Mengejar Tuan CEO

Mengejar Tuan CEO
67. Suatu tempat


__ADS_3

"Apakah anda sudah menunggu lama?" tanya Lin Lin merasa tidak enak dengan dewa Wen karena membuat nya harus menunggu dirinya dengan lama karena dirinya berbicara dengan pimpinan tertinggi itu cukup lama.


Dewa Wen menggelengkan kepalanya, "Tidak, tadi aku hanya pergi mengurus beberapa urusan di istana ini. Jadi aku tidak menunggu terlalu lama."


Lin Lin menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan dewa Wen. Syukurlah bahwa dewa itu sama sekali tidak menunggu dirinya dengan cukup lama karena Lin Lin merasa tidak enak.


Dewa Wen masih tetap seperti biasanya, dia masih terlihat sangat datar dan dingin. Walaupun begitu Lin Lin tahu bahwa dewa Wen adalah dewa yang baik.


Melihat Lin Lin sedang melamun, dewa Wen memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu untuk menyadarkan Lin Lin dari lamunan nya.


"Hei, jadi apa keputusan mu? Ingin mengulang hidup mu dari awal atau biasa disebut reinkarnasi atau kau ingin menjalankan syarat yang ditawarkan oleh pimpinan tertinggi?" tanya dewa Wen kepada Lin Lin tanpa basa-basi sama sekali.


Lin Lin menatap kaget ke arah dewa Wen, mengapa dewa Wen tiba-tiba saja berkata seperti itu? Apakah mungkin selama ini dewa Wen sudah tahu rencana dari pimpinan tertinggi itu? Lalu mengapa selama perjalanan ke istana dewa Wen sama sekali tidak mengatakan apapun?


"Karena pimpinan tertinggi mengatakan kepada diriku untuk diam dan membiarkan dia yang akan mengatakan hal itu kepada mu sendiri. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain diam dan tidak memberitahukan dirimu tentang ini," ucap dewa Wen dengan cepat menjawab pertanyaan yang ada di kepala Lin Lin.


Lin Lin menganggukkan kepala nya paham. Lin Lin sejenak lupa bahwa dewa Wen bisa membaca pikiran orang lain. Makanya Lin Lin bebas berpikir apapun yang dia mau.


"Jadi apa pilihan mu?" tanya dewa Wen masih dengan raut wajah yang datar.


"Aku memilih untuk menjalankan syarat yang diberikan. Aku tidak mau memulai hidup ku dari nol," ucap Lin Lin dengan tekad yang bulat.

__ADS_1


Dewa Wen menganggukkan kepalanya, "Itu memang pilihan yang menyenangkan. Sayangnya jika kau tidak memulai dari nol, kau akan terus dibayangi dengan kenangan suami dan anak-anak mu di sini."


Lin Lin menatap dewa Wen dengan tatapan mata yang tegas, "Tenang saja, aku tidak akan menyesali keputusan ku ini."


Dewa Wen menganggukkan kepalanya dan tidak menjawab apapun lagi karena dewa Wen sendiri tidak peduli dengan apa yang akan Lin Lin lakukan. Lagipula itu sama sekali bukan urusan dirinya. Jadi lebih baik dia diam saja daripada mengatakan hal lain.


Dewa Wen kemudian dengan cepat berjalan lurus dengan agak cepat sehingga membuat Lin Lin harus cepat-cepat mengejar dewa Wen.


Setelah beberapa lama mereka berdua berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah ruang istana yang terlihat sangat tertutup dan juga sangat gelap.


Lin Lin sebenarnya sedari tadi bertanya-tanya ke mana dia akan dibawa. Sayangnya, walaupun dewa Wen bisa membaca pikiran orang lain, dia sama sekali tidak mengatakan apapun pada Lin Lin tentang tempat yang akan mereka tuju.


Jadi Lin Lin memutuskan untuk bertanya secara langsung tanpa peduli apakah dia akan dijawab atau tidak oleh dewa Wen.


"Tempat apa sebenarnya ini? Mengapa anda membawa saya kemari? Apakah ini ada hubungan nya dengan tugas yang harus saya jalankan?" tanya Lin Lin secara beruntun.


Dewa Wen menghela nafas nya, mengapa dia perlu bertemu dengan seseorang yang sangat cerewet seperti wanita yang ada di samping nya ini? Mengapa dia harus mengurus wanita yang tidak tahu takut ini?


Padahal setiap jiwa yang akan diantar ke ruang reinkarnasi selalu menangis kalau tidak mereka akan merasa takut. Tetapi berbeda dengan Lin Lin yang malah penasaran dan banyak bertanya.


Hal ini membuat dewa Wen merasa sangat lelah bahkan hanya untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang Lin Lin tanyakan di dalam hati nya.

__ADS_1


"Ini adalah ruangan di mana kau akan lahir kembali ke dunia asal mu untuk menjalankan tugas dari pimpinan tertinggi," ucap dewa Wen.


Tetapi bukannya terdiam, Lin Lin malah semakin bertanya-tanya. Tentu saja hal ini membuat dewa Wen sangat risih sekaligus kesal. Sayangnya tugas nya untuk mengantarkan Lin Lin hanya tinggal satu langkah lagi, jadi dia tidak boleh menyerah kali ini karena dia sudah berjuang cukup lama untuk menahan rasa penasaran Lin Lin yang tidak pernah habisnya itu.


"Mengapa tempat ini begitu suram? Bahkan dipenuhi dengan sarang laba-laba? Bukankah ini tempat di mana aku akan bereinkarnasi? Mengapa malah terlihat tidak terurus? Apakah ini sebenarnya bukan tempat untuk bereinkarnasi? Apakah kau malah akan melakukan sesuatu padaku seperti mengambil kekuatan dalam diriku?" tanya Lin Lin dengan sangat cemas.


Dewa Wen menjadi terdiam dan terkejut setelah mendengar tuduhan dari Lin Lin. Bahkan ekspresi wajah datar dewa Wen telah sepenuhnya berubah menjadi ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya bahwa dirinya dituduh seperti itu.


Setelah beberapa saat merasa terkejut dengan ucapan yang Lin Lin katakan, pada akhirnya dewa Wen kembali tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Lin Lin dan dewa Wen langsung saja meledak di tempat.


"Kau! Mana mungkin aku akan melakukan hal jahat seperti itu. Walaupun aku terlihat datar dan terlihat jahat, sebenarnya aku adalah orang yang baik. Lain kali jangan seenaknya menuduh seseorang.


"Tempat ini terlihat suram karena ini bukan tempat reinkarnasi pada umumnya. Jika kau mau reinkarnasi seperti biasanya di mana semua ingatan mu akan terhapus dan kau akan lahir menjadi seorang bayi, maka aku tidak perlu membawa mu ke istana ini.


"Tempat ini khusus dibuat untuk kasus-kasus tertentu seperti saat ini. Seperti kau yang akan diberikan tugas untuk memberikan kedamaian kepada seorang gadis yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya," jelas dewa Wen dengan panjang lebar.


Bahkan Lin Lin agak kaget ketika mendengar teriakan dari dewa Wen karena dirinya salah menuduh pria itu. Tentu saja Lin Lin merasa bersalah.


"Maafkan aku, aku hanya merasa cemas bahwa kau akan mengambil kekuatan ku atau melakukan sesuatu yang jahat karena kau membawa ku ke tempat yang bahkan lebih mirip disebut sebagai rumah hantu," ucap Lin Lin dengan raut wajah yang sangat menyesal.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2