begitu mirip dengannya, bak pinang di belah dua.
'Siapa dia? kenapa dia begitu mirip dengan ku? Aku rasa tak ada manusia tak akan benar-benar mirip selain saudara identik' batin Sean.
"Lalu kenapa John Hendrik ingin mencelakainya?"Aku harus segera selidiki."
Sean menutup laptopnya dan langsung menuju kantor Andre , penyamaran sebagai Andre pun ia lakukan agar bisa mendapatkan bukti otentik siapa sebenarnya Andre.
Dengan motor yang di persiapkan oleh John Hendrik, malam itu juga ia berangkat.
***
Brum..
motor Andre berhenti di depan pagar kantor yang di jaga beberapa satpam dan bodyguard.
Sean membuka helm dan menyimpannya di motor.
Baru saja ia melangkah Sean mendapatkan sambutan ramah dari Satpam dan bodyguard Andre yang berkumpul di markas mereka.
"Selamat malam Tuan." Satpam.
__ADS_1
Meski heran dengan Andre yang datang sendiri pada malam hari.Namun, mereka berani bertanya.
Satpam dan bodyguard tersebut berbaris memberi hormat pada Andre.
'Ternyata Andre benar-benar bukan orang sembarangan. Aku harus Hati-hati. ' batin Sean.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan? "tanya salah satu bodyguard.
"Tak perlu. Aku hanya ingin mengambil sesuatu penting yang tertinggal di ruangan ku. " Sean.
"Baiklah kalau begitu silakan Tuan."
Mereka membuka pintu utama kantor tersebut.
" Apa perlu kami kawal Tuan? " tanya salah seorang bodyguard.
"Tak perlu. " Sean.
Memang sudah biasa Andre jika ia ke masuk kedalam kantornya. Ia tak pernah mau di kawal.
Sean masuk ke dalam kantor tersebut. Hal yang pertama ia cari adalah denah ruangan kantor itu, Karena ia bisa tersesat di gedung perkantoran tersebut jika ia tak menghapal denah ruangan sebelumnya.
Sean mempunyai keahlian merekam data dengan ingatan otaknya. Hanya dengan menghapal beberapa detik denah tersebut, Sean bisa tahu seluk-beluk gedung tempatnya berada.
Sebagai Mata-mata bukan hal yang sulit bagi Sean menyelinap di sebuah gedung meski tingkat pengamanan gedung cukup tinggi.
Ada beberapa ruangan yang hanya bisa di akses dengan menggunakan kode rahasia, termasuk ruangan Andre.
Sean mencoba merusak sistem pengaman ruangan tersebut. Dengan merusak beberapa komponen yang menyebabkan alarm tak berbunyi. Dalam beberapa menit ia pun berhasil.
Pintu ruangan kerja Andre terbuka.
Dengan mudah Sean masuk kedalam ruangan tersebut.
Ternyata tak segampang itu, Alarm berbunyi ketika Sean melewati sensor passive infa red.
Alarm berbunyi hingga di luar pos penjagaan.
Para bodyguard berhamburan memasuki gedung.
"Penyusup !" teriak mereka.
Ada pula yang langsung menghubungi Andre ketika mendengar Alarm.
"Hallo Tuan, ada penyusup yang masuk kedalam kantor,Dan wajahnya mirip dengan wajah Tuan. " bodyguard.
...
_
_
***
Meski Alarm berbunyi Sean tak panik. ia mengambil beberapa barang milik Andre yang bisa di gunakan untuk mengambil sample DNAnya dan Sidik jari.
Sidik jari Andre yang ada pada ballpoin akan di print dan di cetak, kemudian gunakan untuk mengakses sensor fingger yang menggunakan sidik jari Andre untuk membukanya.
Setelah mendapatkan beberapa barang yang ia butuhkan. Sean segera keluar dari ruangan tersebut. Namun beberapa bodyguard sudah menghadangnya di depan pintu.
__ADS_1
"Mau kemana kamu penyusup?! "
Bersambung dulu ya. 😍😍