
Saat mendengar kabar bahwa Tarsa mendapatkan beasiswa dari universitas yang terkenal, ayah Tarsa sangat senang. Sayangnya Tarsa membuat kebahagiaan ayah nya itu menjadi jatuh karena Tarsa lebih memilih untuk masuk ke jurusan musik dan seni daripada jurusan bisnis seperti akuntansi ataupun manajemen.
Emma sama sekali tidak menceritakan kenapa Tarsa memilih jurusan seni daripada jurusan yang berhubungan dengan bisnis. Mungkin itu semua karena Tarsa sama sekali tidak menceritakan nya pada Emma.
"Emma, dari mana kau sampai tahu sedetail itu? Apakah kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Tarsa dengan raut wajah yang sudah lebih baik.
Emma menggelengkan kepalanya lagi kemudian mulai menggerakkan tangan dan jari nya.
Dari apa yang Emma peragakan, dia tidak terlalu lama bekerja di sini. Dia baru saja bekerja di kediaman Etoire sejak Tarsa lulus kuliah dan pulang ke negara itu.
Apa yang sedari tadi Emma ceritakan semuanya diceritakan sendiri dari mulut Tarsa.
Tarsa memang suka sekali bercerita kepada seseorang yang menurut nya dekat dengan dirinya ketika Tarsa merasa sangat lelah dengan kehidupan.
"Begitu.... Lalu kapan kau dan Tarsa, maksudku. Kapan kau dan aku bertemu?"
Emma mulai bercerita lagi. Saat itu Tarsa menjadi seorang sukarelawan yang memberikan sumbangan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Saat itu Tarsa melihat ada seorang gadis yang tengah mencuci baju di sumur. Gadis tersebut bekerja dengan cekatan dan tulus tanpa merasa lelah sedikit pun.
Tentu saja Tarsa merasa sangat tertarik pada seseorang yang bisa bekerja keras sampai seperti itu.
Tetapi Tarsa tidak langsung menghampiri gadis tersebut. Tarsa bukan orang yang humble dan friendly. Dia hanya merasa tertarik sejenak saja.
Tetapi selama beberapa hari, setiap hari nya, Tarsa selalu datang secara diam-diam dan menyamar untuk melihat keadaan gadis yang dia lihat waktu itu.
__ADS_1
Tarsa sudah dapat menduga bahwa gadis yang dia lihat adalah sosok pekerja keras. Tetapi Tarsa tak pernah menduga bahwa gadis itu sangat-sangat bekerja keras.
Beberapa kali Tarsa melihat gadis itu disiksa dan dipukul padahal gadis itu tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi hati nurani Tarsa saat itu hanya bisa terdiam.
Tarsa tidak muncul langsung untuk menghentikan gadis itu dipukul, tetapi Tarsa dengan kepintaran nya melemparkan batu-batu kecil ke arah orang yang memukul gadis itu.
Barulah setelah beberapa lama Tarsa melemparkan batu itu kepada orang tersebut, orang tersebut berhenti memukul Tarsa.
Tarsa mengikuti arah ke mana gadis itu pulang. Tetapi yang membuat Tarsa terkejut adalah, gadis itu berjalan ke arah hutan dan di saat malam dia tidur di atas tumpukan semak-semak sebagai alas dengan sebuah kain yang sudah robek sebagai selimut.
Tarsa terhenyak, apakah kehidupan ini begitu sulit? Bahkan disaat gadis itu dipukuli, Tarsa sama sekali tidak mendengar jeritan kesakitan dari gadis tersebut.
Pada akhirnya Tarsa menghela nafas nya dan kemudian dia berjalan mendekati gadis yang saat ini sedang mencoba untuk tertidur itu.
Tentu saja Tarsa tidak memanggil dengan nada yang sombong ataupun semena-mena. Tarsa sama sekali bukanlah orang yang seperti itu.
Hanya saja Tarsa memanggil dengan nada yang datar, itu sudah menjadi ciri khas Tarsa sejak ayah nya menikah lagi dengan seorang wanita yang bahkan sama sekali tidak Tarsa tahu.
Tentu saja ketika mendengar panggilan dari seseorang yang entah ditujukan untuk siapa, gadis tersebut yang baru saja ingin mencoba untuk tertidur jadi terbangun.
Tetapi begitu gadis tersebut membuka mata nya dan mendapati bahwa ada sosok gadis cantik dengan kualitas pakaian yang mahal di hadapan nya memanggil dirinya dengan tidak sopan seperti itu membuat gadis tersebut sangat marah dan kesal.
Tarsa saat itu agak terkejut dengan tatapan tajam yang diarahkan kepada dirinya oleh gadis itu. Tarsa sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang tadinya terlihat sangat lemah dan dipukul hingga lebam ternyata bisa menampilkan raut wajah setajam itu.
Tarsa menyeringai tipis. Sepertinya karena rasa tertarik dan pemasaran dalam diri Tarsa, dia menemukan sebuah berlian yang belum diasah sama sekali.
__ADS_1
Ini adalah hal yang bagus. Tentu saja tanpa menyia-nyiakan kesempatan lain, Tarsa mulai membuka suara nya agar dapat membujuk gadis tersebut bekerja dengan dirinya.
"Apakah kau mau membalas dendam pada orang yang telah merendahkan dirimu?" tanya Tarsa dengan raut wajah yang tersenyum kepada gadis tersebut.
Tentu saja setelah mendengar apa yang dikatakan oleh gadis dengan pakaian mahal di hadapan nya ini membuat gadis lusuh itu menjadi sangat bingung.
Sejujurnya, sekedar informasi saja, Tarsa saat itu sama sekali tidak mengenakan pakaian mewah apapun. Dia bahkan hanya menggunakan anting kecil saja di telinga nya, hanya itu perhiasan yang dia gunakan.
Tetapi mata gadis lusuh itu sama sekali tidak buruk, dia dapat menilai barang bagus hanya dengan sekali pakai. Makanya dia sama sekali tidak akan tertipu dengan penampilan gadis asing yang berpakaian sederhana ini padahal kualitas kain dari pakaian yang dipakai Tarsa saat itu adalah kualitas terbaik.
Gadis di hadapan Tarsa terdiam sejenak tetapi kemudian dia menganggukkan kepala nya dengan pelan.
Tarsa tersenyum, "Bagus, sekarang katakan siapa nama mu?" tanya Tarsa lagi.
Gadis tersebut berusaha keras untuk membuka mulut nya dan mengeluarkan suara dari tenggorokan nya, namun tidak ada satupun suara yang terdengar.
Tentu saja dalam sekali lihat Tarsa tahu apa yang sedang terjadi di hadapan nya.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak tahu. Sebentar, aku akan mempermudah komunikasi kita," ucap Tarsa segera mencari sesuatu di dalam tas yang dia bawa.
Tarsa segera saja mengeluarkan benda yang dia cari setelah mendapatkan nya di dalam tas.
"Ketik saja apa yang mau kau katakan di ponsel ku," ucap Tarsa memberikan ponsel nya kepada gadis tersebut tanpa peduli apakah ponsel tersebut akan kotor atau tidak jika dipegang oleh gadis di hadapan nya.
...****************...
__ADS_1