
Lin Lin tentu saja merasa tertantang dengan ucapan dari dewa Lian, bahkan Lin Lin tidak lagi peduli dengan para dewa dewi yang saat ini telah berkumpul di dekat mereka karena keributan yang tanpa sengaja Lin Lin buat.
Tentu saja para dewa dewi tidak ada yang berani untuk melerai mereka karena mereka semua takut pada dewa Lian. Maka dari itu mereka membiarkan dewa Lian untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan.
"Kami harus segera menemui tuan tertinggi. Ini adalah perintah nya, jangan membuat dia menunggu," ucap dewa Wen sengaja dengan cepat melerai kedua orang itu karena tidak mau membuat keributan lebih lanjut.
Sayangnya tiba-tiba saja terdengar suara yang cukup keras, "Tidak apa-apa. Lagipula tampaknya ini akan menyenangkan untuk ditonton. Kalian bisa melanjutkan nya terlebih dahulu, aku akan menonton dari jauh," ucap suara itu dengan nada suara yang tenang.
Lin Lin tentu saja sudah dapat mengira bahwa itu adalah suara dari pimpinan tertinggi para dewa itu. Apakah lucu menonton sebuah perkelahian? Lin Lin sama sekali tidak tahu apa yang menyenangkan dengan menonton sebuah perkelahian.
"Bagus sekali. Karena tuan telah mengizinkan kami untuk bertarung maka aku tidak akan sungkan-sungkan lagi pada mu, nona muda," ucap dewa Lian sambil menatap ke arah Lin Lin dengan tatapan tajam sekaligus menghina.
Lin Lin hanya membalas dengan tatapan wajah yang tidak mengerti, apakah dewa ini begitu tergila-gila untuk bertarung dengan manusia? Ataukah dia adalah dewa yang paling suka mengganggu manusia?
Tetapi tentu saja Lin Lin merasa kesal dengan sikap sombong yang ditunjukkan oleh dewa Lian itu, makanya dengan cepat Lin Lin menerima tantangan yang diberikan oleh dewa Lian.
"Bagaimana jika kita melakukan taruhan?" tanya dewa Lian dengan cepat.
Lin Lin mengerutkan kening nya, apa lagi sekarang? Apa yang diinginkan oleh dewa Lian? Mengapa dia begitu memaksakan kehendak? Apakah dia sangat kesal dengan kehadiran Lin Lin di sini sampai-sampai mencari masalah terus kepada dirinya? Padahal Lin Lin sendiri sama sekali tidak mau berada dan datang ke dunia atas ini.
__ADS_1
"Katakan apa yang kau mau," ucap Lin Lin dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Jika kau kalah maka kau harus menjadi budak ku selama seratus tahun," ucap dewa Lian dengan nada sombong nya.
Tetapi bahkan sebelum Lin Lin menjawab perkataan dari dewa Lian, ucapan Lin Lin telah dipotong terlebih dahulu oleh dewa Wen yang berada di hadapan dewa Lian.
"Itu tidak mungkin!" ucap dewa Wen dengan suara yang mendadak keras.
Dewa Lian mengernyitkan dahi nya tidak mengerti, biasanya dewa Wen adalah dewa yang paling tidak peduli pada siapapun, dia tidak akan pernah peduli dengan kehidupan orang lain atau apa yang terjadi di sekitar nya kecuali jika itu ada hubungan nya dengan dirinya.
Tentu saja dengan penolakan dari dewa Wen secara sepihak membuat dewa Lian tidak mengerti dengan penolakan yang diberikan oleh dewa Wen.
"Mengapa tidak mungkin?" tanya dewa Lian dengan nada yang sangat menantang.
"Intinya adalah, taruhan itu sama sekali tidak adil," ucap dewa Wen dengan cepat.
Lin Lin terkekeh pelan, "Meski aku tak tahu apakah kau memang sengaja membantu ku ataukah ini ada hubungan nya dengan pimpinan tertinggi mu itu, terima kasih karena telah membantu ku. Tetapi aku menerima taruhan ini. Dengan syarat, jika kau kalah maka kau harus memberikan semua harta yang kau miliki, SEMUANYA, kepada anak-anak ku di dunia bawah. Bagaimana? Apakah kau setuju?" tanya Lin Lin dengan senyuman manis di wajah nya.
Dewa Lian tertawa pelan, "Tentu saja aku akan menyetujui nya, itu sama sekali tidak berharga. Kau membuat taruhan yang sangat mudah untuk ku lakukan. Apakah kau sedang bercanda? Ataukah kau sedang sangat ketakutan sehingga kau tidak bisa berpikir taruhan apakah yang cocok dengan diriku?" ejek dewa Lian kepada Lin Lin.
__ADS_1
Lin Lin segera saja menggelengkan kepala nya dengan cepat, "Sebelum kita memulai, biarkan aku perjelas terlebih dahulu apa arti dari taruhan ku. Maksudnya adalah seluruh harta mu, termasuk pakaian yang kau sedang gunakan saat ini. Harusnya kau paham bukan apa maksud ku?" ucap Lin Lin dengan senyuman seringai nya.
Tentu saja tanpa perlu dikatakan semua dewa dewi di sana sudah paham dengan maksud dari perkataan Lin Lin, jika dewa Lian kalah, maka dia harus berjalan tanpa busana di dunia atas ini, bahkan termasuk semua istana nya juga harus diberikan kepada anak dari gadis manusia itu.
Jika dilihat secara sekilas maka taruhan Lin Lin itu akan sangat mudah bagi para dewa yang bisa dengan cepat mengumpulkan seluruh harta nya. Tetapi sebenarnya tidak semudah itu. Jika dilihat secara teliti maka taruhan yang Lin Lin buat itu lebih cocok disebut sebagai mempermalukan orang lain.
Tentu saja dewa Liam menyadari hal itu, hanya saja tentu saja dengan kesombongan seorang dewa, dewa Lian pasti tidak akan pernah mau menyatakan bahwa dirinya kalah dari seorang manusia.
"Baiklah, kalau begitu. Memangnya aku akan kalah pada dirimu? Heh, mimpi saja kau. Aku tidak mungkin akan kalah dari dirimu," ucap dewa Lian dengan senyuman sinis di wajah nya.
Lin Lin sama sekali tidak menjawab apapun, dia hanya menatap datar dewa Lian kemudian segera saja bersiap untuk melakukan penyerangan terhadap dewa Lian.
"Kalau begitu kita mulai saja. Harap salah satu di antara kalian bersedia untuk menjadi wasit," ucap dewa Lian kepada salah satu dewa di sana.
Dengan cepat salah satu dewa maju ke depan, itu adalah dewa yang selalu mencari masalah dengan Lin Lin. Maksudnya adalah dewa yang selalu diutus oleh pimpinan tertinggi untuk membawakan kabar berita jelek itu kepada dirinya.
"Aku akan menjadi wasit untuk kalian berdua. Tentu saja larangan dalam pertarungan ini adalah apabila salah satu dari kalian mengangkat tangan kiri nya atau mengucapkan kata menyerah, maka tidak boleh diserang lagi. Tidak boleh sampai membunuh seseorang. Apakah kalian paham?" ucap dewa itu dengan tatapan mata yang mendadak serius.
Lin Lin dan dewa Lian secara serempak menganggukkan kepala mereka. Tentu saja mereka paham dengan hal itu. Lagi pula perdebatan mereka itu murni didasari oleh rasa sombong dari dewa Lian dan rasa tertantang dari Lin Lin. Mereka sama sekali tidak memiliki dendam pribadi.
__ADS_1
...****************...
Oh iya, untuk Xie Jun Hao, dan keluarga Lin Lin yang lainnya yang ditinggalkan oleh Lin Lin bakal diceritakan di "Takdir sang tuan putri" yaaa.