
Setelah dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, Alice sudah diperkenankan untuk pulang.
Steve membantu membereskan beberapa barang-barang mereka, karena ia, sendiri tak tahu harus kemana membawa keluarganya.
Steven menghela nafas panjang seraya melirik ke arah putri kecilnya yang tengah tertidur pulas.
Diusapnya rambut panjang sang putri kecil.
Alice keluar dari kamar mandi, kemudian ia duduk di samping Steven.
" Kita akan pulang kemana kita Stev ? " tanya Alice seraya mendaratkan pundaknya pada bahu Steven.
"Entahlah, uang ku hanya tinggal beberapa dolar saja, bahkan untuk makan hari ini pun kita punya uang. " Suara Steven bergetar dengan lirih.
Selama ini, mereka hidup bergelimang harta, tapi sekarang justru mereka tak memiliki apapun kecuali kasih sayang diantara mereka.
" Aku akan melamar pekerjaan kembali di tempat aku bekerja sebelumnya. Mungkin mereka masih mau menerima ku. "
" Tidak, Alice. Sebelum kita menikah, aku pernah berjanji untuk selalu membahagiakan mu. Biar aku usahakan agar kau dan Anna, mendapatkan tempat tinggal yang layak. "
Steven mencium pucuk kepala Alice.
Anna terbangun, lalu menangis.
Hiks hiks,
Steven berdiri kemudian menggendong Anna.
" Kenapa menangis sayang? " tanya Steven.
" Daddy, aku lapar. Aku ingin minum susu, " rengek Anna.
" Baik Sayang, sekarang kita pulang, " ucapnya sambil menggendong putrinya.
" Kita mau pulang ke rumah kita kan daddy. Aku mau main-mainan ku. "
" Tidak sayang, mainanmu sudah terbakar bersama rumah kita. "
Hiks hiks, Anna kembali menangis. " Mainan-mainan ku hiks. " Anna menangis sedih.
Steven mengusap dada Anna.
" Tenang saja, nanti daddy belikan mainan yang baru ya. "
Anna menatap Stev dengan air mata yang menggenang.
" Janji, " ucap Anna sambil menyodorkan kelingkingnya.
" Janji sayang. " Steven mengait kelingking mungil Anna dengan kelingkingnya.
Ha ha, Anna kembali tertawa.
Alice menghampiri keduanya kemudian memeluk mereka berdua.
__ADS_1
" Senang rasanya melihat Anna kembali tertawa, " ucap Alice seraya mencium pipi Anna.
" Ayo kita pergi dari tempat ini. "
Steven menggendong Anna sambil memimpin Alice yang masih terlihat lemah.
Sepanjang koridor ia terus memikirkan, mau dibawa kemana keluarganya tersebut.
Semua aset Red Eyes hancur, rumah mereka juga hancur. Steven tak bisa bekerja di kantor atau di manapun karena reputasinya yang buruk sebagai ketua Red Eyes.
Mereka pun tiba di parkiran, hanya mobil ini yang mereka miliki, tapi mobil ini juga tak bisa di jual, karena sistem pengoperasian yang hanya bisa digunakan oleh Steven sendiri.
" Daddy aku lapar, " ucap Anna sambil menyentuh perutnya yang berbunyi, bahkan Stev dan Alice sendiri mendengar bunyi perut tersebut.
Steven merogoh saku celananya, hanya ada beberapa dolar, dan itu hanya cukup untuk membeli beberapa potong roti.
Tak hanya Anna, ia pun merasa lapar, karena sejak kemarin tak makan sesuatu apa pun.
Setelah memberi roti pada Alice dan Anna, Steven kembali melanjutkan perjalanan mereka. Ia tak punya tujuan lain kecuali menemui tuan Donald.
Untuk menemui tuan Donald tak bisa sembarangan, ia harus membuat janji terlebih dahulu. Lagi pula tuan Donald hanya bisa ditemui sore harinya, setelah ia bekerja di parlemen.
***
Sudah seharian Alice dan Anna menunggu di mobil, mereka kini jadi gelandang karena tak punya tempat tinggal.
Untuk menghilang rasa jenuh pada Anna, Steven membawanya ke sebuah taman, sepanjang hari mereka hanya bisa menunggu dengan perut lapar.
Pukul lima petang. Anna sudah tertidur dengan lelap kembali ,setelah beberapa kali menangis, karena mengeluhkan lapar.
Seorang yang kejam dan beringas seperti Steven Smithson, luluh pada wanita yang menyerupai bidadari yang bernama Alice tersebut.
Untuk mendapatkan cinta Alice dan menikahinya, Alice mengajukan syarat pada Steven agar ia merubah kebiasaan, untuk tak menyakiti orang yang tak bersalah, seperti yang Steven lakukan sebelumnya.
Sang Mafia yang terlanjur bucin tersebut, rela melakukan apa saja demi wanita pujaan hatinya.
Perlahan hati Steven yang membatu mulai melunak, Steven juga tak lagi menerapkan aturan baku pada anggota Red Eyes lainya. Semua keputusan diambil berdasarkan sebab akibat, bukan emosi sesaat.
***
Tuan Donald Harisson keluar dari kantornya, sementara Steven sudah menunggunya di luar gedung.
Ketika mobil tersebut keluar meninggalkan kantor, Steven menghampirinya.
Mereka pun janjian di suatu tempat untuk bertemu. Steven mengikuti kemana mobil tuan Donald Harisson pergi. Mereka tiba di suatu tempat. Mobil berhenti di sebuah rumah yang berada di dalam sebuah komplek.
Tuan Donald keluar dari mobil tersebut.
Mobil Steven berhenti di samping mobil Donald.
" Alice, aku ada urusan dengan tuan Donald, kau dan Anna tunggulah disini. "
Steven membuka pintu mobilnya, kemudian ia keluar dari mobil tersebut menghampiri tuan Donald.
__ADS_1
Steven masuk kedalam rumah tersebut, kemudian ia duduk berhadap-hadapan dengan tuan Donald.
" Apa perjanjian tuan? "tanya Steven tanpa basa-basi.
" Perjanjian pertama, jangan pernah ada pengkhianat di antara kita, karena itu, aku ingin menjodohkan putrimu dan putraku kelak mereka dewasa.Kita lakukan ini,demi masa depan putra-putri kita. "
Steven sedikit kaget," Kenapa harus menjodohkan mereka tuan? Putriku masih terlalu kecil untuk kesepakatan ini. "
" Justru karena ia masih kecil, aku ingin kau menjaganya bak tuan putri, jangan biarkan ia bergaul dengan pria manapun sebelum ia bertemu dengan putraku. "
Steven mengerutkan dahinya.
" Terdengar aneh, tapi begitulah tradisi kami, kami mengikat rekan kerja dengan menjodohkan putra-putri kami agar tak ada yang berkhianat. "Tuan Donald menjelaskan.
" Ehm, baiklah. Aku setuju. "
" Kalau begitu tanda tangani surat ini Steven. Aku berikan rumah ini, di tambah satu juta dolar untuk gaji pertama mu. Besok pagi, aku ingin melihatmu berada di markas, kita sudah mulai merakit senjata mutakhir terbaru, yang akan dijual dipasar gelap internasional, untuk membangun sebuah kelompok besar dan kuat yang bisa mengalahkan Black Eyes, kita butuh modal besar, ini adalah langkah pertama kita untuk memulai misi kita untuk menguasai perdagangan gelap, dan aku yakin kau mampu melakukannya Stev, " papar tuan Donald Harrison panjang lebar.
Steven menyimak kata demi kata yang di ucapan oleh tuan Donald.
Selain karena dendamnya terhadap Black Eyes, Steven tak punya pilihan lagi, ia sangat membutuhkan semua yang ditawarkan oleh tuan Donald Harisson
Setelah beberapa saat kemudian, ia langsung menyetujui dan menandatangani surat perjanjian tersebut.
Tuan Donald tersenyum menyeringai melihat Steven yang dengan mudah menandatangani surat yang ia sodorkan
Mimpi untuk membangun organisasi mafia terbesar di seluruh dunia bisa menjadi kenyataan, jika pemimpin Red Eyes yang begitu mahir merakit senjata berada di dalam kendalinya.
Setelah kesepakatan tersebut selesai, tuan Donald dengan segera meninggalkan rumah itu.
" Ini kunci rumah dan satu juta dolar untuk gaji pertama mu Steven. Aku permisi dahulu. "
Tuan Donald keluar dari rumah tersebut diikuti Steven yang menjemput keluarganya.
Steven membuka pintu mobil.
" Ayo sayang, rumah ini telah menjadi milik kita, beristirahatlah sejenak setelah itu, kita pergi berbelanja untuk kebutuhan kita di rumah. "
" Rumah kita? "tanya Alice heran.
" Ia aku sudah menandatangani kesepakatan untuk bekerja bersama tuan Donald Harisson. "
" Kesepakatan apa sayang? Tuan Donald itu orang baik bukan? "tanya Alice khawatir.
" Entahlah, tapi yang jelas, saat ini dia adalah malaikat penolong untuk kita semua. "
Alice melihat Steven, ada kekhawatiran di hatinya terhadap suaminya tersebut. Ia justru takut kebaikan tuan Donald terhadap keluarganya, hanya karena tuan Donald ingin memanfaatkan sang suami untuk keuntungan yang lebih besar.
Bersambung dulu ya guys, satu bab lagi untuk mengakhiri cerita ini, tapi tenang saja. Masih ada cerita babang Rayyan dan mbak Anna, Akankah cinta keduanya dapat memadamkan api dendam diantara kedua orang tua mereka, atau justru mengobarkan api dendam yang semakin besar, akankah kesalah pahaman ini bisa terkuat suatu saat nanti, lalu siapa dalang dari insiden yang menimpa keluarga Steven? yuk intip dan simak terus karya terbaru author dengan judul:
Penjara Cinta Dua Anak Mafia.
Jangan lupa langsung di favoritin ya guys, tengqu perimats 🙏😅
__ADS_1