
Adelia bersandar pada sandaran kursi dengan tubuh yang lemah tak berdaya. Melihat Raga yang terbaring tak sadarkan diri, bibir Raga terlihat begitu pucat dengan lingkaran mata yang semakin tegas.
"Raga kenapa ini terjadi pada mu Nak? "tanya Adelia menangis mengusap kepala Raga.
Raga bergeming, tubuhnya terasa begitu dingin.
"Papi bagaimana dengan Raga Pi, tubuhnya dingin sekali. " tangis Adelia.
"Kita, serahkan saja pada Tuhan Mi. Kita sudah berusaha untuk mengobatinya. " Adiaksa mencoba untuk bersikap tegar. maski dalam hatinya ia menangis pilu.
Adelia menghempas nafas panjang ketika mendengar panggil masuk di ponselnya.
Dengan malas ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri asal suara.
Di raihnya tas kremes nya, kemudian ia merogoh benda pipih yang berbunyi tersebut.
Melihat panggilan dari Ferdi, wajah Adelia semakin cemberut. Sebenarnya ia enggan mengangkat telpon tersebut.Tapi di angkatnya juga panggilan itu karena khawatir terjadi sesuatu.
"Hallo, ada apa?! " tanya Adelia bernada ketus.
"Mi! Resti saat ini sedang menjalani operasi Mi! "
"Apa?! Operasi ?! tapi kenapa Ferdi?! Resti itukan baru tujuh bulan! kenapa bisa operasi?! "
Tubuh Adelia yang sudah lemah, jadi semakin lemah karena berita yang dibawa Ferdi. Lututnya gemeteran.
Mendengar hal itu, taulah Adiaksa siapa yang mereka bicarakan di telpon.
"Masalah apa lagi ini Tuhan? " Adiaksa bertanya seraya menepak jidatnya.
"Lalu bagaimana keadaan Resti, Ferdi? Kenapa bisa sampai terjadi hal yang demikian?! hiks hiks. " Adelia kembali menangis sejadi-jadinya.
"Panjang ceritanya Mi. Mami buruan ke rumah sakit! " Ferdi.
Ferdi langsung menutup terlponnya sementara Adelia sudah tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.
Bruk..
Adelia jatuh berlutut kemudian menangis tergugu.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Resti Pi! Raga dalam keadaan sekarat, Resti pun begitu! hiks hiks hiks. "
Adiaksa menghampiri Adelia dan menarik tubuhnya agar sang istri berdiri. "Ayo Mi berdiri. "
Adelia mencoba mengangkat tubuhnya yang gemetaran.
"Hiks hiks, kenapa kita di timpa musibah beruntun Pi! Tuhan ngak adil sama kita Pi hiks hiks hiks. "
"Sabar Mi, sabar. Kita berdoa saja agar semua cepat berlalu, " ucap Adiaksa sambil mengusap pundak istrinya.
"Mami bisa stress Pi, jika terjadi sesuatu pada mereka hiks. "
Setelah keadaan menjadi tenang, Keduanya membagi tugas.
__ADS_1
Adiaksa menemui Ferdi di rumah sakit, sementara Adelia menunggu Raga.
Sesampainya di depan kamar operasi, Adiaksa melihat Mayang yang sedang berbincang pada Ferdi.
Adiaksa pun mempercepat langkah kalinya.
"Ferdi, Resti kenapa? " tanya Adiaksa.
Saat itu Mayang melihat wajah Adiaksa terlihat sedih.
"Resti keguguran Pi. Dia mengalami pendarahan karena jatuh terjerembab! "
Mendengar hal itu Adiaksa semakin emosi.
"Pasti kamu kan yang mendorong Resti?! "
Tuduh Adiaksa sambil mencekik Ferdi.
"Bu-bukan Pi. " wajah Ferdi jadi Merah akibat cekikkan tersebut
"Bohong kamu! "
Andre dengan santainya menyilang lengannya di dada. Ia sudah terbiasa melihat kekerasan bahkan lebih dari itu.
"Ayah lepaskan! " seru Mayang.
Tapi Adiaksa tetap mencekik Ferdi dan tak mengindahkan seruan Mayang.kebetulan ruang operasi saat itu sepi.
Mayang ingin melerai, tapi ia juga takut kejadian yang sama seperti Resti menimpanya.
"Mas bantuin Ferdi! Jika Ferdi sampai mati, Ayah pasti masuk penjara! " Mayang.
Melihat istrinya yang terlihat emosi, barulah Andre melerai mereka.
Saat itu wajah Ferdi hampir membiru Karena di cekik oleh Adiaksa. Ferdi hampir-hampir tak bisa bicara.
"Ayah mertua lepaskan! "
Andre merenggangkan kecikkan ke leher Ferdi. Barulah cekikikan tersebut terlepas.
Ferdi terbatuk-batuk karena merasakan sesak. Beberapa saat kemudian wajahnya yang merah barulah kembali normal.
"Bajingan kamu Ferdi! kamu tidak bisa menjaga Resti dengan baik! Kamu hampir membunuh Resti! "cecar Adiaksa. Seketika Adiaksa menangis karena merasakan bebannya begitu berat.
Melihat hal itu Mayang jadi sedih. Ia pun menarik lengan Adiaksa kemudian menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.
"Ayah menyelesaikan masalah ngak harus pakai emosi Yah. Kalau seperti ini, bukan nya menyelesaikan masalah, ayah justru bisa menambah masalah. "
"Hiks ayah binggung Mayang. Masalah yang menimpa keluarga ayah bertumpuk-tumpuk. Raga saat ini sedang kritis karena efek samping dari obat-obatan yang di konsumsinya. Tapi pagi dia hampir membunuh dirinya sendiri karena menyayat pergelangan tangannya. Hiks hiks dan sekarang Resti juga dalam keadaan sekarat karena mengalami pendarahan hiks."
Adiaksa menangis pilu dengan tubuh yang gemetar.
Melihat beban yang di alami sang ayah Mayang ikut bersedih.
__ADS_1
"Sabar saja Yah, selain kabar duka tersebut, Mayang juga bawa kabar bahagia untuk ayah."
"Kabar apa Nak? " tanya Adiaksa sambil menghapus air matanya.
"Dua bulan lagi ayah akan punya cucu Yah laki-laki Yah," tutur Mayang dengan berbinar-binar.
Adiaksa tersenyum di balik wajah sedihnya.
Adiaksa merangkul putrinya. "Selamat Yah Mayang. Ayah sadar selama ini ayah kurang memperhatikan keadaan kamu. Ayah terlalu sibuk, hingga ayah lupa jika ayah masih punya anak yang bisa ayah banggakan," ucap Adiaksa sambil mencium pucuk kepala Mayang.
Adiaksa mengurai pelukan mereka, kemudian mengusap perut Mayang.
Adiaksa tersenyum ketika merasakan janin tersebut menendang-nendang perut Mayang, sejenak Adiaksa sedikit terhibur merasakan sambutan sang cucu padanya.
"Sebentar lagi ayah akan jadi Opa Mayang. "
"Iya Ayah, Ayah akan dapat dua cucu langsung. " Bujuk Mayang pada Adiaksa.
Adiaksa merangkul Mayang kembali.
"Semoga persalinan kamu lancar Nak, Maaf ayah jarang sekali melihat keadaan kamu. " Adiaksa.
"Tak apa Yah, Mas Andre sudah menjaga Mayang dengan baik. Ayah tak perlu mengkhawatirkan Mayang. Saat ini Mayang sudah merasa bahagia dengan rumah tangga yang Mayang jalani. "Mayang
"Iya Nak, dari dulu kamu memang ngak pernah nyusahin ayah. "Adiaksa.
Ketika sedang asik mengobrol seorang suster membuka pintu ruang operasi.
"Keluarga pasien Resti! "
Ferdi dan Adiaksa menghampiri suster tersebut.
"Maaf Pak, saya harus sampaikan berita duka cita. "
Tubuh Adiaksa gemetar seketika dengan denyut jantung yang berirama kencang. Begitupun Ferdi, saling tegangnya ia sudah berkali-kali ia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Anak Bapak...!"
"Anak saya kenapa?! " tanya Adiaksa dengan membentak.
Suster tersebut pun kaget.
"Anak bapak mengalami pendarahan hebat! saat ini keadaan kritis dan butuh banyak donor darah, sementara janin yang ada di rahimnya tak lagi bisa di selamatkan. " suster tersebut bicara tanpa jedah.
Mendengar hal itu Adiaksa menghempas napas kasar." Kalau begitu, saya bersedia mendonorkan darah untuk putri saya suster. "
"Baik Pak silakan ke laboratorium. "
"Kami sudah membersihkan bayi anda. Sekarang anda bisa membawanya segera, untuk menguburkannya. " Suster.
Seorang suster lainya membawa bungkusan kain berbentuk segi empat yang berisi janin yang telah meninggal ke Ferdi.
Bulir bening menetes semakin deras di pipi Ferdi, kemudian ia meraih bungkusan tersebut dengan tangan yang gemetar.
__ADS_1
"Hiks hiks darah daging ku, " ucap Ferdi lirih seraya menciumi kain tersebut.
Bersambung dulu, terimakasih atas kesetiaan nya.lope u sekebon 😍🙏