
Itu adalah masakan ibu dan nenek nya. Rasanya sangat sangat lezat. Sayangnya itu adalah makanan terakhir yang bisa Lin Lin nikmati dari nenek dan ibu nya.
Ketika mengingat hal itu, Lin Lin kembali menjadi sedih. Tetapi dengan cepat Lin Lin segera menghilangkan rasa sedih nya karena takut akan ketahuan oleh yang lainnya yang ada di ruangan itu.
Sayangnya Xie Jun Hao telah melihat perubahan ekspresi wajah Lin Lin yang begitu cepat. Jangan lupa bahwa Xie Jun Hao selalu memperhatikan Lin Lin sejak pria itu mendapatkan kabar bahwa Lin Lin akan segera meninggal.
Xie Jun Hao tentu saja sedih, tetapi dia tahu bahwa dia harus berpura-pura tidak tahu di hadapan Lin Lin agar wanita itu tidak akan merasa lebih sedih lagi.
Xie Jun Hao juga harus terlihat tegar demi ketiga anak nya yang masih dalam usia yang muda.
Tentu saja hal itu tidak mudah untuk dilakukan oleh Xie Jun Hao yang telah mencintai istri nya selama ini.
Xie Jun Hao sejak dahulu sudah menunggu untuk kedatangan dari cincin takdir nya. Dan ketika Xie Jun Hao berhasil memperjuangkan cincin takdir nya hingga wanita itu jatuh cinta padanya, nyatanya umur wanita itu tidak panjang seperti umur nya yang telah berusia ratusan tahun.
Hal itu adalah hal yang paling Xie Jun Hao sesali. Mengapa dia harus berumur panjang dibandingkan dengan istri nya yang masih sangat muda tetapi malah dengan cepat diambil oleh para dewa?
Tetapi mau bagaimanpun juga, Xie Jun Hao harus tetap terlihat tegar di hadapan semua orang dan bersikap seolah-olah tidak ada yang salah dari sikap Lin Lin saat ini.
Tentu saja itu adalah hal yang sulit, tidak mungkin akan menjadi hal yang mudah.
Lin Lin menatap ke arah Xie Jun Hao yang berada di samping nya. Lin Lin merasa bingung karena Xie Jun Hao malah melamun di hadapan nya saat ini.
__ADS_1
"Jun Hao? Jun Hao?" panggil Lin Lin dengan suara yang pelan.
Xie Jun Hao tersentak pelan kemudian menatap ke arah Lin Lin dengan tatapan yang menyesal karena telah melamun.
"Ya? Ada apa Lin Lin?" tanya Xie Jun Hao bersikap seolah-olah dirinya tidak ada salah.
Lin Lin menghela nafas nya, sejujurnya Lin Lin telah menyadari sikap Xie Jun Hao yang sangat berbeda dari biasanya hari ini. Sesekali Lin Lin juga menangkap bahwa Xie Jun Hao memperhatikan dirinya sejak tadi pagi beberapa kali secara diam-diam.
"Apakah kau sakit? Apakah makanan nya tidak enak? Apakah dokumen kekaisaran menumpuk sangat banyak sampai kau memikirkan nya begitu serius?" tanya Lin Lin tak mengerti dengan Xie Jun Hao yang mendadak melamun.
Xie Jun Hao menatap Lin Lin dengan tatapan yang dalam setelah mendengar pertanyaan dari Lin Lin.
Andai saja bahwa Lin Lin tahu yang sedang Xie Jun Hao lamunkan adalah dirinya, pasti Lin Lin akan merasa sangat sedih.
"Tidak, Lin Lin. Tentu saja makanan nya sangat enak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu, itu saja kok," kata Xie Jun Hao kemudian memaksakan dirinya sendiri untuk tersenyum di hadapan Lin Lin.
Lin Lin menatap Xie Jun Hao dengan tatapan menyelidik. Lin Lin mempunyai firasat bahwa Xie Jun Hao saat ini sedang berbohong. Tetapi Lin Lin tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan setelah mengungkap kebohongan Xie Jun Hao. Jadi Lin Lin memilih untuk mengiyakan perkataan Xie Jun Hao saja.
"Baiklah kalau begitu. Lanjutkan makan mu jika memang enak. Jangan sampai kami bekerja dengan sia-sia tetapi makanan yang kami masak tidak dihabiskan," ucap Lin Lin dengan senyuman di wajah nya yang cantik.
Xie Jun Hao tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis yang tidak hilang dari wajah nya.
__ADS_1
Lin Lin yang melihat senyuman manis itu hanya menatap dengan tatapan yang sedikit aneh. Tetapi karena merasa tidak penting, Lin Lin memilih untuk mengabaikan senyumannya Xie Jun Hao dan kembali melanjutkan makan nya.
Setelah semua orang selesai makan, para anak-anak langsung pergi ke taman untuk bermain. Tetapi untuk Xie Hao Ran dan Xie Hao Lan, kedua bayi itu masih berada di dalam ruang makan karena mereka berdua sedang digendong oleh Xie Shan Nu dan juga Wei Lian Shen.
Sedangkan para orang dewasa tetap diam di tempat duduk mereka.
Piring-piring yang ada di atas meja makan telah dibersihkan oleh para pelayan dengan cepat. Para pelayan dan pengawal yang ada di sana juga segera keluar dari ruang makan itu karena merasa bahwa suasana di dalam ruang makan terlihat serius.
"Lin Lin, sebenarnya sedari tadi aku merasa sangat aneh," ucap Liu Jin mulai berbicara dengan suara yang agak ragu karena Liu Jin takut salah berbicara intinya.
Lin Lin mengangkat sebelah alis nya dengan raut wajah bertanya, wajah Lin Lin menggambarkan seolah-olah Lin Lin sedang bertanya, mengapa kau berkata seperti itu.
Liu Jin yang menyadari arti dari raut wajah Lin Lin segera saja menatap Lin Lin dengan raut wajah yang lebih aneh lagi.
"Mengapa kau mengundang kami semua sekaligus untuk datang ke istana? Bahkan kau sampai mengundang Kaisar Mo dan juga Yang Xue Lin yang ada di Benua Kiri. Mereka sampai harus datang dari Benua Kiri," ucap Liu Jin mengutarakan pendapat nya.
Lin Lin terdiam setelah mendengar pertanyaan itu. Lin Lin tahu dan sangat sadar bahwa semua orang yang ada di sana pasti merasa bingung dengan dirinya yang tiba-tiba saja mengundang semua orang sekaligus untuk datang ke istana.
Tetapi Lin Lin sendiri juga tidak bisa menjelaskan nya karena tidak tahu harus bagaimana dijelaskan. Lin Lin menghela nafas. Saat ini Lin Lin mencoba untuk mencari alasan yang tepat untuk dikatakan kepada semua orang di sana.
Sayangnya Lin Lin tidak bisa mencari alasan yang tepat selain merasa rindu. Itu tidak akan cocok. Jawaban merasa rindu itu akan terasa aneh jika dikatakan kepada orang yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Itu tidak akan terdengar masuk akal apabila Lin Lin berkata bahwa dia merindukan mereka semua. Lin Lin bisa memanggil dan mengundang mereka satu per satu apabila Lin Lin memang benar-benar merasa rindu. Lin Lin menjadi bingung ketika memikirkan hal ini.
...****************...