
"Hah? menyerang Red Eyes, ha ha ha. Aku suka sekali, sudah lama kita tak berperang. Ha ha ha. " Mr Chan.
"Anda siapkan saja pasukan kita, Jika Steve, tak menggubris ultimatum ku, kita serang markas mereka! "Andre.
"Ha ha, Gampang tuan, kau cetus saja api, biar aku yang membakar markas Red Eyes. Sudah lama kita tak menguji adrenalin kita. " Mr Chan.
"Kalau begitu, akan ku hubungi kau, untuk rencana selanjutnya. "
Andre keluar dari rumahnya, sebelum itu ia meminta kepada pawang Anjing penjaga untuk mengeluarkan beberapa Anjing, untuk menjaga rumahnya.Di dalam mobil,
Andre coba menghubungi melalui Steven melalui emailnya langsung.
Aku tahu kau yang menculik Sean, sebaiknya kau kembalikan Sean dalam keadaan selamat, tanpa segores luka pun, jika kau tak ingin Red Eyes hancur di tangan Black Eyes. Andre Mahesa.
***
Sesampainya di rumah sakit Andre dihampiri oleh para pengawalnya. "Bagaimana ini bisa terjadi ?! Aku sudah peringatkan pada kalian untuk mengawasi adikku! Dasar tidak becus! " Andre begitu marah. Namun ia tak berteriak atau pun membentak orang suruhan tersebut. Karena tak ingin Hesti terganggu.
"Sudah periksa CCTV di rumah sakit ini? " Andre.
"Sudah Tuan, tapi CCTV yang berada di koridor yang dilewati oleh tuan Sean pada saat itu mati , sepertinya ada yang sengaja merusak CCTV , di saat kejadian gedung utama lantai dia pun terbakar, sepertinya ini adalah sabotase dari pihak yang menculik Sean, untuk mengalihkan perhatian penjaga maupun orang-orang yang berada di rumah sakit."
Hesti terdengar menangis ketika mendengar suara Andre.Suara tangisan tersebut memancing Andre untuk segerakan masuk kedalam ruangan.
"Kaka ipar! Hiks hiks."
Hesti semakin sedih melihat Andre menghampirinya. Ia pun merentang tangannya.
Andre memeluk Hesti yang terlihat begitu sedih.
"Kakak ipar, tolong temukan suami ku, hiks. "
"Tenanglah Hesty, aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Sean." Andre coba membujuk Hesti yang terlihat terpukul atas kejadian yang menimpanya.
"Tolong segera temukan suami ku kakak ipar, Bagaimana jika Sesuatu terjadi pada suamiku." Hesti.
"Iya aku akan berusaha agar secepatnya menemukan Sean." Tenanglah, pasti tak akan terjadi sesuatu apapun pada suamimu," ujar Andre sambil mengusap punggung Hesti.
"Jangan terlalu kau pikiran, Kau baru saja selesai melahirkan, pikirkan saja diri dan anak mu saat ini, biar aku yang ngurusi mu. "
"Bagaimana aku bisa tenang Kakak ipar, Suami ku sekarang dalam keadaan bahaya. " Hesti.
Ada rasa iba di hati Andre terhadap Hesti, Tak ada lagi tempatnya untuk mengadu. Sean pernah menyuruh orang untuk menjemput orang tua Hesti, tapi mereka menolak untuk ikut, karena saudara jika mereka ikut tak ada yang akan mengurusi adik-adik Hesti.
Kini hanya pada Andre dan Mayang lah tempat ia berkeluh kesah.
"Iya aku mengerti. Sekarang kita pulang saja , biar akau aman di rumah .Jady aku bisa fokus mencari Sean. "
"Iya kakak iparnya Tolong bantu cari Suamiku aku tak ingin terjadi sesuatu padanya, karena anak kami masih kecil. Aku baru saja kami baru saja merasakan kebahagiaan dengan lahirnya putra kami kini kami mendapat musibah yang sebesar ini. "
"Memang begitu Hesti, terkadang musibah datang bersamaan dengan kebahagiaan. "
__ADS_1
Tenanglah, sekarang kita pulang .kau akan aman di rumah. Anak mu juga sedang menunggu mu. Dia lebih membutuhkan mu. "
Andre sengaja bersikaf tenang, agar Hesti juga ikut tenang. Apalagi kondisi Hesti yang masih tidak stabil.
Setelah menyiapkan kepulangan Hesti,
Andre sendiri yang mendorong kursi roda Hesti sampai menuju lobby .
Mereka dikawal dengan 10 orang pengawal yang siaga.
Helikopter yang membawa Sean tiba di kota serawak Malaysia.
Di sana mereka kembali menggunakan jet pribadi milik kelompok Red Eyes. Menuju markas Red Eyes yang berada di los Angeles.
Sean masih tak sadarkan diri ketika berada di dalam pesawat. setelah beberapa jam penerbangan barulah ia mulai tersadar.
"Dimana aku? " ketika Sean pertama kalinya membuka mata. tubuhnya masih terasa lemah dengan borgol di kedua tangannya.
"Kau ada di pesawat Sean. " Anne.
"Kau siapa?" tanya Sean lirih dalam keadaan setengah sadar.
"Kau tak mengenalku Sean. Tapi aku mengenalmu. " Anne.
"Apa maumu? " tanya Sean seraya menatap gadis tersebut.
"Aku hanya disuruh, Sebaiknya kau persiapkan untuk bertemu dengan Steven. "
Sean menatap langit-langit yang ada di ruangan tersebut. Kepalanya masih terasa sakit, sementara sekujur tubuhnya terasa penat, karena masih dalam pengaruh obat bius. Sean kembali tertidur.
***
Steven menerima email ultimatum dari Andre.
Ia hanya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kau pikir aku takut! Kalian telah merebut anggota intelijen terbaik Red Eyes, lihat saja apa yang akan ku lakukan terhadap Sean. " Steven.
***
Andre dan Hesti tiba di rumah. Saat itu keadaan rumah mereka tak seperti biasa.
Terdengar lolongan anjing bersahut- sahitan menyambut kedatangan mereka.
"Ada apa ini kakak ipar? Kenapa rumah kita banyak Anjing yang berkeliaran? "
"semua itu anjing penjaga. Mereka lebih peka terhadap bahaya yang mengancam."
Hesti merasa ngeri, ia tak tahu jika saudara iparnya tersebut memelihara banyak anjing dari beberapa ras.
Anjing- anjing tersebut dibiarkan berkeliaran mengitari rumah dengan seorang penjaga saja.
__ADS_1
Anjing tersebut mengikuti kemana mobil Andre berhenti. Ketika melihat Andre, mereka para anjing berhenti melolong.
Kedatangan mereka disambut oleh Mayang.
Melihat Mayang, Hesti kembali sedih, ia pun langsung menghambur memeluk Mayang.
"Kakak ipar! " tangis Hesti pecah kembali.
"Tenang lah Hesti. Suami ku sedang berusaha mencari keberadaan Sean. Berhenti lah menangis. Lihat lah, ini putra mu. Dia sudah lama menantikan mu. "
Mayang menyodorkan bayi yang digendongnya.
Hesti menghapus air matanya, ketika melihat wajah tampan dari putranya tersebut.
Di sambutannya putranya tersebut, dengan perasaan rindu yang menggebu.
Eak, Eak, bayi laki-laki tersebut menggeliat ketika Hesti meraihnya.
"Sayang, ibu kangen sama kamu, " ucap Hesti dengan haru. Ia pun memeluk dan mendekap bayinya.
Seketika kesedihan Hesti tampak berkurang ketika mendekap putra mereka.
"Ayo aku antar kau ke kamar mu. Kau harus perbanyak beristirahat, jaga kondisi tubuhmu Hesti. Demi anak mu, jika kau terus-terusan sedih, anak mu juga ikut merasakan sedih, nanti dia bisa rewel. " Mayang.
"Hiks, Iya kakak ipar, Aku percaya kakak ipar bisa menemukan suami ku, " tutur Hesti dengan harus.
"Iya Hesti kita harus lebih banyak berdoa untuk perlindungan suami mu. " Mayang.
Andre menunggu Steven membalas e-mail, setelah seharian,belum ada satupun email yang masuk pada notifikasi gawainya. Itu yang membuat Andre semakin resah. Ia juga belum bisa memastikan jika Steven yang menculik Sean.
Andre dan kawanannya masih berusaha melacak keberadaan Sean. Ia sampai menurunkan anggota Black Eyes dari berbagai negara di seluruh dunia untuk menyelidiki keberadaan Sean.
***
Setelah perjalanan seharian helikopter yang membawa Sean tiba, setelah transit di kota New York.
Saat itu Sean sudah sadar sepenuhnya, tangannya diborgol dengan borgol khusus.
Seperti penjahat kelas berat, Sean dikawal puluhan orang untuk menemui Sean. Kini Sean dan Steven saling berhadapan, mereka saling menatap tajam.
"Ini pengkhianat itu! " teriak salah seorang di antara pengawalnya.
Dengan sedikit di seret ,Sean di dorong kuat hingga terjungkal dan hampir berlutut di hadapan Steven.
Kedua netra mereka bertemu.
"Jangan jadi pengecut Steve! Kau menculikku dengan cara yang cara menjebak ku! Memalukan! " Sean.
"Bedebah! Akan kulakukan segala cara untuk mendapatkan penghianat sepertimu? "
Steve menodongkan pistol ke arah pelipis Sean, kedua netra mereka pun beradu, saling menatap dengan tajam.
__ADS_1
Bersambung, kalau sempat author up satu bab lagi 🙏🙏🙈