
Black Eyes tengah mengusut dalang dari penembakan Mayang.
Setelah menyelidiki dan meminta keterangan dari beberapa tawanan anggota Red Eyes yang ditahan. Mereka menemukan jika ada sekitar lima orang anggota Red Eyes yang terbukti melakukan penembakan.
Kelima tersangka langsung di hukum dan dipenjarakan termasuk Steve. Steve memang tak terlibat secara langsung. Namun, sebagai pemimpin ia juga harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh anggota Red Eyes lainnya.
***.
Andre sedang berada di dalam sambungan telepon bersama anggota Black Eyes.
" Bagaimana? Apa sudah diselidiki, siapa yang telah melakukan penembakan terhadap istri ku? "
" Sudah tuan. Dalang dari semua itu adalah Jacky, pengusaha asal Meksiko."
" Jacky? siapa dia?! "
" Jacky pengusaha asal Meksiko, awalnya ia ingin membunuh tuan, tapi tembakan malah nyasar ke nyonya. "
" Apa masalah Jacky kepada ku? !Aku bahkan tak mengenalnya!"
"Alasannya karena tuan telah merebut tender kerja sama perusahaannya dengan perusahaan tuan Franklin. Black dan anggota Red Eyes lainya tidak tahu jika sasaran Jacky adalah tuan. Mereka tak mengenal tuan dengan nama tuan saat ini. "
" Jadi seperti itu rupanya. Dasar pengecut! Kau urus Black dan pelaku penembakan istri ku, hukum mereka seberat-beratnya. "
" Biar Jacky aku yang urus. "
" Baik tuan jika begitu. " Mereka menutup telponnya.
***
Donald Harrison mendatangi markas Black Eyes yang ada di New York.
Donald Harrison adalah pejabat daerah setempat, ia memiliki pengaruh yang cukup besar di kota New York.
Pemimpin Black Eyes di kota New York adalah Jackson. Jackson pula yang menangkap Steve dan anggota Red Eyes lainya.
" Ada perlu apa tuan Donald? " tanya Jackson.
" Aku ingin menebus Steve Smithson. Berapa harga yang di tawarkan oleh pemimpin kalian?"
" Maaf Tuan, tapi kami tak memberi jaminan. " Jackson.
" Steven tidak bersalah, atas nama pemerintahan ini, saya yang akan menjadi pihak penjamin bagi Steve," ujar tuan Donald.
Jackson sedikit meragu. Jika tuan Donald yang memiliki kekuasaan di pemerintahan tersebut tak dituruti, maka Black Eyes sendiri akan mengalami masalah besar.
" Baiklah, satu juta dolar untuk kebebasan Steve. "
" Deal. " Tuan Donald langsung menyerahkan satu koper penuh uang cash kepada Jackson.
Mereka berdua berjabat tangan.
Setelah transaksi mereka selesai, Tuan Donald di perkenankan menemui Steve di penjara.
***
Steve mondar-mandir di penjara, ia menunggu kehadiran tuan Donald.Tuan Donald sendiri berjanji akan menjamin kebebasannya hari ini.
Tak berapa lama, Steve menyunggingkan senyum smrik-nya, karena melihat kedatangan Jackson dan tuan Donald.
Jackson membawa dua orang penjaga penjara untuk mengawal mereka.
Setibanya di depan bui, Salah satu dari dua penjaga penjara tersebut membuka gembok penjara yang berlapis-lapis tersebut.
Seolah tak sabar, Steve langsung keluar ketika pintu tersebut baru saja di buka.
" Anda di bebaskan atas jaminan tuan Donald Harisson, " ucap Jackson kepada Steve.
Steve tersenyum menyeringai.
" Ayo tuan , kita segera tinggal tempat terkutuk ini. "
Donald Harrison mengangguk.
***
Di depan markas Black Eyes, Sebuah mobil Limousin hitam menunggu mereka.
__ADS_1
Steve dan Donald menuju mobil tersebut.
Mereka duduk bersebelahan. Mobil di bawa oleh seorang supir yang menggunakan seragam.
" Lalu berapa harga kebebasanku ini? " tanya Steve.
" Ha ha, tenang saja Steve. Aku masih menawarkan kerja sama kita yang tertunda. Ada satu rencana besar, " sahut Donald Harisson.
" Jika kau setuju, kita bikin kelompok baru. Kau mahir dalam merakit senjata Steve, kita bikin pabrik rakitan senjata sendiri, kemudian kuasai perdagangan senjata ilegal dan non ilegal. Selain perakitan senjata, kita bisa rebut kembali kartel perdagangan narkoba di seluruh dunia. Meski Red Eyes telah di bubarkan, kau masih punya kekuasaan untuk merekrut mereka kembali. "
Steve menatap ke arah Donald, memikirkan tawaran tersebut,kemudian ia tersenyum smirk.
Tentu saja Donald Harisson berani menjamin berapa pun demi kebebasan Steve.
Dengan bergabung Steve di kelompok mereka, Donald akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari keahlian yang dimiliki oleh Steve.
Steve, dulunya ia menjalani pelatih perekrutan anggota Red Eyes, bersama dua orang rekannya, yakni Sean dan Leon.
Ketiga di latih dengan tiga keterampilan berbeda untuk menjadi pasukan elit dari Red Eyes. Sean dengan kemampuan menyelinap dan membaca ekspresi seseorang, Leon dengan kemampuan pertahanan diri yang kuat, sedangkan Steve sendiri memiliki kemampuan merakit senjata. Karena itulah mengapa Donald Harisson beberapa kali menawarkan kerja sama kepada Steve.
" Baiklah. Aku ingin kedudukan tinggi di tempat yang baru itu. " Steven bernegosiasi.
" Ha ha, kau akan kujadikan pemimpin Iron Eyes Steve. Kau tahu sendiri, aku seorang pejabat pemerintahan. Aku tak boleh terlibat secara langsung. "
" Baiklah aku setuju. "
Tanpa pikir panjang, Steve pun menyetujui rencana Donald.
Keduanya pun melanjutkan rencana-rencana awal mereka.
***
Steve diantar langsung oleh Donald Harisson ke rumahnya yang ada di New York.
Setelah berada di depan rumahnya, mobil pun berhenti. Steve turun dari mobil tersebut.
Anna yang sudah berhari-hari lalu menanti kedatangan daddy nya segera berlari menuju pintu keluar ketika melihat Steve turun dari mobil.
" Daddy! " suara nya lantang memanggil Steve, di iringi tawa riang yang bahagia.
Steve tersenyum, melihat bocah kecil tersebut menyambutnya.
Steve langsung menggendong putrinya tersebut.
"Daddy , I miss you so much! "ucap Anna sambil mencium pipi Steve.
Steve tersenyum, ia pun memcium-cium pipi empuk putrinya.
" Miss you too babby. "
Keduanya pun saling berpelukan. Anna larut dalam kecerian dan kebahagiaan nya, karena kepulangan Steve.
Alice tersenyum sambil mengusap perut buncitnya tersebut.
Setibanya di depan pintu, keluarga kecil itu saling meluapkan perasaan rindu.
Steve dan Alice saling berpelukan, setelah beberapa lama tak bertemu, akhirnya mereka kembali berkumpul.
Anna terus memeluk daddynya karena takut akan kehilangan Steve kembali.
Keluarga kecil itu pun, makan malam dengan perasaan bahagia, karena telah berkumpul kembali, meski Steve kehilangan seluruh hartanya. Namun, baginya anak dan istrinya sudah cukup mengobati rasa sakit tersebut, meski di hatinya masih terselit dendam untuk Andre.
***
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Saat itu, keluarga Steve tengah terlelap.
Duar!!!
Tiba-tiba saja Steve mendengar ada suara ledakan dari luar rumahnya . Suara ledakan tersebut cukup besar dan dasyat.
Steve dan Alice tersentak kaget. Mereka pun saling memandang dengan pertanyaan yang sama.
" Ada apa ini? "
Tiba-tiba saja mereka mencium bau asap.
" Kebakaran! "Seru Steve sambil melompat di atas tempat tidurnya, kemudian melihat apa yang terjadi di lantai bawah.
__ADS_1
Alice ikut panik, ia langsung merangkul dan menggendong Anna.
***
Alangkah kagetnya Steve ketika melihat sebagain rumahnya yang sudah terbakar.
Api begitu cepat merembet, hingga sebagian rumah tersebut hampir hangus.
Steve memang tinggal di kawasan pinggir kota, yang mana jarak rumah penduduk tidak begitu rapat.
" Api?! " Alice begitu kaget ketika melihat api yang begitu besar tersebut dengan cepat menghanguskan bagian bawah rumah mereka.
Mereka semua pun dibuat panik.
" Ayo kita semua turun Alice! "
Steven menyambar putri mereka, Anna yang kala itu tengah tertidur.
Mereka berjalan cepat menuju anak tangga agar bisa turun sebelum api menyambar anak tangga tersebut.
Asap hitam pekat sudah menggumpal memenuhi ruangan itu, hingga mereka kesulitan untuk membuka mata.
Anna yang tertidur seketika menangis karena merasakan sesaak akibat asap pekat yang menggumpal. Namun, mereka terus berupaya berjalan cepat melewati asap tersebut.
Beberapa bagian dinding dan platfom sudah ada yang jatuh akibat tuang penyangga hangus terbakar.
Karena pandangan mereka tertutupi asap, Alice tanpa sengaja menabrak sesuatu hingga membuatnya tersandung dan jatuh, tangannya pun terlepas dari genggaman Steve.
" Akh!" Alice tertelungkup jatuh!
" Alice! " Steve mencari keberadaan Alice di tengah asap tersebut.
" Akh! "Alice meringis kembali.
Dalam sekali raba, ia bisa menggapai tangan Alice.
" Perutku sakit Steve! "
"Ayo kau tahan saja, kita harus secepatnya keluar dari rumah ini! "
Steve menarik paksa Alice, di tengah kobaran api tersebut dan asap yang menyelimuti sekitar mereka.Steve berupaya menyelamatkan keluarganya.
Alice harus berjalan cepat seraya menahan rasa sakit akibat terjatuh.
Dalam beberapa detik, akhirnya mereka menemukan pintu keluar.
Steve dan Alice, langsung berjalan cepat menuju mobil mereka.
Sementara Anna terus menangis karena merasa sesak dan matanya terasa pedih.
Untung saja mobil Steve di rancangan otomatis dengan menggunakannya sensor sidik jarinya. Jadi mobil tersebut bisa di gunakan tanpa harus menggunakan kunci kontak.
Dengan segera mereka masuk mobil.
Di dalam mobil Alice terus meringis merasakan sakit yang luar biasa.
Sementara Anna terus menangis kencang.
Steve benar-benar binggung. Namun, ia harus cepat mengambil tindakan.
Dibawanya mobilnya tersebut menjauh dari rumah mereka yang sudah hangus sebagian dilalap si jago merah.
Bulir bening menetes di pipi Steve melihat keadaan rumah, anak dan istrinya.
' Siapa yang tega melakukan ini! Ini pasti Andre dan Black Eyes yang telah merencanakan ini semua! Awas saja kalian semua, ' batin Steve dengan tatapan tajam penuh dendam.
***
Seorang laki-laki sedang menerima telpon dari laki-laki lainya.
"Sudah beres tuan. Rumah Steve, hancur di lalap api. "
"Ha ha ha, Kerja bagus! "
Bersamabung dulu reader. Episode- episode terakhir ini akan ada kaitannya dengan kisah dibuku baru dengan judul : Penjara Cinta Dua Anak Mafia.
Sambil nunggu author up, yuk yang belum mampir, mampir ke karya otor yang lain.
__ADS_1
Dengan judul: Istri pengganti tuan muda yang cacat.