
Ketika sadar Mayang sudah berada di dalam kamarnya. Mayanya mengedar melihat ke sekeliling.
Desas desus pun terdengar di telinga Mayang.
Ada yang membicarakan jika dirinya sedang hamil. Mayang melihat satu persatu orang yang menatapnya. Ada yang menatapnya dengan tatapan sinis dan merendahkan. Ada pula yang menatapnya dengan tatapan iba.
"Mayang kau sudah sadar?"tanya Mirna.
Mayang hanya menggangguk lirih. Ia masih syok dengan apa yang di katakan oleh dua orang kembar tersebut.
Setelah Mayang sadar, mereka pun satu-persatu meninggalkan kamar Mayang dengan berbagai asumsi.
Mayang lebih banyak melamun kala itu dengan tatapan hampa, sesekali air matanya menetes membasahi pipi.
"Mayang apa yang terjadi pada kamu?"tanya Mirna melihat Mayang yang terlihat putus asa.
Hiks hiks, Mayang hanya menjawab dengan isak tangisan.
Mirna mengusap kepala Mayang.
"Kamu bisa cerita sama mbak Mirna Mayang. Jangan dengarkan cemoohan orang. Mbak tahu pasti sudah terjadi sesuatu pada mu."
Hiks hiks hiks , Mayang tak mampu mengungkap kebenarannya, Ia hanya menangis terisak tanpa suara.
Melihat Mayang yang masih bungkam, Mirna pun mengerti dengan keadaaan Mayang yang masih syok, ia pun bermaksud menemani Mayang di dalam kamarnya, hingga Mayang cukup kuat untuk di tinggal sendiri.
Setelah keadaan tenang. Mirna meninggalkan Mayang sendiri, karna sepertinya Ia lebih ingin sendiri.
Satu malam penuh Mayang habiskan untuk menangis, hingga ia lelah dan tertidur sendiri.
***
Pagi harinya
Dokter Radit datang ke kost-an membawa sarapan untuk Mayang, serta ingin mengetahui keadaan Mayang sebenarnya.
__ADS_1
Karna Mayang tak bisa di hubungi sejak kemarin malam.
Dokter Radit bermaksud meminta ijin langsung pada pak Ilyas agar bisa masuk ke kamar Mayang, karna ingin memeriksa kesehatan Mayang.
"Selamat pagi Pak! " Sapa Radit.
"Selamat pagi juga Nak dokter." pak Ilyas.
"Begini pak, karna kesehatan Mayang sedang bermasalah, saya mohon kepada Bapak agar saya di perkenankan untuk melihat keadaan Mayang langsung di kamarnya. "
"Apa? Nak Mayang sakit? "tanya pak Ilyas syok. Ia sendiri juga baru pulang dari luar kota membawa sang istri terapi.
"Iya Pak. Dari kemaren malam saya hubungi, tapi telpon saya tak di angkat.Saya jadi khawatir."
"Oh Iya silahkan saja Nak. Nanti bapak juga ingin melihat keadaan Mayang. " pak Ilyas.
"Terima kasih Pak. " Radit.
***
Tok..tok.. pintu di ketuk Radit.
"Mayang! Mayang! " panggil Radit seraya menggedor pintu kamar tersebut.
Beberapa saat pintu pun terbuka, dan keadaan Mayang cukup memprihatinkan.
Wajah dan kelopak mata Mayang terlihat sembab.
"Mayang kamu kenapa? " tanya Radit.
Mayang hanya menggelengkan kepala air matanya sudah kering kini hanya menyisakan lingkaran hitam yang membekas di kelopak matanya.
Mayang membuka pintu dan membiarkan Radit masuk.
Radit duduk di samping Mayang.
__ADS_1
"Aku bawa bubur untuk mu, Makanlah! "ucap Radit seraya membelai rambut Mayang.
"Aku ngak lapar," sahut Mayang lirih.
"Makanlah, nanti kamu sakit, "ucap Radit seraya membuka kotak makan tersebut.
Radit menyendok bubur kemudian menyuapkan ke Mayang. Tapi Mayang terus menolak.
"Ayo Mayang makanlah, " ucap Radit sambil menyodorkan buburnya kembali.
Karna terus di paksa akhirnya Mayang membuka mulutnya.
Radit pun menyuapi Mayang hingga bubur tersebut hampir habis. Tinggal beberapa suapan lagi, Mayang kembali merasakan perutnya yang bergejolak.
Ia pun berlari menuju kamar mandi dan kembali muntah di sana.
Dokter Radit menatap curiga ke arah Mayang.
Tiba di kamar mandi Mayang tak bisa menahan lagi ia pun Kembali muntah-muntah
Uek Uek.
Semua makanan yang baru saja masuk kembali di keluarkan dari dalam mulutnya hingga tak bersisa.
Mayang membasuh wajahnya, melihat wajah nya di cermin ia pun menangis histeris.
"Hua hua, hiks hiks, jika aku hamil, apa yang harus aku lakukan." tangis Mayang.
Ternyata dokter Radit mendengar semua ungkapan Mayang.
'Apa? Mayang hamil? ' batin Radit.
Bersambung.
Berikan dukungannya pada author ya dengan like, komen vote dan hadiah.
__ADS_1
Minal Aidin walfa izin, mohon maaf lahir batin.