
Pria muda itu menggelengkan kepalanya, "Sayangnya dia adalah berkat yang kami berikan padamu. Itulah mengapa aku mengunjungi mu di hari itu. Memberikan mu secangkir air berkah yang membuatmu hamil anak kembar. Itu semua sudah diatur oleh tuan tertinggi. Nyonya muda, kau hanya bisa menjalani hidup sesuai dengan apa yang telah diatur oleh tuan tertinggi."
Lin Lin menatap pria muda itu dengan tatapan yang sangat kesal kemudian berbalik untuk menatap sekeliling.
"Lalu apakah ini dunia yang kau buat? Lalu ilusi mengenai kakak ku tadi, mengapa aku bisa melihat sosok kakak ku tadi?" tanya Lin Lin dengan tatapan yang sangat kesal.
Pria muda itu menghela nafas nya kemudian menatap Lin Lin dengan tatapan yang bersalah.
"Maafkan aku, aku fikir kau bisa menjadi sedikit berbahagia apabila kau melihat sosok yang sudah lama kau rindukan. Makanya aku membuat ilusi untukmu. Dan mengenai taman ini, ini adalah alam bawah sadar mu. Mimpi mu, bukan aku yang membuat nya. Aku hanya masuk ke dalam alam bawah sadar mu untuk memberitahukan hal ini kepada dirimu," ucap pria muda itu lagi.
Lin Lin menatap pria muda itu. Pria itu adalah seorang dewa, tetapi bisa-bisanya dia terlihat seperti sesosok manusia yang menuruti perintah atasan nya.
"Kau benar, aku tidak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa menuruti perintah dari tuan tertinggi. Aku sendiri sebenarnya merasa bersalah pada dirimu," ucap pria muda itu sambil menundukkan kepalanya.
Lin Lin menatap dengan bingung, "Apa maksudnya?"
Pria muda itu menggelengkan kepalanya, "Tuan tertinggi berpesan pada ku untuk memberitahu mu sesuatu. Jika kau benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi maka kau harus menunggu sampai aku memanggil dirimu. Maka dari itu tidak perlu merasa penasaran terlebih dahulu, jalankan hidup mu dengan sebaik-baiknya agar kau tidak akan merindukan keluarga mu setelah kau meninggal. Maafkan aku."
Lin Lin mengernyitkan dahi nya yang entah keberapa kali di dalam mimpi itu, "Apakah permintaan maaf itu juga dari nya?"
Pria muda itu menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak. Tuan tertinggi tidak akan meminta maaf karena dialah yang maha kuasa. Permintaan maaf itu tulus dari diriku sendiri."
Lin Lin mendengus dengan dingin kemudian menatap kesal ke arah pria itu. Tetapi sejujurnya saat ini Lin Lin sedang merasa sedih karena mendapatkan kabar bahwa hidup nya sudah tidak lama lagi.
__ADS_1
Lin Lin akhirnya menghela nafas nya dan memutuskan untuk berhenti berdebat dengan pria yang saat ini berada di hadapan nya.
Mungkin pria di hadapan nya ini tidak bersalah. Mungkin yang bersalah adalah tuan tertinggi yang dimaksud oleh pria itu. Lin Lin sendiri sebenarnya tidak tahu mengapa dirinya akan meninggal secepat ini.
Lin Lin sangat ingin tahu apa alasan nya. Tetapi sayangnya jika Lin Lin ingin mengetahui alasan mengapa dia meninggal dengan cepat maka dia akan tidak sempat menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.
"Pagi telah tiba. Saatnya lah bangun nyonya muda. Jangan membuat suami dan anak mu merasa khawatir. Aku akan mengembalikan mu ke dunia nyata. Selama pagi nyonya muda. Dan sampai jumpa lagi, tetapi aku tidak ingin terlalu cepat berjumpa dengan mu lagi nyonya muda. Nikmati hidup mu," ucap pria muda itu kemudian menjentikkan jari nya.
Setelah itu, Lin Lin benar-benar menghilang dari taman bunga itu meninggalkan dewa muda yang sedang termenung.
"Nyonya muda, maafkan aku. Jika aku boleh jujur aku juga tidak mau membuat mu dan seluruh keluarga mu terpisah. Sayangnya kami adalah seorang dewa. Dewa harus lepas dari hal-hal yang berbau manusiawi, termasuk kasih sayang keluarga."
Pria muda itu sekali lagi menghela nafas nya kemudian ikut menghilang dari sana bagai sebuah asap.
Melihat betapa senang nya Xie Jun Hao dan Xie Yu Ra menatap dirinya, Lin Lin menjadi sangat bingung. Memangnya ada apa dengan kedua orang itu sampai menatap dirinya dengan begitu senang?
"Mengapa kalian berdua menatap ku seperti itu?" tanya Lin Lin tak mengerti.
Xie Yu Ra segera saja menjawab dengan cepat bahkan sebelum Xie Jun Hao sempat mengatakan sesuatu sebagai jawaban dari pertanyaan dari Lin Lin.
"Ibu, apakah ibu benar-benar tidak tahu apa yang membuat kami merasa senang? Ibu sudah tidur terlalu lama. Apakah ibu tahu? Ibu bahkan melewatkan jam sarapan karena tidur terlalu lama," ucap Xie Yu Ra dengan raut wajah panik yang masih tersisa.
Xie Jun Hao menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Xie Yu Ra. Bahkan saat ini Xie Jun Hao juga tidak bisa menyembunyikan raut wajah panik nya di hadapan Lin Lin.
__ADS_1
Lin Lin menggaruk kepala nya dengan bingung kemudian memiringkan kepalanya, "Memangnya aku tidur selama itu? Mengapa kalian tidak membangunkan aku saja?"
Xie Jun Hao dan Xie Yu Ra dengan kompak menggelengkan kepalanya. Lin Lin menatap kedua orang itu dengan tatapan yang bingung. Ayah dan anak ini tumben sekali menjadi kompak?
"Ibu keliatan sangat lelah. Jadi aku dan ayah tidak tega untuk membangunkan ibu dari istirahat ibu. Jadi kami memilih untuk membangunkan ibu. Bahkan disaat Xie Hao Lan telah bangun, kami segera membawa Lan Lan pergi dari kamar agar suara tangis nya tidak membuat ibu terbangun," ucap Xie Yu Ra dengan raut wajah yang bangga.
Lin Lin tahu apa maksud raut wajah yang saat ini sedang ditunjukkan oleh Xie Yu Ra. Gadis itu pastilah meminta pujian dari dirinya.
Maka dari itu, Lin Lin segera mengangkat tangan nya kemudian mengelus kepala Xie Yu Ra dengan lembut. Xie Jun Hao menjadi cemberut ketika melihat hal itu.
Lin Lin melihat ke arah Xie Jun Hao yang cemberut. Lin Lin merasa tidak percaya melihat sikap manja pria itu. Apakah pria itu sudah lupa bahwa dia adalah ayah dari tiga anak? Ada apa dengan ekspresi cemberut itu?
"Ada apa? Mengapa kau bersikap cemberut seperti itu Jun Hao?" tanya Lin Lin merasa sedikit kasihan pada Xie Jun Hao yang cemberut seperti itu.
Xie Jun Hao menggelengkan kepalanya bersikap seolah-olah dia tidak merajuk dan tidak cemberut.
Tetapi sayangnya hal itu tidak berhasil karena Xie Yu Ra telah terlebih dahulu tertawa kemudian berjalan mendekati Lin Lin yang masih duduk di atas kasur.
Xie Yu Ra kemudian berbisik di telinga Lin Lin tetapi suara nya kasih dapat di dengar oleh Xie Jun Hao.
"Ibu, mungkin ayah juga ingin dipuji dan dielus kepala nya," ucap Xie Yu Ra dengan kekehan di akhir kalimat nya.
...****************...
__ADS_1