Mengejar Tuan CEO

Mengejar Tuan CEO
52. boneka kayu misterius


__ADS_3

"Apa maksud dari perkataan anda tadi?" tanya Lin Lin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dewi Zhou.


Dewi Zhou terkekeh pelan, tentu saja Lin Lin tidak akan pernah mengerti maksud dari perkataan nya karena apa yang dia katakan adalah sebuah rahasia yang sebenarnya tidak boleh diungkapkan pada siapapun.


"Jujur saja, benda itu sebenarnya berasal dari dunia atas. Tetapi untuk detail apa benda itu, aku sama sekali tidak bisa memberitahu nya pada dirimu. Jadi mohon maklumi," ucap dewi Zhou dengan senyuman lembut di wajah nya yang sama sekali tidak hilang.


Lin Lin menganggukkan kepalanya dengan cepat, tentu saja Lin Lin mengerti bahwa ibu mertua nya ini tidak boleh mengatakan sesuatu yang merupakan sebuah rahasia. Jadi Lin Lin tidak akan bertanya lebih jauh lagi karena dewi Zhou tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


"Kalau begitu kau sudah selesai untuk berpamitan dengan seluruh keluarga mu yang ada di istana ini bukan? Apakah masih ada yang ingin kau berikan dalam perpisahan lagi? Jika masih ada maka lakukan lah sekarang, aku sudah menghubungi atasan ku untuk memberikan waktu sedikit lebih banyak kepada mu agar kau bisa memberikan salam perpisahan kepada seluruh keluarga mu," ucap dewi Zhou masih dengan senyuman yang entah mengapa tidak pernah hilang.


Lin Lin juga membalas senyuman dari dewi Zhou, kemudian Lin Lin membalas dengan sebuah gelengan kepala kepada dewi Zhou.


"Tidak, hanya mereka saja yang ingin aku berikan salam perpisahan terakhir, karena aku tahu jika aku ingin memberikan salam terakhir kepada seluruh kerabat ku maka itu akan membutuhkan waktu yang sangat banyak," ucap Lin Lin segera saja menolak tawaran dari dewi Zhou.


Dewi Zhou kemudian menganggukkan kepalanya dengan sangat lembut kemudian menatap ke arah Xie Yu Ra yang masih tertidur nyenyak tanpa tahu bahwa ketika dia akan terbangun besok hari, Xie Yu Ra tidak akan pernah bisa melihat ibu nya untuk terakhir kali nya.


"Ku rasa ada baiknya putri mu melihat mu untuk yang terakhir kali nya," ucap dewi Zhou masih sambil menatap ke arah Xie Yu Ra dengan tatapan mata yang sangat lembut.


Lin Lin menggelengkan kepala nya setelah mendengar ucapan dari dewi Zhou. Jika Lin Lin melihat putri nya dan mendengar Xie Yu Ra memanggil nya dengan panggilan ibu dalam waktu yang dekat, takutnya Lin Lin akan menjadi lemah dan jadi tidak mau meninggalkan dunia ini.

__ADS_1


"Kau yakin? Meskipun aku tidak terlalu ingat, tetapi aku tahu bahwa rasanya sangat tidak enak dan sangat menyakitkan karena harus berpisah dengan anak kita sendiri tanpa membiarkan mereka melihat wajah ibu nya untuk terakhir kalinya," ucap dewi Zhou dengan nada suara yang mendadak sedih. Bahkan wajah cantik dewi Zhou telah berubah menjadi raut wajah yang sangat sedih.


Hal itu sangat terlihat di wajah dewi Zhou karena sedari tadi dewi Zhou hanya sibuk untuk tersenyum, tetapi ketika dewi Zhou malah merubah raut wajah nya menjadi sangat sedih, hal itu membuat Lin Lin menjadi sangat kaget.


"Kita masih bisa membicarakan hal itu ketika menuju perjalanan ke dunia atas, jangan khawatir," ucap dewi Zhou dengan senyuman nya yang sangat manis, eskpresi wajah sedih dari dewi Zhou sudah lenyap secara seketika.


"Baiklah, kalau memang tidak ada lagi yang ingin kau lakukan, maka kita akan segera berangkat ke dunia atas," ucap dewi Zhou kembali tersenyum dengan lembut.


Lin Lin hanya menjawab dengan anggukan kepala nya meskipun dia tidak tahu dia akan menggunakan apa untuk pergi ke dunia atas.


Dewi Zhou tampaknya bisa membaca ekspresi wajah Lin Lin sehingga dewi Zhou hanya terkekeh pelan saja ketika melihat wajah Lin Lin yang terlihat ragu.


"Kita akan menggunakan awan ini untuk pergi ke dunia atas. Sejujurnya aku bisa saja pergi ke sana dengan teleportasi secara langsung, hanya saja seorang manusia sangat dilarang untuk berteleportasi dengan seorang dewa. Jadi aku hanya bisa membawa mu dengan awan ini. Ayo naik," ucap dewi Zhou menjelaskan dengan ramah kepada Lin Lin.


Lin Lin segera saja menganggukkan kepalanya kemudian memijakkan kaki nya ke atas awan yang sangat lembut itu.


"Sayangnya sudah malam hari, jadi awan yang bisa ku panggil hanyalah awan gelap. Maafkan aku," ucap dewi Zhou dengan agak sedih.


Lin Lin menggelengkan kepalanya dengan lembut, senyuman di wajah nya timbul, meskipun sebenarnya itu adalah senyuman yang dipaksakan.

__ADS_1


"Seorang manusia bahkan sangat mustahil untuk bisa menaiki sebuah awan. Mana mungkin aku akan mengeluh hanya karena ini adalah awan gelap. Aku seharusnya berterima kasih kepada dewi Zhou telah mengizinkan ku menaiki awan sehingga dapat membuat momen yang menyenangkan ini," ucap Lin Lin dengan senyuman nya walaupun sebenarnya dia sedang bersedih.


Tentu saja hanya ada orang bodoh yang tidak menyadari bahwa Lin Lin sebenarnya saat ini sedang bersedih, jadi dewi Zhou segera saja menatap Lin Lin dengan tatapan mata yang sangat serius kemudian menghela nafas nya.


"Jangan memaksakan dirimu untuk tersenyum jika kau sedang sedih, Lin Lin. Kau bisa menangis jika kau mau. Karena kau punya hak untuk menangis," ucap dewi Zhou sambil menatap Lin Lin dengan tatapan mata yang cukup dalam.


Lin Lin menggelengkan kepalanya, "Aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Mana mungkin aku akan menangis. Walaupun sebenarnya rasanya sangat menyakitkan karena harus meninggalkan orang yang kita sayangi."


Dewi Zhou terdiam setelah Lin Lin mengatakan hal itu, karena Lin Lin memang sudah berkata seperti itu, maka dewi Zhou tidak perlu lagi berkata apapun.


"Omong-omong, maaf sebelumnya jika aku terkesan lancang. Tetapi jika aku boleh tahu, apa maksud dari perkataan dewi Zhou saat kita berada di kamar putri ku?" tanya Lin Lin dengan penasaran.


Dewi Zhou menolehkan kepala nya ke arah Lin Lin dengan tatapan mata yang bingung tetapi setelah beberapa saat tatapan bingung itu tampaknya telah hilang entah ke mana.


"Oh, maksudmu tentang seorang anak yang aku miliki itu, tetapi aku pergi dari anak ku tanpa memberikan perpisahan terakhir yang manis?" tanya dewi Zhou dengan begitu mudah nya menyebut hal seperti itu.


Lin Lin menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya Lin Lin agak kikuk karena bertanya hal yang agak pribadi kepada dewi Zhou.


"Walaupun pimpinan tertinggi ku tidak pernah mengatakan apapun tentang hal ini, tetapi aku tahu bahwa ingatan ku telah dihapus. Para dewa lain juga sering membicarakan hal itu secara diam-diam di belakang ku, tentu saja aku bisa mendengar nya. Hanya saja aku harus berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2