
Pagi hari yang cerah,
Mayang membuka matanya karena merasakan tangan Andre yang meremas pelan salah satu bukit kembarnya.
Ia pun melirik ke arah Andre yang tengah menatapnya dengan tatapan mesum seraya tersenyum kearahnya.
'Ih kenapa dia menatapku seperti itu,'batin Mayang, ia pun membuang wajannya ke arah lain.
Andre mendaratkan kecupan lagi di leher Mayang, kemudian menyesapnya beberapa saat hingga meninggalkan jejak kemerahan.Mayang merasa bergidik serta merasakan sakit pada area tersebut.
"Sakit ah Om, "ucap Mayang sambil menyiku lengannya ke dada Andre.
"Kok Om sih Yang? Emangnya aku kawin sama tante kamu," dengus Andre.
"Habis mau panggil apa, situkan lebih tua sepuluh tahun dari aku," sahut Mayang ketus.
"Ihs, panggil sayang aja,biar lebih romantis "
"Tapikan aku ngak sayang sama situ, rasanya gimana kalau panggil sayang. " Mayang menaikan sedikit bola matanya dengan malasnya, seraya menggeser sedikit posisi tubuhnya agar Andre tak terlalu dempet padanya.
Semakin Mayang menghindar ,semakin Andre menariknya dalam pelukannya.
"Kamu kok masih jutek sih Yang, sama aku. Aku tahu sulit bagi kamu ma'afkan kesalahan aku, tapi bukan berarti kamu menutup diri dan tak mau menerima aku sebagai suami kamu. Semua orang pernah berbuat salah Yang, sedangkan Tuhan saja mau mengampunkan dosa umatnya. Masa kamu ngak mau maafin aku, Ntar dosa loh Yang mengacukan suami. " Andre mulai mengeluarkan dalil-dalil untuk membujuk Mayang.
Ia pun kembali mengeluarkan jurus-jurus nakalnya. Dengan kembali menciumi ceruk leher Mayang, hingga membuat Mayang bergidik geli.
Tiga hari di rumah sakit Mayang merasa bosan, sepanjang hari berada di tempat tidur, apalagi Andre selalu merayunya, mencium dan memeluknya.
Mayang yang tak terbiasa di perlakuan seperti itu menjadi risih, apalagi belum ada perasaan khusus terhadap Andre. Luka di hati masih belum pun mengering,bukannya dendam.Namun, Mayang masih selalu terkenang akan penghinaan-penghinaan yang Andre tutur kan kepadanya. Dan itu membuatnya semakin sulit untuk menerima Andre.
Mayang diam seribu bahasa, sementara Andre mengusap kepala Mayang sambil sesekali menciuminya
"Yang, kita mandi bareng Yuk," ajak Andre.
"Ngak nanti saja, aku bisa mandi sendiri kok. "
Andre tersenyum seraya memeluk Mayang semakin erat.
"Kenapa kamu masih malu ya. Ngapain malu juga, aku sudah pernah lihat dan merasakannya Yang, apalagi kita sudah menikah, ngak apa-apa juga,"bujuk Andre lagi.
Mayang masih diam sambil memintal mintal tali ikatan bantal guling. Rasanya ia ingin menendang Andre karena memeluknya sepanjang hari, hingga ia merasa gerah dan lemas sendiri.
__ADS_1
"Ayolah Yank, " pinta Andre seraya menggigit bahu Mayang.
Andre semakin sulit mengendalikan hasratnya. Beberapa hari ini saja, ia harus bermain solo .
Tok tok..
Pintu di ketok.
"Siapa lagi sih? " dengus Andre ia pun turun tempat tidurnya, kemudian ia membuka pintu.
Ternyata Dokter datang untuk meneriksa keadaan Mayang. Kebetulan sekali dokter tersebut seorang Laki-laki.
Andre membukakan pintu
"Permisi. "dokter.
"Bagaimana nyonya? masih terasa sakit? " tanya dokter.
Mayang menggeleng.
"Tensi darahnya suster! " Perintah dokter sambil meraba perut bagian bawah Mayang untuk mengetahui apakah otot-otot bagian bawah perut Mayang sudah mengendor.
Andre langsung mengepal tangannya, melihat dokter yang menyentuh bagian bawah dari perut istrinya. Sebenarnya ia tak terima ada lelaki yang menyentuh Mayang.
"Hari ini sudah boleh pulang. " imbuh dokter tersebut lagi.
Andre merasa begitu bahagia, ia pun tak jadi marah.
"Boleh pulang Dok? bearti istri saya sudah sembuh? "
"Iya Tuan. "
" Kalau begitu bearti sudah boleh melakukan hubungan suami istri Dokter? " tanya Andre santai.
Mayang langsung melototkan matanya kearah Andre, sementara Andre tersenyum nyengir, begitu pun dokter dan suster yang ikut tersenyum mendengar pertanyaan Andre.
"Sudah bisa Pak, tapi harus Hati-hati , Kalau masih terasa sakit ngak usah di paksain. " Dokter.
"Oh tentu saja dok." Andre mengulas senyum bahagianya.
"Baiklah kalau gitu saya permisi. " Dokter
__ADS_1
"Iya dokter, terima kasih."
Suster melepaskan infus Mayang. Sementara Andre menyiapkan barang-barang mereka yang akan di bawa pulang.
Setelah selesai melepaskan infusnya suster keluar dari ruangan tersebut. Kemudian beberapa saat kemudian kembali lagi.Dengan membawa beberapa vitamin dan susu hamil yang tersisa.
Mayang merasa sedikit bebas dengan di lepaskannya infus dari tangannya.
Ia pun turun sendiri menuju kamar mandi.
"Mau kemana Yang? "
"Ke kemar mandi lah. "
"Biar aku bantuin kamu."
"Aku bisa sendiri kok! "
"Kamar mandi licin, takut kamu terpeleset ,"Andre
"Ih palingan mau modus," dengus Mayang.
"Ih jawab suami seperti itu. Ngak sopan. "
Sesampainya di kamar mandi Mayang mengguyur tubuhnya dengan air agar merasa segar, ia melepas semua pakaiannya, karena ketika bersama Andre Mayang menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.
Bur bur bur, suara air yang jatuh menguyur tubuh Mayang.
"Tok ..tok.. Yang. Buka pintunya Yang! " teriak Andre. Mendengar Mayang yang sudah bisa digunakan kembali, Andre berniat mempraktekannya saat itu juga.
Setelah selesai mandi, Mayang mendorong pintu kamar mandi, kemudian menatap tajam kearah Andre.
"Mandi sana! cepatan aku mau pulang! " sergah Mayang.
Tentu saja Andre kaget karena tak terbiasa di bentak, biasanya dirinya lah yang membentak orang lain, ternyata istri kecilnya itu lebih garang dari dugaan.
"Iya, "Andre pun meraih handuk dengan patuh, kemudian masuk ke kamar mandi.
Sementara Mayang dengan bebas mengenakan pakaiannya, karena Andre yang berada di kamar mandi.
Ketika melihat dirinya di cermin, Mayang kaget melihat beberapa tanda merah kebiruan pada daerah sekitar lehernya.
__ADS_1
"Ihs, dasar mesum, " dengus Mayang.
Bersambung dulu ya reader. 😘