
Tabib yang tadi memeriksa kondisi Lin Lin adalah tabib turun-temurun dari kekaisaran Benua Kanan.
Keluarga tabib tersebut selalu menjadi tabib kekaisaran karena keahlian mereka yang luar biasa. Makanya Xie Jun Hao sedikit ragu memikirkan apakah tabib itu telah salah menilai orang atau tidak.
Lin Lin sendiri juga sedang dalam kondisi hati yang kurang baik, jadi melihat Xie Jun Hao yang tampak merenung dan malah berfikir panjang hanya untuk memikirkan siapa yang akan dia dukung, Lin Lin menjadi sangat marah.
"Jun Hao, aku memberikan mu peringatan sekarang. Minggir atau aku benar-benar akan marah pada mu," ujar Lin Lin sambil menatap tajam gadis yang masih melotot itu.
Xie Jun Hao malah semakin ragu ketika mendengar ancaman Lin Lin. Di satu sisi, Xie Jun Hao tidak mau tidak membela Lin Lin. Tetapi di sisi lain, Xie Jun Hao meras kasihan pada gadis itu.
"Yang mulia permaisuri, mohon percaya pada hamba. Hamba benar-benar tidak memasukkan apapun selain obat ke dalam cairan itu. Yang mulia permaisuri, mungkin hamba dijebak. Mohon, mohon maafkan hamba. Mohon memeriksa terlebih dahulu dengan baik. Mohon beri hamba keadilan," ucap gadis itu semakin keras menangis sambil bersujud di lantai.
Saat ini kepala gadis itu sudah menyentuh dahi untuk mendapatkan permohonan maaf dari Lin Lin.
Xie Jun Hao menjadi semakin ragu, apabila gadis itu memang hanya pura-pura lemah dan tidak tahu apapun tentang racun itu maka dia tidak perlu sampai menundukkan dan juga mengetuk lantai menggunakan dahi nya bukan?
Karena rasa kasihan itu, Xie Jun Hao membuat sebuah keputusan yang akan sangat membuat Xie Jun Hao merasa menyesal.
"Lin Lin, maafkan dia. Mungkin dia memang tidak bersalah dan ada yang menjebak dirinya. Bagaimana jika kita memeriksa kebenaran nya terlebih dahulu? Setelah itu kita akan langsung mengetahui apakah dia bersalah atau tidak," ucap Xie Jun Hao sambil menatap Lin Lin.
Lin Lin menatap Xie Jun Hao dengan tatapan yang sangat tidak percaya. Lin Lin tidak menyangka bahwa suami nya akan membela orang lain daripada dirinya sendiri.
Lin Lin kemudian menatap Xie Yu Ra, "Apakah kau mendukung ibu atau mendukung ayah mu, Rara?" tanya Lin Lin.
__ADS_1
Xie Yu Ra jelas saja langsung menjawab dengan cepat pertanyaan mudah seperti itu.
"Tentu saja aku berada di pihak ibu. Ayah bahkan tidak bisa melihat bahwa perempuan jelek itu sedang berpura-pura agar mendapatkan rasa kasihan dari ayah," ucap Xie Yu Ra dengan tatapan tidak suka ke gadis itu.
Xie Jun Hao menjadi serba salah. Jika dia bukan seorang kaisar yang sedang memikirkan banyak hal, maka Xie Jun Hao akan dengan egois pergi ke pihak istri dan anak-anaknya.
Sayangnya posisinya sebagai seorang kaisar membuat Xie Jun Hao harus berfikir rasional dan tidak bisa sembarangan mengambil keputusan sesuka hatinya.
Xie Jun Hao menghela nafas nya dengan lab kemudian berbalik badan untuk menatap gadis yang masih berlutut sambil menangis itu.
"Kau bisa pergi sekarang. Tenang saja, aku akan menenangkan istri ku. Selagi itu, lebih baik kau mencari siapa yang berusaha untuk menjebak mu. Jika tidak mungkin aku akan menyatakan bahwa kau memang bersalah dan berniat menyakiti seorang permaisuri," ucap Xie Jun Hao sambil menatap gadis itu.
Gadis itu segera saja menganggukkan kepalanya dengan cepat dan berkata, "Terima kasih banyak yang mulia kaisar atas ampunan nya. Yang mulia permaisuri, mohon maafkan hamba. Hamba berjanji akan membawa orang yang menjebak hamba ke hadapan yang mulia permaisuri."
"Lin Lin, aku tahu bahwa kau berpikir bahwa gadis itu telah berbohong dan sedang bersandiwara. Aku juga memikirkan hal yang sama. Tetapi apakah bisa kau menahan nya sebentar saja? Kita perlu mengetahui keadaan yang sebenarnya. Mau bagaimana pun juga, tabib kekaisaran adalah penyokong penting dalam kekaisaran ini. Dan lagi, aku butuh tabib kekaisaran itu untuk merawat dirimu," ucap Xie Jun Hao berusaha untuk membujuk Lin Lin.
"Jadi saat ini kau sedang membujuk ku untuk tidak membunuh seseorang yang berusaha untuk membunuh ku?" tanya Lin Lin dengan nada yang kesal.
Xie Jun Hao menghela nafas nya lagi, kali ini lebih dalam, "Bukan begitu, Lin Lin. Aku tentu saja marah karena dia berusaha untuk menyakiti dirimu. Tetapi kita perlu tahu bukan, apakah ada orang di balik dirinya atau tidak."
Lin Lin terdiam, dia memang tidak memikirkan mengenai hal itu. Lin Lin benar-benar lupa mengenai apakah ada orang di balik gadis itu atau tidak hanya karena emosi semata.
Karena itulah, Lin Lin sampai merasa begitu marah dan hendak membunuh gadis itu menggunakan jurus nya.
__ADS_1
"Rara, apakah kau bisa membawakan minum untuk ibu mu? Ayah ingin membicarakan sesuatu dengan ibu mu," ucap Xie Jun Hao sambil menatap Xie Yu Ra dengan senyuman manis di wajah nya.
Xie Yu Ra, meksipun masih berumur lima tahun, dapay mengerti apa arti dari tatapan Xie Jun Hao itu. Pastilah ayah nya itu ingin berbicara suatu hal yang penting kepada ibu nya dan tidak boleh didengar anak-anak seperti dirinya.
Karena itulah, Xie Yu Ra segera saja menganggukkan kepalanya dan pergi dari kamar menuju ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Lin Lin.
"Lin Lin, bisa kau katakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?" tanya Xie Jun Hao dengan nada yang sangat tenang.
Bukan, mungkin lebih tepat untuk dikatakan sebagai berpura-pura untuk terlihat tenang. Xie Jun Hao sejujurnya sangat mencemaskan tentang Lin Lin.
Tetapi Xie Jun Hao tetap diam karena berfikir mungkin nanti Lin Lin akan menceritakan nya dengan sendirinya. Nyatanya, setelah kejadian pingsan hari ini, Xie Jun Hao menjadi tidak bisa tenang.
Xie Jun Hao malah menjadi semakin panik dan akhirnya tidak bisa untuk diam tenang melihat betapa pucat nya Lin Lin.
"Jun Hao, jika ku katakan bahwa kau sendiri tidak tahu, aku harus bagaimana?" tanya Lin Lin dengan suara yang pelan dan menundukkan kepalanya.
Xie Jun Hao menatap Lin Lin dengan tatapan yang sangat sabar, "Tidak apa-apa. Itu wajar. Kau tidak perlu untuk mengetahui semuanya. Tetapi Lin Lin, cobalah untuk menceritakan apa yang kau rasakan belakangan ini? Cobalah untuk menggambarkan rasa sakit mu. Beritahu aku agar aku bisa sedikit membantu dirimu."
Lin Lin menatap Xie Jun Hao kali ini dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian tak berselang lama, Lin Lin malah meneteskan air matanya perlahan semakin deras.
"Aku minta maaf Jun Hao, aku hanya merasa sakit terus menerus di daerah jantung ku," ucap Lin Lin menangis tertahan.
...****************...
__ADS_1