
"Taman bunga? Mengapa aku berada disini? Dimana aku? Seingat ku di istana tidak ada satupun taman yang berbentuk seperti ini. Apakah aku salah mendatangi suatu tempat? Tidak, tunggu! Bukankah tadi aku sedang tidur? Ini mimpi?" gumam Lin Lin sambil menatap ke arah sekitar.
Lin Lin menatap dengan bingung sekitarnya kemudian memutuskan untuk berjalan mengelilingi taman bunga itu. Lin Lin menatap jauh ke depan dan melihat sesosok punggung yang lebar.
Lin Lin mengernyitkan dahi nya, dia merasa sedikit familiar dengan penampakan punggung itu. Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Lin Lin sadar bahwa itu adalah punggung kakaknya, kakak kandung nya di dunia modern.
Lin Lin tersendat kemudian seketika saja matanya mendadak berair ketika melihat sosok yang sangat dia rindukan sejak dahulu.
"Kakak, Kakak, aku rindu kakak," gumam Lin Lin.
Tangan Lin Lin mulai terangkat ke depan dan mencoba untuk menyentuh punggung pria itu. Nyatanya tangan Lin Lin langsung saja menembus punggung itu.
Seketika punggung itu menjadi hilang. Seolah-olah Lin Lin sedang melihat sebuah hantu kemudian hantu itu hilang setelah disentuh.
Lin Lin menjadi histeris melihat hal itu, "Kakak! Kakak, di mana kau sekarang?! Kakak, aku mohon jawab aku!"
Sayangnya tidak ada satupun jawaban yang terdengar. Lin Lin terduduk di tanah kemudian menangis keras.
Walaupun telah menjadi ibu dari tiga anak, Lin Lin tetap saja tidak bisa menahan rasa rindu nya kepada satu-satunya saudara yang dia miliki.
Satu-satunya keluarga yang membuat dirinya merasa bahwa masih ada yang peduli pada dirinya.
"Aiyah, bisakah kau berhenti menangis? Aku sedari tadi menunggu kau berhenti menangis barulah aku akan muncul dengan keren. Nyatanya sudah ku tunggu selama lima belas menit kau masih saya terisak menangis," ucap seorang pria tiba-tiba saja terdengar dari arah belakang Lin Lin.
Lin Lin segera saja menghapus air matanya dan berhenti menangis. Lin Lin Lin melihat adanya seorang pria muda yang berumur sekitar dua puluhan tahun di hadapan nya setelah berbalik badan.
__ADS_1
Lin Lin mengernyitkan dahi nya, "Siapa kau?" tanya Lin Lin dengan suara yang serak karena sehabis menangis.
Pria itu terkekeh pelan kemudian menatap Lin Lin dengan tatapan mata yang tidak bisa Lin Lin ketahui apa artinya tatapan itu.
"Bukankah kau terlalu cepat melupakan diriku, Lin Lin?" tanya pria itu.
Lin Lin mengernyitkan dahi lagi, "Siapa kau? Apakah aku pernah bertemu dengan mu sebelumnya? Apa maksud dari perkataan mu itu?"
Pria itu tertawa kecil, "Nyonya muda, kau memang sangat cepat melupakan seseorang, ya. Oh? Atau karena aku mengubah suaraku waktu itu?"
Lin Lin menatap wajah pria muda itu dengan tatapan menyipit kemudian memikirkan sesuatu. Hanya ada satu orang yang memanggil dirinya sebagai nyonya muda. Tidak, Lin Lin bahkan tidak tahu apakah dia orang atau hantu.
"Apakah kau, yang, yang waktu itu?" tanya Lin Lin dengan nada suara yang ragu.
Pria itu bertepuk tangan dengan keras setelah Lin Lin berkata seperti itu, "Ya, tepat sekali. Akhirnya kau bisa menebak siapa aku. Ya ampun, bagaimana kau bisa semudah itu melupakan diriku nyonya muda.
Lin Lin menatap kesal ke pria di hadapan nya ini. Lagi-lagi pria itu membaca pikiran nya. Lin Lin ingin sekali menghajar, paling tidak sekali saja, wajah pria itu.
"Oh nyonya muda, kau tidak akan bisa memukul diriku. Kau tahu fakta itu dengan baik. Dan lagi, aku datang kali ini dengan maksud untuk menjawab semua kebingungan mu. Bukankah kau selalu ingin tahu mengapa kau terus merasakan sakit di jantung mu?" kata pria itu kali ini dengan senyuman seringai.
Lin Lin menatap dengan tatapan tidak percaya kepada pria itu. Pria itu bahkan dengan terang-terangan mengakui bahwa dia bukanlah manusia.
Bahkan pria itu tahu penyebab munculnya sakit di dalam jantungnya? Apakah ini sebuah kebetulan? Mungkinkah ini ada hubungan nya dengan kakaknya yang tadi Lin Lin lihat?
"Ya, kau benar. Aku datang kesini juga bukan sebuah kesengajaan ataupun kebetulan. Jika tidak kenapa aku rela menghabiskan waktu istirahat ku hanya untuk mengunjungi mu di dalam mimpi mu ini? Hah, coba saja yang lainnya memiliki sedikit hati, pasti bukan aku yang turun kemari," ujar pria itu.
__ADS_1
Lin Lin kembali bertanya, kali ini tidak hanya di dalam pikiran nya saja. Lin Lin bertanya langsung karena Lin Lin tidak suka ketika pikiran nya dibaca oleh orang lain.
"Jadi apa kau sebenarnya? Kau bilang kau bukan manusia. Lalu apakah kau iblis? Ataukah kau adalah hantu gentayangan?" tanya Lin Lin.
Pria muda itu langsung saja mendelik ke arah Lin Lin "Hei, bisa-bisanya kau memanggil ku hantu! Aku ini adalah dewa. Aku adalah dewa yang agung. Ingat itu baik-baik."
Lin Lin menatap datar ke arah pria itu kemudian menghela nafas nya.
"Tentu saja aku tahu bahwa kau adalah seorang dewa. Sejujurnya aku sudah menebak nya," ucap Lin Lin dengan ekspresi wajah yang sangat datar, seolah-olah dia tidak peduli dengan apa yang pria muda itu katakan.
Pria itu menghela nafas, memilih untuk mengalah daripada harus berdebat dengan seorang perempuan.
"Yah, intinya sekarang, kau akan segera kembali meninggalkan dunia kuno itu. Kau akan meninggal. Jadi jika kau ingin menghabiskan waktu-waktu terakhir mu dengan keluarga mu, maka lakukan dengan segera. Aku memberitahukan ini padamu karena aku tidak ingin kau marah pada kami," ucap pria muda itu sambil memalingkan wajah nya.
Lin Lin mengernyitkan dahi, "Mengapa harus marah pada 'kalian'? Apakah 'kalian' yang mengambil nyawa ku secepat ini? Apakah 'kalian' yang merencanakan semua ini?" tanya Lin Lin dengan marah.
Pria muda itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan 'kami', melainkan 'tuan tertinggi'. Kami hanya bisa menjalankan perintah nya tanpa boleh menolak."
Lin Lin menatap tajam pria itu kemudian bertanya di dalam pikiran nya karena merasa takut akan jawaban dari pertanyaan yang akan diucapkan oleh pria itu nanti.
Lalu bagaimana dengan Xie Hao Ran yang bisa membuat sakit di jantung Lin Lin menghilang? Apakah Xie Hao Ran adalah seorang dewa? Atau reinkarnasi dari dewa?
Pria muda itu menggelengkan kepalanya, "Tidak keduanya. Dia bisa disebut sebagai utusan dari dewa sebagai permintaan maaf sekaligus sebagai penyeimbang dunia nantinya."
Lin Lin sekali lagi dipenuhi dengan teka-teki, "Penyeimbang dunia? Apa maksudmu? Memangnya apa yang akan terjadi? Mengapa anak ku Ran Ran harus menanggung hal sebesar itu? Aku adalah ibu nya, aku hanya ingin dia hidup layaknya orang biasa dan dia dapat hidup bebas tanpa terancam oleh bahaya."
__ADS_1
...****************...