Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Pergi Dari Kampung Halaman


__ADS_3

"Sah! " Seru orang-orang yang ada di luar ruangan, dan hal itu semakin membuat Hesti menangis sedih.


Hiks hiks.


"Alhamdulillah Hesti kamu sudah resmi jadi istri Om Sean.Selamat ya Nak." sang ibunda langsung memeluk Hesti.


Hua, hua Hesti semakin jadi menangis.


"Sabar Nak, tenangkan diri mu. Kamu beruntung dapat suami seperti Om Sean. Dia sosok laki-laki yang nyaris sempurna, dan pasti banyak wanita yang menginginkannya. " ibu Hesti.


"Tapi Hesti masih mau sekolah Bu, " sahut Hesti sambil menangis.


"Sudahlah Hesti,mungkin sudah nasib kita Nak harus seperti ini , semoga setelah menikah nanti, nasib kamu akan berubah. Dan bisa merubah nasib keluarga kita," bujuk ibunda Hesti.


Kemudian mereka mengurai pelukannya.


Sang ibunda pun menghapus air mata Hesti yang terus saja menangis, sembari menasehatinya.


" Kita harus banyak bersyukur Hesti, Om Sean sudah banyak membantu keluarga kita, Kamu harus jadi istri yang berbakti untuk suami kamu Nak. "


Hiks hiks, masih terdengar isak tangis Hesti yang belum siap menerima kenyataan, jika dirinya telah jadi seorang istri.


"Ayo Nak berhentilah menangis! Sudah sekarang kita temui suami kamu. Tapi sebelum itu rapikan dulu riasan mu. "


Karena Hesti terus menangis, make upnya pun jadi berantakan.


Setelah merapikan make up Hesti sedikit, Mereka pun keluar dari kamar kemudian menghampiri Sean .


Saat itu Sean sedang berbicara dengan beberapa orang yang ada di sana. Ibunya mengantar Hesti untuk duduk di samping Sean. Saat itu Sean melihat wajah Hesti yang terlihat sedih.


"Hesti, sekarang kamu dan Sean resmi jadi sepasang suami-istri, untuk itu kamu harus menurut Kata-kata suami mu. Dan persiapkan dirimu karena malam ini juga kamu harus ikut suami mu. " Bapak Hesti.


Hesti hanya menundukkan kepala berusaha menahan air matanya.


Sean tak ingin terlalu ber Lama-lama berada, di tempat itu.Setelah urusannya selesai, ia segera pamit undur diri.


"Karena urusan saya sudah selesai, saya langsung undur diri saja Pak, masalah denda beras seratus kilo itu , saya serahkan pada Pak kepala kampung saja. Saya bayar pakai uang cash. " Sean.


"Baiklah, karena sudah selesai, silakan bawa istri mu keluar dari kampung ini. " Pak kepala kampung.


"Ayo Hesti! " Sean bangkit dan berdiri.


Hesti kembali menangis. Begitupun adik-adiknya yang masih kecil-kecil.


"Kak Hesti, jangan pergi hiks hiks ," mereka semua menggambur memeluk Hesti.

__ADS_1


Hal itu semakin membuat Hesti sedih.


Mereka pun menangis bersama.


"Adek-adek, kalian ngak usah sedih, kak Hesti cuma pergi sebentar kok! Nanti kakak pulang bawa mainan dan kue untuk kalian semua, hiks hiks" , ucap Hesti sambil menangis tersedu-sedu.


"Hiks hiks, janji ya? Beli es krim juga ya kak! " ucap salah satu adiknya.


"Iya Dek, sebelumnya kakak sudah belanja untuk kalian, ada mie instan dan susu kental manis. Kak Hesti beli banyak hiks, jadi kalian ngak perlu rebutan lagi, hiks hiks. " tubuh Hesti terguncang di iringi sisa isak tangis.Ia, begitu sedih harus berpisah dengan adik-adik untuk sementara waktu.


"Benarkah kak? " tanya adik Hesti yang sulung. Tentu saja mereka bahagia, mereka tak pernah menikmati mie instan satu orang satu bungkus. Biasanya satu bungkus untuk di bagi untuk berdua, begitupun susu kental manis yang merupakan hal yang mewah untuk mereka.


Melihat hal itu Sean ikut bersedih.


Sean merogoh saku celananya kemudian ia mengeluarkan lembaran uang seratus ribu.


"Nih Om beri uang jajan. " Sean menghitung sisa uangnya, kemudian ia menyodorkan masing-masing adik Hesti satu orang mendapatkan jatah dua ratus ribu, termasuk adiknya yang masih bayi.


"Hah! sebanyak ini Om?! " tanya mereka secara, serentak.


"Iya. "


"Horeee! asik kita, punya banyak duit! " ketujuh adik-adik ipar Sean melompat kegirangan.


"Om salam," ucap mereka sambil menyodorkan tangannya.


Sean mengulurkan tangannya seraya tersenyum bahagia. Ia merasa ikut bahagia melihat para bocah tersebut begitu bahagia. Seperti mendapatkan rejeki nomplok yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


Satu persatu menyalami Sean.


"Om, nanti kapan-kapan datang lagi ya."


"Bawa, makanan yang banyak ya Om. "


"Iya," jawab Sean secara singkat. Namun, dengan senyuman bahagia.


"Yey! " mereka kembali meloncat seraya, berlari- lari kesana kemari memamerkan uang mereka.


Ibunda dan ayah Hesti terharu, mereka bahagia dan bangga karena memiliki menantu yang loyal dan baik hati seperti Sean. Dan hal tersebut membuat iri penduduk kampung, bagaimana tidak selain ganteng, ternyata Sean juga baik hati. Dan dengan mahar Lima puluh juta, Pak Damar bisa berwirausaha sendiri tak lagi harus jadi buruh tani. Bagi sebagian besar penduduk kampung tersebut, uang lima puluh juta sudah sangat banyak.


Setelah cukup berbasa-basinya. Sean bermaksud hendak pergi dari tempat itu. Sebelum itu, Ibunda Hesti membereskan beberapa pakai Hesti dan memasukkannya kedalam Ransel.


Sean membuka pintu mobilnya kemudian mengeluarkan belanjaan yang sempat ia beli bersama Hesti.


"Ini Pak, ada sembako, tadi Hesti beli di supermarket. " Hesti menyodorkan beberapa barang belanjaan, sementara Sean mengangkat karung beras.

__ADS_1


Ayah dan ibu Hesti menangis haru melihat itu semua,meski mereka sedih karena Hesti harus meninggalkan kampung ini, tapi mereka juga bahagia karena Hesti kini memiliki pendamping hidup yang baik hati serta mampu melindungi putri mereka.


"Iya Nak, terima kasih banyak, hiks. " ibunda Hesti. Mereka kembali menangis haru.


Sean menghampiri kedua orang tua tersebut.


"Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Bu. " Sean menjabat tangan keduanya.


"Iya Hati-hati, saya titipkan Hesti pada kamu, hiks. " Pak Damar pun ikut bersedih.


"Iya pak," sahut Sean secara singkat, ia sendiri bukan orang yang pandai berbasa-basi.


Setelah itu Hesti menghambur memeluk ibu dan adik-adiknya.


"Ibu, adik-adik kak Hesti pamit Ya, hiks. "


"Iya Nak Hati-hati, "ucap Ibunda Hesti.


Dengan berat hati Hesti membalikkan punggungnya membelakangi mereka semua. Hesti dan Sean pun berjalan menghampiri mobil.


Adik-adik Hesti masih menangis seraya melambaikan tangannya ke arah Hesti.


Hesti dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan kampung ini, Tapi apa daya, kehadiran sudah tak di Terima di tempat tersebut.


Kedua orang tua Hesti memperhatikan belanjaan yang ada di depan rumah mereka.


"Lihatlah Pak menantu kita, belum menikah saja ia peduli dengan keadaan keluarga kita, padahal sebelumnya ia tak ada niat untuk menikahi Hesti, niatnya benar-benar membantu keluarga kita Pak hiks," ucap Ibunda Hesti.


"Iya Bu. Semoga kehidupan Hesti bisa lebih baik, ia bisa bahagia, karena selama ini kita belum bisa memberikan Hesti kebahagiaan, sejak kecil ia selalu menderita. Bahkan sejak kecil Hesti sudah bekerja untuk membantu perekonomian keluarga kita. " Pak Damar.


***


Setelah berbasa-basi dan berpamitan pada kedua orang tua Hesti dan warga sekitar, Sean segera membawa Hesti.


Mereka pun masuk kedalam mobil mewah tersebut. Hesti kembali melambaikan tangannya ke arah keluarganya yang menangis haru dan bahagia melepaskan kepergiannya.


Mobil Sean berjalan lambat keluar dari perkarangan rumah yang sangat sederhana tersebut.


Bersambung. masih ada satu episode lagi reader.


sambil nunggu author up siapa tahu mau mampir di novel terbaru author he he. Masih sepi penghuni.



__ADS_1


__ADS_2