
Andre sedang memijit pinggang Mayang yang mengeluh karena merasa pegal-pegal akibat perjalanan jauh.
"Masih sakit Sayang? " tanya Andre.
"Udah mendingan Mas."Mayang.
"Syukurlah kalau begitu. kita Pulangnya di tunda saja, kalau kamu masih capek. Atau aku bawa helikopter saja untuk jemput kita? " tanya Andre.
"Ih, aku takut Mas naik helikopter. " Mayang.
"Biar saja aku masih betah di sini. Suasana begitu tenang dan damai. "
"Iya terserah kamu sajalah. Sekarang kamu tidur saja dengan tenang, aku ngak akan gangguin kamu hari ini he he. " Andre.
"Kalau masih gangguin aku, terlalu kamu Mas," dengus Mayang
Mayang mulai memejamkan matanya, sementara Andre mengusap kepalanya yang membuat dirinya semakin larut dalam mimpi.Apalagi suasana di kamar itu terasa dingin, meski tak menggunakan penyejuk ruangan.
Beberapa detik selanjutnya Mayang sudah terbawa ke alam mimpi.
Andre menggeser posisinya sedikit menjauhi Mayang. Ia bermaksud untuk menelpon Sean. Meski Sean lelaki hebat, tetap saja ia khawatir pada adiknya itu.
Baru saja mencari kontak Sean, Sean sudah menelponnya.
"Hallo Sean, baru saja aku ingin menelpon kamu. Eh kamu sudah telpon duluan. "
Andre menyimak obrolan Sean. Dan beberapa saat kemudian raut wajah Andre berubah seketika.
"Apa, Menikah?! " tanya Andre di sambungan telpon ya.
***
Sean tak punya pilihan lain kecuali menikahi Hesti. Malam itu juga satu kampung akan menyaksikan akad nikah antara Sean dan Hesti.
Selain menikahi Hesti, Sean juga harus membayar denda sebanyak seratus kilo beras yang akan di bagikan kepada penduduk desa, sebagai denda yang harus di bayar agar penduduk kampung itu terhindar dari kesialan dan kemalangan.
***
Akad nikah segera berlangsung, seorang pria mendata identitas kedua mempelai.
Sebelumnya mereka sudah mendata identitas Hesti melalui orang tuanya.
"Baiklah, siapa nama kamu? " tanya salah seorang asisten kepala kampung kepada Sean.
"Sean Adam Williams. " Sean menganti namanya dengan menambah nama ayahnya. Sebenarnya nama lahir ayah Sean bukanlah Adam Williams, Tapi Ahmad Adam Haffis, yakni nama lahir yang di beri oleh kakeknya. Hanya saja sejak masuk ke dunia mafia, Adam mengganti namanya menjadi Adam Williams.
Setelah melakukan interview, Sean di beri secarik kertas yakni berupa tulisan nama Hesti secara lengkap agar tak salah ketika akad nikah.
__ADS_1
Sean tak tahu menahu bagaimana cara menikah menurut agama Islam. Selama di Amerika, ia tak pernah belajar tentang agama apapun. Ia juga tak tahu John Hendrik menganut agama apa.
Kepala kampung memberi waktu beberapa saat untuk Sean menghapal ijab qabul nya.
Karena binggung apa itu ijab qabul, Sean memutuskan bertanya pada Andre yang begitu berpengalaman dalam hal pernikahan.
Sean melangkah ke sudut ruangan untuk menghindari suara berisik,
Langsung saja Sean menghubungi sang maestro untuk mengajarinya pengucapan ikrar ijab qabul.
"Hallo Sean, baru saja aku ingin menelpon mu. " Andre.
"Iya aku terkena masalah karena membawa Hesti pulang, Mereka mengira aku dan Hesti telah melakukan transaksi haram, hingga Hesti di usir dari kampungnya sendiri, dan aku disuruh menikahinya sebelum kami keluar dari kampung ini. "
"Menikah? "tanya Andre sedikit kaget.
"Iya menikah dan aku tak punya cara lain untuk menolak "Sean.
"Ya sudah kamu nikahin saja si Hesti, Kamu juga belum punya pacar atau istrikan? " Andre.
"Iya, tapikan aku ngak cinta sama Hesti, lagi pula anaknya masih kecil dan polos gitu. " Sean.
"Alah cinta bisa datang setelah menikah kok. Ya sudah kawinin saja. Kawin itu enak loh Sean, "ucap Andre sambil menarik turunkan alisnya.
"Entahlah, tapi aku belum terpikir membangun rumah tangga bersama Hesti, gadis itu terlalu lugu untuk ku. " Sean.
Ketika mereka asik berbincang, seseorang menepuk pundak Sean dari belakang.
Sean menoleh kearah orang yang memukul pundaknya. Tapi telepon tersebut masih tersambung.
"Penghulu sudah tiba. Sekarang persiapkan diri mu, apakah kau sudah menghapal ijab qabul mu? " tanya pak kepala kampung.
"Ehm sebentar Pak, saya memberi tahu keluarga saya dulu. " Sean.
Mendengar hal tersebut Andre tertawa. Bagaimana bisa saudaranya tersebut di paksa nikah. Dan tertawanya terdengar sampai di telinga Sean.
"Baiklah. Kami tunggu tapi jangan Lama-lama. " Pak kepala kampung.
Sean mengangguk.
Setelah pak kepala kampung tersebut pergi, barulah Sean kembali ke panggilan teleponnya.
"Kenapa tertawa? ada yang lucu ya? " dengus Sean.
Andre tak menjawab, ia kembali tertawa, karena membayangkan wajah binggung Sean saat ini.
"Ndre sudah tertawanya, sekarang bantu aku menghapal ijab qabul aku tak tahu sama sekali. " Sean.
__ADS_1
"Ha ha. Buka goggle aja Sean atau lihat video gitu saja susah. Trus kamu ganti saja, nama mempelai wanitanya berserta binti dan mahar yang kamu berikan berupa apa sesuai dengan keadaan kamu, bereskan. " Andre.
"Oh gitu, Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ehm, kalau lima puluh juta cukup ngak maharnya? " imbuhnya lagi.
"Ha ha, kalau Andre Mahesa itu memberi mahar minimal seratus juta Sean. Tapi lima puluh juta ku rasa cukuplah, ucap Andre setengah mengejek
"Iya sisa uang ku segitu, Aku ngak mungkin keluar dari kampung inilah untuk menarik uang di ATM.Karena aku tak boleh keluar sebelum membayar denda tersebut " Sean.
"Ya sudah, kamu hapal dulu ikrar ijab qabul mu. Jangan sampai salah, bisa di tertawain kamu sama penduduk kampung " Andre.
"Iya, aku tutup terlponya sekarang. "
***
Setelah mendapatkan saran dari Andre Sean membuka video cara mengucapkan ikrar ijab qabul.
Karena Sean memiliki kecerdasan yang lumayan tinggi, dalam sekali tonton saja, ia bisa menghapal ikrar ijab qabul tersebut.
Sean tak lagi sempat memikirkan bagaimana nantinya pernikahan tersebut.Ia hanya ingin keluar dari kampung tersebut dengan cepat, urusan dengan Hesti bisa di bicarakan belakangan.
Ketika selesai menghapal ikrar ijab dan qabul dari video tersebut. Sean bergegas menuju meja kecil yang di persiapkan untuk akad nikahnya.
***
Di dalam kamar,
Hesti di rias ala kadarnya. Dengan peralatan make up milik tetangga. Dandannya pun terkesan norak dan menor.
Bulir bening menetes di pipi Hesti. Ia, begitu sedih karena harus meninggalkan keluarganya. Lagi pula Hesti juga tak punya perasaan apa pun terhadap Sean. Lagi pula dirinya belum siap menikah.
Hiks hiks, isak tangis Hesti sesekali terdengar.
"Sudahlah Hesti, mungkin Om itu memang jodoh yang terbaik untuk mu. " Bujuk sang ibunda kepada Hesti.
"Tapi bu, Hesti belum siap untuk menikah. Lagi pula Hesti sedih karena harus meninggalkan kampung ini, hikss. "
"Iya Nak, ibu tahu. Tapi mungkin saja ini adalah jalan terbaik untuk kamu. Seandainya kamu tetap tinggal di sini dan tak menikah dengan Om itu, mungkin pak Toni bisa mengganggu atau bahkan memaksa kamu untuk menikahinya. Maklum saja pak Toni itu orangnya jahat, Ibu bersyukur kamu menikah dengan pria baik seperti Om Sean. Meski tampang nya sangar, tapi ibu lihat ada kelembutan pada sorot mata teduhnya. "
Hiks hiks. Hesti masih menangis
"Sudahlah Nak, mungkin sudah takdir. Ibu hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kamu saja. "
Atas bujuk rayu sang ibunda, Hesti pun tenang.
Sementara di luar ruangan, Hesti dan ibunya mendengar ijab kabul antara Sean dan ayahnya Hesti. Saat itu suara berat Sean mulai terdengar.
"Saya Terima nikah dan kawinya, Hesti Pratiwi binti Damarudin dengan mahar, berupa uang tunai senilai lima puluh juta! " Sean.
__ADS_1
Bersambung, tenang author masih crazy up.