Mengejar Tuan CEO

Mengejar Tuan CEO
63. Bertemu pimpinan tertinggi


__ADS_3

Lin Lin bahkan melupakan bahwa saat ini dewa Wen bisa mendengar apa yang Lin Lin katakan di dalam pikiran nya.


"Kita akan sampai sebentar lagi, jika kau bisa bertahan hingga sebentar lagi itu akan bagus," ucap dewa Wen sambil menatap ke arah Lin Lin.


Lin Lin menghela nafas nya dan tidak mengatakan apapun selain tetap berjalan mengikuti langkah kaki dewa Wen. Karena dewa itu mengatakan bahwa mereka sedikit lagi akan sampai maka Lin Lin dengan bersabar akan tetap berjalan sampai tiba ke hadapan pimpinan tertinggi itu.


"Kita sudah sampai," ucap dewa Wen setelah mereka berdua berjalan selama beberapa waktu.


Lin Lin menatap pintu berlian yang ada di hadapan nya dengan mulut terbuka lebar, hal ini sangat membuat dirinya merasa tidak percaya.


"Apa ini ruangan di mana pimpinan tertinggi berada?" tanya Lin Lin dengan mulut nya yang terbuka karena dirinya terkejut.


Tentu saja bukan terkejut karena berlian yang melapisi seluruh pintu. Tetapi dia terkejut dengan ukuran dari pintu ini sangat besar. Itu bahkan lebih mirip pintu masuk untuk seorang raksasa.


Mengapa diperlukan pintu sebesar itu? Apakah ada raksasa yang tinggal di sini? Hanya itu yang bisa Lin Lin pikirkan saat ini.


"Jangan banyak melamun dan bertanya lagi. Jika kau memang sudah tidak sabar maka kau harus segera masuk," ucap dewa Wen membuat Lin Lin sadar dari rasa terkejut nya.


Tentu saja Lin Lin menjadi kaget sekaligus dia merasa malu karena ketahuan bersikap seperti seseorang yang sangat norak.


Hanya saja wajar jika dirinya bingung dengan pintu sebesar itu di depan dirinya. Bahkan dirinya bagai seekor semut ketika berhadapan dengan pintu itu.

__ADS_1


"Kau akan mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala mu itu setelah masuk ke dalam. Jadi jangan membuat tuan tertinggi menunggu lama," ucap dewa Wen lagi tidak memberikan Lin Lin kesempatan untuk melamun sedikit pun.


Lin Lin segera saja menatap dewa Wen dengan tatapan mata yang agak terkejut, "Apakah kau tidak akan ikut masuk ke dalam?" tanya Lin Lin dengan agak kaget. Lin Lin pikir bahwa dewa Wen akan ikut masuk bersama dengan dirinya.


"Tentu saja tidak, buat apa aku melakukan hal itu? Apakah menurut mu itu akan berguna? Aku hanya akan mengganggu pembicaraan kalian. Aku tidak suka menjadi seorang pengganggu," ucap dewa Wen dengan sangat serius.


Tentu saja Lin Lin tidak pernah menyangka bahwa dewa Wen akan berkata seperti itu di hadapan dirinya.


Tetapi karena rasa penasaran yang dimiliki oleh Lin Lin telah melebihi batasannya, Lin Lin akhirnya menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan dewa Wen dan segera saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Jadi kau sudah selesai melihat-lihat dengan dewa Wen?" Suara bertanya seseorang telah terdengar bahkan sebelum Lin Lin masuk ke dalam ruangan itu.


Lin Lin segera saja melangkahkan kaki nya masuk ke dalam ruangan itu kemudian menatap seseorang yang sedang duduk di atas singgasana yang sangat tinggi.


Jadi Lin Lin hanya bisa menyipit untuk berusaha untuk melihat bagaimana wajah dari pimpinan tertinggi itu walaupun pada akhirnya dirinya gagal untuk menatap wajah dari pimpinan tertinggi itu karena cahaya di sekeliling pimpinan tertinggi itu sangat cerah.


"Haha, kau adalah orang yang unik. Tidak heran mengapa Dewi Zhou sampai cepat akrab dengan dirimu. Ternyata kau sama sekali tidak munafik," ucap pimpinan tertinggi itu dengan tawa nya pelan.


Lin Lin hanya terdiam saja dan sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pimpinan tertinggi itu. Mengapa dia malah tertawa untuk hal yang bahkan Lin Lin sedang tidak melakukan apapun?


"Oh, rasanya tidak baik jika aku berbicara dengan duduk dan kau malah menatap ku dengan posisi berdiri. Pasti kau kelelahan karena harus berjalan dari pintu gerbang istana sampai ke ruangan ku saat ini. Duduklah," ucap pimpinan tertinggi itu.

__ADS_1


Lin Lin baru saja ingin bertanya di mana dia bisa duduk di saat di tempat itu bahkan tidak ada satupun kursi yang bisa ia duduki.


Tetapi secara seketika saja, sebuah kursi muncul di belakang dirinya dan hal itu tentu saja membuat Lin Lin merasa sangat terkejut bukan main.


"Silahkan duduk, Lin Lin," ucap pimpinan tertinggi itu.


Lin Lin hanya bisa menuruti apa kata dari pimpinan tertinggi itu tanpa bisa mengatakan apapun. Entah mengapa tubuh nya malah refleks untuk langsung duduk di atas bangku itu tanpa bertanya apapun dan tanpa membuka mulut nya untuk berbicara.


"Ah, kau pasti bertanya-tanya banyak hal bukan di dalam hati mu? Tanyakanlah, tapi aku harap kau bertanya dari yang paling penting terlebih dahulu," ucap pimpinan tertinggi itu lagi.


Lin Lin segera saja membuka mulut nya ketika dirinya sudah diizinkan untuk bertanya, tentu saja Lin Lin tidak akan melewatkan kesempatan kali ini hanya untuk menatap keseluruhan istana itu saja tanpa bertanya hal yang paling penting.


"Mengapa aku harus meninggal dengan cepat seperti ini? Apa yang membuat aku sampai seperti ini?" tanya Lin Lin dengan cepat dan hampir saja dirinya menangis dengan fakta bahwa dirinya sudah meninggalkan semua keluarganya terlalu cepat.


"Kau benar-benar langsung menanyakan yang paling penting ternyata. Ku pikir kau akan melakukan basa-basi terlebih dahulu barulah kau akan bertanya pertanyaan utama ini. Tetapi tidak masalah, tentu saja akan ku jawab. Dengarkan baik-baik, Lin Lin, karena aku sama sekali tidak akan mengulang," ucap pimpinan tertinggi itu lagi.


Lin Lin segera saja menelan ludah nya dengan susah kemudian menatap me arah pimpinan tertinggi itu dengan raut wajah serius untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pimpinan tertinggi itu.


"Sebenarnya ada banyak sekali alasan mengenai itu. Yang pertama adalah putra mu yang adalah utusan dari kami semua untuk menyelamatkan dunia manusia itu.


"Seorang utusan harus bisa menahan rasa sakit dari berbagai aspek supaya dia tumbuh menjadi seseorang yang sangat kuat. Tentu saja jika hanya untuk alasan itu maka aku seharusnya memilih suami mu yang telah berumur panjang. Aku tidak akan membunuh seorang wanita yang bahkan umurnya tidak sampai 10 persen dari umur ku. Itu akan memalukan," ucap pimpinan tertinggi itu menghentikan ucapan nya sebentar untuk menarik nafas.

__ADS_1


Tetapi bahkan sebelum pimpinan tertinggi itu mengambil nafas, Lin Lin telah terkejut terlebih dahulu karena mendengar apa yang dikatakan oleh pimpinan tertinggi itu.


...****************...


__ADS_2