
Di saat Lin Lin sedang memikirkan alasan apa yang harus dia gunakan untuk berbohong kepada semua orang yang ada di sana, Xie Jun Hao tiba-tiba saja berbicara kepada semua orang dengan suara yang lantang.
Dengan suara Xie Jun Hao yang terdengar keras, semua orang jadi memperhatikan Xie Jun Hao dan melepas pandangan mereka dari Lin Lin.
"Ah, kalian semua mengapa salah paham begitu dengan Lin Lin? Padahal Lin Lin mengundang kalian semua karena dia rindu dengan kalian. Oh ayolah, apa salahnya untuk merasa rindu. Aku benar kan, ayah? Tidak salah kan jika seseorang merasa rindu? Ayah dulu juga begitu, tiba-tiba memanggil ku untuk datang ke dalam hutan dimana saat itu ayah sedang berada hanya karena ayah merasa rindu kepada ku," ucap Xie Jun Hao tiba-tiba saja membuat Xie Shan Nu menjadi terdiam.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Xie Jun Hao. Dulu Xie Shan Nu juga pernah melakukan hal yang lebih ekstrim daripada yang dilakukan oleh Lin Lin saat ini.
Malahan Xie Shan Nu sampai memaksa Xie Jun Hao untuk datang ke dalam hutan, di mana saat itu Xie Shan Nu memang sedang tinggal di dalam hutan, dengan cara paksa.
Satu hal yang masih diingat oleh Xie Jun Hao sampai sekarang adalah ketika Xie Jun Hao berusaha untuk bersabar pada ayah nya yang tiba-tiba saja memanggil dirinya untuk datang. Xie Jun Hao terus bersabar dan mengatakan dalam hatinya, untung saja bahwa orang yang memanggil dirinya adalah ayah nya, jika bukan ayah nya mungkin Xie Jun Hao akan menghajar orang itu.
Xie Shan Nu juga mengingat saat-saat itu ketika Xie Jun Hao secara tiba-tiba saja mengungkit permasalahan itu. Tentu saja Xie Shan Nu merasa malu dengan hal itu.
Jadi Xie Shan Nu hanya bisa menganggukkan kepalanya ketika mata nya bertemu dengan mata Xie Jun Hao.
"Yah, sebenarnya itu normal. Aku juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang sedang Lin Lin lakukan saat ini. Lagi pula rindu itu wajar. Jadi aku sendiri tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi," ucap Xie Shan Nu sambil berdeham sesekali untuk menyingkirkan rasa canggung di sana.
Semua orang menjadi terdiam, jika Xie Shan Nu telah berkata bahwa rindu itu wajar dan Xie Shan Nu sendiri sudah pernah melakukan hal yang sama dengan yang Lin Lin lakukan saat ini, maka mereka semua tidak ada hak lain untuk bertanya.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin memang itu wajar. Maaf jika kami begitu cerewet Lin Lin," ucap Liu Jin sambil menatap Lin Lin dengan perasaan bersalah yang pekat di mata pria itu.
Lin Lin menggelengkan kepalanya dengan senyuman di wajah nya, "Tidak, itu wajar jika kalian merasa aneh. Aku sendiri juga merasa sedikit aneh. Maaf jika mengganggu kalian semua."
Setelah mengatakan itu semua, Lin Lin menolehkan kepala nya ke samping untuk menatap Xie Jun Hao dengan tatapan yang dalam. Lin Lin tersenyum kepada Xie Jun Hao, senyuman itu mengartikan rasa terima kasih dari lubuk hati Lin Lin.
Xie Jun Hao tentu saja menangkap maksud dari senyuman dan tatapan Lin Lin, jadi Xie Jun Hao juga balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Lin Lin.
"Oh iya, Lin Lin, bagaimana dengan persiapan perayaan bulanan kedua bayi ini?" tanya Wei Lian Shen.
Lin Lin menatap ke arah ayah nya kemudian menatap kedua bayi nya, "Mungkin akan segera dilaksanakan. Jika tidak dalam tiga hari ini, maka akan dilakukan di hari selanjutnya. Intinya perayaan itu akan dilaksanakan tidak lewat dari satu minggu ke depan."
Lin Lin tersenyum kepada ibu nya. Andai saja jika Liu Mei tahu apa alasan mengapa Lin Lin mengadakan perayaan itu dengan cepat. Sayangnya Liu Mei tidak tahu bahwa hidup nya sebentar lagi akan segera berakhir.
"Ibu jangan khawatir, aku sendiri memang sengaja agar perayaan dibuat dengan cepat. Tenang saja ibu, tidak akan ada kesalahan pada perayaan itu. Lagi pula tampaknya kedua bayi itu tidak terlalu suka perayaan yang sangat mewah. Mereka tidak keliatan gila harta, makanya mereka sama sekali tidak menggunakan perhiasan emas saat ini," ucap Lin Lin dengan senyuman di wajah nya.
Liu Mei menghela nafas nya, seperti biasa, Lin Lin selalu keras kepala dan tidak mau kalah. Karena itulah, Liu Mei memilih untuk mengalah daripada berdebat dengan Lin Lin.
Lin Lin terkekeh pelan ketika melihat ibu nya terlihat pasrah ketika menghadapi dirinya. Lagi pula memang Lin Lin tidak ingin waktu perayaan untuk kedua bayi nya itu dilaksanakan dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Lin Lin ingin secepat mungkin menyelesaikan seluruh masalah nya di dunia ini sebelum akhirnya dia akan pergi dari dunia itu selama-lamanya.
Makanya Lin Lin terlihat terburu-buru saat ini.
"Oh iya Lin Lin, apakah kedua bayi kembar ini memiliki masalah? Maksud kami adalah apakah mereka sedikit rewel?" tanya Yang Xue Lin dengan tatapan mata yang berbinar ke arah si kembar.
Lin Lin menatap Yang Xue Lin dengan senyuman manis, "Tidak terlalu rewel. Malahan mereka bisa dikatakan sangat penurut."
Yang Xue Lin merasa sangat antusias ketika membicarakan tentang anak-anak yang lucu. Tentu saja itu semua karena Yang Xue Lin juga adalah seorang ibu. Jadi dia merasa senang ketika membicarakan seorang anak-anak.
"Benarkah? Sama sekali tidak memangsa terus menerus dan tidak terbangun di tengah malam?" tanya Yang Xue Lin dengan bersemangat.
Lin Lin menganggukkan kepalanya, syukurlah kedua bayi kembar nya ini tidak rewel seperti bayi pada umumnya yang suka sekali menangis dan terbangun di tengah malah. Jadi Lin Lin bisa tidur dengan tenang di malam hari tanpa harus menjaga kedua bayi itu.
Yang Xue Lin membuka mulut nya dengan tidak percaya, tetapi Yang Xue Lin juga merasa takjub dengan kedua bayi itu karena tidak terbangun di tengah malam.
"Kau sangat beruntung Lin Lin, coba saja dulu anak ku juga begitu. Mungkin aku akan merasa sangat tenang," ucap Yang Xue Lin diakhiri dengan tawa semua orang di sana.
Lin Lin juga ikut tertawa, berbincang ringan seperti ini memang sangat menyenangkan bagi dirinya.
__ADS_1
...****************...