Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam
Kembali


__ADS_3

Hallo, "sapa Resti dengan suara serak dan paraunya.


"Hallo Resti, Papi ingin memberi kabar tentang Ferdi,Resti."


"Kabar apa Pi? " tanya Resti yang sudah merasakan firasat yang tak enak.


"Ferdi kecelakaan Resti, ketika dalam perjalanan ke bandara."


"Kecelakaan Pi?! Hiks," Resti menjeda Kata-kata karena seketika itu juga ia menangis.


" Lalu bagaimana dengan keadaan Ferdi Pi? "


"Saat ini Ferdi sedang menjalani operasi,


Papi harap kamu bisa datang untuk melihat keadaannya. "


"Iya Pi, Resti akan kesana sekarang. "


Resti menutup telponnya dengan berurai air mata.


"Ya Tuhan baru saja aku kehilangan anak ku, jangan sampai aku kehilangan suami ku, Bagaimana pun Ferdi menyakiti perasaan ku, aku tetap mencintai nya, hiks. "


Tubuh Resti semakin lemah, Ia bergegas mengganti pakaiannya.


Setelah menggantikan pakaian, Resti meraih ponsel pintarnya, menelpon seseorang.


☎ "Hallo Resti, kenapa kamu telpon mami! kurang kerjaan ha?! " Sambut Adelia.


☎" Kalau Mami ingin lihat Resti tinggal mayat, silakan saja Mami kunci Resti di kamar ini Mi! "


☎" Kamu bicara apa Resti?! "


☎ Ferdi kecelakaan Mi, aku mau lihat keadaan Ferdi, jika Mami masih melarang aku bertemu Ferdi. Aku akhiri saja hidup aku Mi, aku sudah kehilangan semuanya.Percuma juga aku hidup! " Ancam Resti.


Resti langsung menutup telponnya.


☎ "Resti! Resti! ".


Setelah tak mendapatkan sahutan, Adelia langsung beranjak menghampiri kamar Resti, kemudian ia membuka pintu untuk Resti.


Akhirnya Adelia mengalah, Karena tak ingin Resti berbuat nekat. Ia tak ingin kejadian seperti Raga terulang kembali.


Pintu kamar terbuka, Resti langsung meraih tas slempangnya.


"Aku pergi dulu Mi," ucapnya sambil berjalan melewati Adelia.


Adelia menatap Resti dari belakang.


"Mami antar, Mami juga sekalian ingin menjenguk Raga. " Adelia.


***

__ADS_1


Setelah hampir dua jam berada di kamar operasi, akhirnya Ferdi keluar dari ruangan operasi.


Mona dan Pak Bondan yang sedari tadi menunggu dengan gelisah kini menjadi sedikit lega.


Setelah keluar dari ruangan operasi, Ferdi di bawa ke ruang perawatan, meski saat itu ia masih tak sadarkan diri.


***


Resti berada di dalam mobil, ia duduk di samping Adelia saat itu. Perasaannya begitu gelisah, sesekali bulir bening menetes dari kelopak matanya.


'Ya Tuhan jangan ambil Ferdi dari ku, kehilangan anak ku sudah membuat ku terguncang, tolong selamatkan Ferdi. ' Resti berdoa dengan kesungguhan hatinya.


Mobil Adelia berhenti di lobby rumah sakit dimana Ferdi di rawat, Resti segera turun dari mobil tersebut.


Dengan tergesa-gesa ia menelpon Pak Bondan untuk mengetahui keadaan Ferdi.


Setelah mendapi ruangan di mana Ferdi berada, Resti semakin cepat mengayuh langkah kakinya.


Setelah menaiki lift menuju lantai tiga, akhirnya Ia sampai di ruang perawatan Ferdi yang ada di ujung koridor.


Ketika tiba di ruangan, sorot mata tajam langsung menyapa Resti.


Mona saat itu tengah mengusap kepala Resti.


Meski merasa insecure atas tatapan bengis Mona, namun Resti berusaha tak ambil pusing.


Dengan santai ia menarik kursi kemudian duduk di samping Ferdi yang tengah berbaring tak sadarkan diri.


Di ruangan tersebut hanya ada mereka bertiga, suasana seperti kuburan, sunyi dan sepi. Namun, tak demikian dalam hati mereka yang saling bergemuruh.


Keduanya tetap diam untuk menjaga keadaan agar tetap kondusif.


Resti coba menyentuh telapak tangan Ferdi kemudian menggenggamnya.


"Ferdi ,aku disini Fer," bisik Resti di tepi telinga Ferdi.


Beberapa saat keadaan masih hening, dengan tatapan Mona yang tajamt dan intens terhadapnya.


Resti menggenggam erat tangan Ferdi.


"Fer, bangun Fer. Aku di sini Fer. Kau bilang ingin bicara pada ku Fer, Aku sekarang ada di hadapanmu, "Resti kembali berbisik.


"Iya gara-gara kamu, Ferdi celaka kan?! Awas saja jika terjadi sesuatu pada Ferdi! " Ancam Mona.


Resti semakin insecure mendengar ancaman tersebut.Namun, demi seseorang yang ia sayang, Ia harus bertahan sampai Ferdi sadar.


Beberapa saat keadaan kembali hening.


Resti pun enggan berbisik lagi di telinga Ferdi, hanya saja ia menggenggam tangan Ferdi dengan begitu kuat.


Selang beberapa detik Ferdi membalas gengaman tangan tersebut meski tak sekuat genggaman Resti.

__ADS_1


Ferdi juga bersuara lirih memanggil nama Resti.


"Resti. " Ferdi.


Air mata Resti jatuh kembali, kali ini dengan seulas senyum kecil di sudut bibirnya.


Begitupun Mona yang ikut senang melihat Ferdi yang sudah siuman.


"Iya Fer, Aku disini," sambut Resti dengan tatapan berbinar nya ke arah Ferdi.


Dengan perlahan Ferdi membuka matanya.


"Resti, "ucanya seraya tersenyum simpul.


Keduanya saling menatap dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Iya Fer, aku disini, kamu mau bicara apa sama aku? " tanya Resti sambil mengusap kepala Ferdi.


Saat itu Ferdi memang masih dalam keadaan setengah sadar. Namun, melihat Resti, Ferdi seperti mendapatkan semangat.


"Iya Resti. Aku ingin bawa kamu pergi bersamaku, kamu mau ya? " tanya Ferdi dengan suara yang lirih. Namun, terdengar jelas.


"Iya Fer, aku akan ikut kamu kemana saja, asal kamu segera sembuh, " jawab Resti dengan haru dan bahagia.


"Iya Resti, kali ini aku janji ngak akan menyakiti kamu lagi, kamu mau kan memaafkan ku? " tanya Ferdi dengan bulir yang perlahan menetes di pipinya.


Tubuh Resti terguncang karena bahagia. Seperti menemukan belahan jiwanya kembali.


"Iya Fer, aku mau memaafkan kamu. Kita lupakan saja yang terjadi, dan mulai hidup yang baru, hiks," Sahut Resti sambil menangis.


"Terima kasih sayang. Kalau begitu peluk aku dulu. Aku rindu sama kamu," ucap Ferdi sambil merentangkan sedikit tangannya.


Tanpa sungkan Resti langsung memeluk Ferdi yang terbaring di atas tempat tidur.


Setelah itu keduanya menangis bahagia dan haru.


Dengan kebesaran hati, mereka bisa kembali mengarungi bahtera rumah tangga yang hampir karam karena terhempas badai .


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sebaik-baik manusia, bukanlah manusia yang tak pernah berbuat salah. Akan tetapi insan yang baik adalah, ketika dirinya melakukan kesalahan ia segera menyadari kesalahannya, meminta maaf atas apa yang pernah di lakukannya dengan tak mengulanginya lagi.


Maaf author bukan menggurui hanya ingin berbagi kisah, semoga bisa di petik manfaatnya.


Nantikan episode selanjutnya.


Sambil nunggu author up, boleh mampir ke karya author yang lainya atau mampir ke karya yang saya rekomendasi kan.


tetap jaga kesehatan ya reader, semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan yang maha Esa, Aamiin.


Bersambung.I lope u all

__ADS_1


__ADS_2